Petani teh dalam industri teh, tidak semata mata hanya berperan sebagai pemasok bahan baku teh berupa pucuk teh. Saat ini banyak berkembang produk teh hasil petani dari beberapa daerah yang telah memiliki merk atau brand sendiri. Beberapa produk teh rakyat masuk kategori artisan dengan teknik produksi lebih banyak manual dibanding mekanisasi. Selain itu, produk teh rakyat sebagai teh premium (specialty tea) dengan harga yang cukup mahal, sebut saja white tea, dengan bahan baku khusus serta cara produksi yang berbeda dengan teh jenis lain.
Produk teh yang diproduksi petani dari beberapa daerah di Perkebunan teh, menerangkan bahwa sejatinya petani memiliki harapan terhadap teh, mereka berusaha kreatif untuk mengelola kebun hingga mengolah teh menjadi produk hilir yang ingin disajikan kepada konsumen. Usaha yang dilakukan petani ini merupakan hilirisasi (mengolah menjadi produk akhir) guna mendapatkan nilai tambah dari komoditi teh.
Potensi pasar produk teh rakyat cukup terbuka meskipun tidak terlalu massif. Munculnya kedai teh, café dengan basic minuman teh di perkotaan menjadi target pasar utama dari produk teh rakyat ini. Ditambah dengan kehadiran komunitas teh yang menggaungkan kampanye terhadap konsumsi produk teh lokal cukup membantu membuka akses pasar bagi konsumen. Meski diakui pasar produk teh rakyat masih kalah jauh dengan brand Perusahaan teh konvensional yang lebih dulu lahir.
Usaha hilir teh yang dibangun petani teh tak luput dari dukungan berbagai stakeholder, seperti permodalan, beragam pelatihan, pembinaan diversifikasi produk, teknik pengemasan hingga marketing dan pemasaran yang menjadikan produk akhir teh rakyat dapat dirintis di pasar. Konsep hilirisasi pada komoditi teh tidak hanya sekedar memproduksi produk akhir teh, namun lebih jauh lagi mengajak petani teh untuk mampu berkompetisi sebagai trader/ pengusaha teh yang terlibat dalam pasar industri teh nasional, guna optimalisasi peluang pasar teh dan menjawab tantangan di sektor Perkebunan teh rakyat.