Login

Teh Putih, Mahal karena Spesial

Dipublikasikan pada 03 Desember 2020 00:00:00

Tea Culture

Teh adalah salah satu minuman paling digemari di dunia. Organisasi pangan dan pertanian di bawah PBB, FAO (Food and Agriculture Organization) mencatat, konsumsi teh dunia tumbuh 4,5% pada periode 2007-2016. Meski bukan tanaman asli Indonesia, minum teh telah menjadi budaya, yang menyatu dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Diperkenalkan sebagai minuman yang menyegarkan tubuh, saat ini teh makin banyak diminum karena manfaatnya bagi kesehatan. Minuman teh kerap dikaitkan dengan pencegahan penyakit degeneratif, seperti kolesterol dan diabetes. Banyak penelitian menunjukkan, teh memiliki katekin, yaitu senyawa yang aktif melawan radikal bebas.

Seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, katekin menjadi salah satu penentu kualitas dalam perdagangan teh. Berbagai inovasi dalam budidaya dan pengolahan dikembangkan untuk menghasilkan citarasa teh terbaik, sembari mempertahankan kandungan katekin di dalamnya.

Mendengar manfaat teh untuk kesehatan, teh hijau mungkin yang pertama kali terlintas di pikiran. Namun ternyata, ada teh lain yang kandungan katekinnya lebih tinggi, yaitu teh putih. Teh putih dikenal sebagai salah satu jenis teh termahal. Harganya bisa menembus jutaan rupiah per kilogramnya. Tingginya harga teh putih karena pucuk daun yang dipetik adalah pilihan.

Teh putih berasal dari pucuk daun teh yang masih menguncup, dimana kandungan katekin tertinggi pada teh ditemukan. Tanaman teh hanya menghasilkan pucuk muda beberapa kali dalam setahun, sehingga hanya bisa dipetik 2 kali dalam setahun untuk produksi teh putih.  Pemetikannya pun harus dilakukan sebelum matahari terik, supaya kuncup tidak membuka. Bahkan di Jepang, tanaman teh dinaungi sekitar sebulan sebelum dipetik.

Karena begitu istimewanya, pemetikan pucuk muda daun teh dilakukan hati-hati, dengan menggunakan tangan. Karena kerumitan proses pemetikan ini, produktivitasnya jauh di bawah teh hitam. Dan karena ini juga, pemetikan pucuk untuk teh putih merupakan salah satu kegiatan yang menyerap banyak pekerja.

Bentuk teh putih yang siap seduh sangat unik. Berbeda dari teh hijau dan teh hitam yang melalui proses pencacahan, teh putih dipertahankan dalam bentuk aslinya. Setelah dipetik, pucuk daun yang masih menggulung segera dilayukan selama beberapa hari. Pelayuan menggunakan hembusan angin dan harus terlindung dari air, yang kemudian dilanjutkan dengan pengeringan di bawah sinar matahari. Pada akhir pengolahan, teh putih berbentuk gulungan memanjang, menyerupai jarum. Sebagian orang menyebutnya “jarum perak“, jika bulu-bulu halus berwarna putih masih melekat pada pucuk muda.

Proses oksidasi, seperti yang dilalui teh hitam, memecah senyawa-senyawa dalam daun teh. Lamanya proses oksidasi mempengaruhi kepekatan warna dan rasa teh. Untuk alasan yang sama, teh putih juga tidak boleh diseduh dengan air mendidih. Air mendidih perlu didiamkan sejenak, hingga mencapai suhu 70 derajat Celcius. Rangkaian proses tersebut menghasilkan seduhan berwarna kuning pucat, lebih bening daripada teh pada umumnya, dengan rasa teh yang sangat ringan, hampir tanpa rasa sepat dan pahit.(vno)