Kopi Kenangan saat ini dikenal sebagai salah satu kedai kopi paling laris di Indonesia. Meski penjualan terdampak pandemi, Kopi Kenangan tetap optimis menambah gerai menjadi 850 gerai hingga akhir tahun 2021.
Siapa sangka, Kopi Kenangan ini ternyata awalnya hanya kedai berukuran 10 meter persegi di sebuah gedung perkantoran di kawasan Jakarta Selatan. Dalam waktu 3 tahun sejak berdiri tahun 2017, Kopi Kenangan telah mampu membuka 430 gerai. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan modal dari para investor. Pada tahun 2019, Kopi Kenangan bahkan sempat menjadi pemberitaan besar karena mendapatkan dana ratusan miliar rupiah dari sejumlah selebritas kelas dunia.
Apa yang membuat para investor mau menanamkan modalnya di Kopi Kenangan?
- Segmen pasar jelas
Sejak awal, Kopi Kenangan ingin menyajikan kopi ala kafe dengan harga yang lebih terjangkau, khususnya kepada kaum muda. Untuk menyasar konsumen berusia muda, salah satu strategi yang digunakan adalah dengan menggunakan kata “kenangan‘ sebagai brand-nya. Berkat brand yang sangat dekat dengan kaum milenial dan mudah diingat, Edward Tirtanata - pemilik Kopi Kenangan, mengatakan tidak menggunakan strategi pemasaran apapun saat awal berdiri.
Meskipun begitu, Kopi Kenangan juga ingin produknya bisa dinikmati oleh konsumen dari semua kalangan. Ini terlihat dari gerai pertama yang berlokasi di area perkantoran, dengan harapan para pekerja senior pun tetap bisa menikmati kopi dengan harga terjangkau. - Unik
Kopi Kenangan dikenal memiliki nama-nama menu yang tidak biasa, seperti Kenangan Mantan, Kenangan Masa Lalu, dan semacamnya, sehingga membuat orang penasaran dengan rasa kopinya. Selain itu, kenangan dimiliki oleh semua orang, sehingga penamaan ini seolah-olah menyentuh pengalaman personal konsumen. - Mengutamakan kualitas produk
Menurut Edward, yang terpenting dari minum kopi adalah minuman kopinya. Maka investasi yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas minuman, sangat dibatasi. Setiap gerai dibuat sekecil mungkin, dengan perabotan seminimal mungkin, dan tanpa wi-fi. Tapi untuk mesin kopi, Edward rela mengeluarkan uang hingga ratusan juta per gerai. Meski telah mendapat kucuran dana besar, kebijakan ini tetap dipegang.(vno)