Produksi kakao terus merosot sejak delapan tahun terakhir. Badan Pusat Statistik mencatat produksi kakao terbesar di Indonesia ada pada tahun 2010 dengan produksi sebesar 837 ribu ton.
Tren produksi kakao terus bergerak turun sejak saat itu karena beberapa hal. Banyak tanaman berusia tua dan mulai tidak produkstif. Tanaman tua juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Kondisi kakao Indonesia saat ini sangat disayangkan, mengingat Indonesia adalah salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Penanaman kakao secara massal di Indonesia terjadi pada tahun 1980-an hingga tahun 1995. Produksi kakao Indonesia pernah cukup menjanjikan, hingga mengundang berbagai eksportir dan industri pengolahan kakao setengah jadi ke Indonesia.
Pada acara Temu Lapang Kakao 2018 yang diselenggarakan Selasa lalu (27/11) di Jember, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang Wahyu Dwiantoro menyampaikan bahwa pemerintah bertekad mengembalikan kejayaan kakao Indonesia. Saat ini terdapat 1,7 juta hektar lahan kakao, tetapi produktivitasnya rendah. Produktivitas kakao saat ini baru berada di kisaran 500 – 600 kg per hari produksinya.
Untuk mendorong produksi kakao, maka diperlukan bibit kakao dengan produktivitas tinggi, namun juga tahan hama dan penyakit. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) yang berkantor di Jember meluncurkan bibit unggul kakao ICCRI 09 bersamaan dengan Temu Lapang Kakao 2018. Dilansir dari situs resmi Puslitkoka, iccri.net, kakao ICCRI 09 ini memiliki keunggulan tahan terhadap penyakit VSD, busuk buah, dan hama Helopeltis. Selain itu, bibit memiliki potensi produktivitas tinggi, yaitu rata-rata 2,15 kg/pohon. Keunggulan lain yang dimiliki ICCRI 09 adalah aroma yang lebih kuat dan citarasanya yang merupakan kombinasi dari citarasa bunga (flower) dan kayu-kayuan (woody) disertai citarasa sangraian (roasted) yang lembut, dan di samping citarasa cokelat yang jelas, disertai dengan rasa pahit (bitterness) dan rasa sepat (astringency) rendah.
Tulisan ini merupakan saduran dari berita berjudul “Puslit Kopi Jember Kenalkan Bibit Unggul Kakao IGRI 09” yang telah tayang di suryamalang.com pada tanggal 28 November 2018.
Dewi / Staf Penulis Tanilink