Matcha telah menjadi minuman global yang populer, identik dengan kualitas dan tradisi teh Jepang yang kental. Namun, siapa sangka bahwa sensasi kelezatan bubuk teh hijau premium ini kini berhasil diproduksi dengan kualitas terbaik oleh tangan-tangan terampil petani teh Indonesia.
Inilah kisah inspiratif dari Kelompok Tani Mulia di Bandung, Jawa Barat, yang berhasil membuktikan bahwa teh rakyat lokal mampu diolah menjadi produk unggulan berkelas internasional, memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kesejahteraan petani.
Dari Pucuk Basah Menjadi Bubuk Premium
Banyak orang mengira matcha hanyalah teh hijau biasa yang dihaluskan. Padahal, proses pembuatan matcha memiliki standar khusus, mulai dari pemilihan daun, cara budidaya, hingga teknik pengolahan. Matcha berasal dari daun tencha, yang ditanam dengan metode shading (peneduhan) agar klorofil meningkat sehingga warna bubuk menjadi hijau pekat, rasa lebih umami, dan kandungan antioksidan lebih tinggi.
Melalui observasi dan pelatihan, petani Indonesia mulai mengembangkan teknik tersebut agar hasil matchanya tidak hanya sekadar serupa, tetapi juga berkualitas kompetitif untuk pasar global.
Terletak di Desa Margamulya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Kelompok Tani Mulia telah berdiri kokoh sejak tahun 2009 dan mengelola sekitar 62 hektar kebun teh yang melibatkan 125 anggota.
Selama ini, banyak petani teh hanya menjual daun atau pucuk basah dengan harga yang relatif rendah. Melalui inovasi pengolahan, Kelompok Tani Mulia mengubah keadaan tersebut. Dengan membagi divisi kerja (budidaya, pengolahan, dan pemasaran), mereka mampu menciptakan produk hilir seperti matcha yang secara drastis meningkatkan nilai jual komoditas teh.
Ketua Kelompok Tani Mulia, Ibu Tin Supartika, menyampaikan bahwa produk unggulan ini telah membantu meningkatkan ekonomi anggota secara signifikan. Mereka tidak lagi hanya menjual pucuk basa, tetapi dapat menghasilkan bahan baku berkualitas yang bernilai tinggi.
Mengadopsi Rahasia Kualitas Matcha ala Jepang
Kunci keberhasilan Kelompok Tani Mulia terletak pada kemauan mereka untuk mengadopsi dan mengimplementasikan standar pengolahan matcha dari negara asalnya, Jepang. Proses ini dimulai dari pemetikan khusus hingga tahapan akhir penggilingan:
1. Pengukusan (Steaming) Singkat
Daun teh yang dipetik secara khusus untuk matcha akan melalui proses pengukusan atau steam. Langkah ini krusial untuk deaktivasi oksidasi yang merupakan ciri khas pengolahan matcha di Jepang. Proses steam dilakukan sangat singkat, maksimal hanya 1 menit, untuk menjaga tampilan dan kualitas teh agar tidak berubah.
2. Gilingan Batu Jepang
Setelah melalui proses pelayuan, pengukusan, pendinginan, dan pengeringan (yang memakan waktu 2–3 jam) teh akan masuk ke tahap penggilingan akhir. Untuk menghasilkan bubuk yang super halus, kelompok ini mengadopsi dan mengkustomisasi gilingan batu dari Jepang. Penggunaan batu alam sebagai penggiling dipilih karena sifatnya yang lebih dingin dibandingkan mesin blender biasa, sehingga menjaga kualitas dan warna bubuk matcha.
3. Sortir Akhir (Fibro)
Proses tidak berhenti setelah penggilingan. Untuk memastikan bubuk yang dihasilkan benar-benar murni dan berwarna hijau pekat, mereka menggunakan alat sortir khusus yang memisahkan tulang-tulang daun teh yang masih tersisa.
Melalui serangkaian proses yang detail dan terkontrol ini, petani teh Indonesia berhasil menciptakan bubuk matcha yang memiliki kualitas setara dengan standar Jepang.
Pemberdayaan dan Kemandirian Petani
Inovasi pengolahan ini membawa dampak positif yang meluas, tidak hanya sebatas harga jual produk. Kelompok Tani Mulia kini bahkan bisa dikatakan mandiri.
Kemandirian ini memungkinkan kelompok untuk memenuhi kebutuhan anggotanya mulai dari keperluan pribadi, sekolah, hingga kendaraan melalui sistem simpan pinjam dan kebutuhan sembako. Mereka bahkan mampu menolak bantuan dari pihak luar karena kelompok sendiri dapat memenuhi kebutuhan tersebut, mencerminkan semangat "dari kita untuk kita".
Selain matcha, kelompok ini juga memproduksi berbagai produk turunan teh lainnya, seperti Black Matcha, Ciwidey Oolong, Black Tea Asamika, Green Coloni, dan Pechong. Hal ini menunjukkan bahwa teh rakyat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk diolah menjadi beragam produk spesial.
Sensasi matcha ala Jepang yang kini hadir dari perkebunan teh Indonesia adalah bukti nyata inovasi dan semangat pantang menyerah petani lokal. Keberhasilan Kelompok Tani Mulia di Bandung ini tidak hanya menghasilkan produk premium berkelas dunia, tetapi juga menjadi model bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian petani di seluruh Indonesia.
Ini adalah kabar baik bagi industri agribisnis, tak perlu lagi mencari jauh-jauh ke Jepang, karena Indonesia memiliki bahan baku dan keahlian untuk menghasilkan matcha berkualitas tinggi.
Tonton video selengkapnya di YouTube