Login

Atasi Kekeringan Pada Lahan Kakao

Dipublikasikan pada 27 April 2020 12:32:08

Chocolate & Cocoa

Dampak perubahan iklim atau yang lebih dikenal dengan climate change berpengaruh terhadap pergantian musim. Tidak lagi dapat diprediksi kapan musim kemarau dan hujan tiba, yang seharusnya sudah mulai hujan justru kemarau berkepanjangan atau sebaliknya. Tentunya perubahan musim yang tidak menentu ini dapat mempengaruhi produksi dan pertumbuhan tanaman kakao.

Kemarau berkepanjangan membuat kekeringan pada lahan kakao. Kekeringan ringan menyebabkan daun kakao layu, tetapi ranting tetap sehat dan daun tetap hijau, kekeringan sedang menyebabkan daun layu berwarna hijau pucat dan ranting serta bakal buah mengering. Sedangkan pada tingkat kekeringan berat menyebabkan daun kering terlihat seperti terbakar, ranting dan akar mengering, buah muda mengering, biji tumbuh cacat dan hasil panen turun 50%.

Melihat dampak kekeringan dapat menurunkan produksi, maka dari itu diperlukan upaya penanggulangan untuk mengurangi (mitigasi) dampak perubahan iklim terhadap komoditas kakao. Berikut beberapa teknik mitigasi yang dapat dilakukan untuk penanggulangan kekeringan:

  1. Pembuatan Rorak
    Rorak adalah galian yang dibuat di sebelah pokok tanaman untuk mendapatkan pupuk organik dan dapat berfunsi sebagai lubang drainase. Pembuatan lubang penampungan air/rorak dapat dikombinasikan dengan penambahan bahan oranik. Ukuran rorak 0,8 x 0,4 x 0,4 m yang dibuat sebanyak 50% dari jumlah pohon contoh dengan letak saling menyilang. Bahan organik berasal dari serasah atau sisa – sisa daun kering.

  2. Pembuatan Istana Cacing (Biopori)
    Istana cacing berfungsi mempercepat dekomposisi bahan organik. Setiap tanaman dibuatkan 2 buah istana cacing dengan lubang atau dari pipa paralon berdiameter 10 - 15 cm yang mempunyai kedalaman 50 cm. Lubang tersebut di isi bahan organik seperti kompos, kotoran ternak atau serasah tanaman guna mendorong berkembangnya populasi cacing tanah, jika populasi cacing tanah sedikit dapat ditambahkan atau diintrodusir dari tempat lain.

  3. Pembuatan Irigasi Tetes (Water Drip)
    Irigasi tetes atau water drip adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan – pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar.

    Pembuatan irigasi tetes dilakukan dengan teknologi sederhana yaitu dengan pemasangan bumbung dengan ukuran ± 1 m atau botol bekas air mineral 1,5 liter sebanyak 1-3 buah/tanaman. Di bagian bawah bumbung/botol dibuat lubang kecil untuk meneteskan air yang dapat membasahi daerah perakaran dan diletakkan dengan jarak 20 cm dengan tanaman. Dengan metode ini air akan berkurang sesuai kebutuhan yang diserap oleh akar.

  4. Pemberian Mulsa dan Bahan Organik
    Mulsa bermanfaat untuk menjaga agregat tanah dan mempercepat tingkat infiltrasi air, dapat meningkatkan aktivitas biologis serta tingkat kesuburan tanah. Mulsa dapat dibuat dari batang pohon pisang yang dibelah dan diletakkan disekitar tanaman kakao dengan jarak 15-20 cm pada akhir musim hujan. Sedangkan bahan organik dilakukan dengan cara dubumbunkan pada daerah perakaran secara melingkar di sekitar leher akar sebanyak 2-4 kg/tanaman.

  5. Pemberian Pupuk Anorganik
    Campuran pupuk anorganik yang terdiri dari urea, SP-36 dan KCL dengan perbandingan (2:1:1) diberikan saat awal atau akhir musim penghujan.

  6. Penanaman Pohon Pelindung Sesuai Kebutuhan
    Pohon pelindung ditanam sebanyak 50% dari jumlah pohon (tanaman muda). Selanjutnya dapat dilakukan penjarangan sesuai dengan kebutuhan hingga 20% (tanaman dewasa).

  7. Pemangkasan
    Pemangkasan secara selektif dilakukan dengan cara membuang bagian tanaman yang tidak produktif, ini berguna untuk mengurangi tingkat transpirasi yang dapat mengawetkan kandungan air tanah. Ada 2 x pemangkasan yaitu pemangkasan berat dan pemangkasan ringan. Pemangkasan berat dilakukan pada awal musim hujan, sedangkan pemangkasan ringan dilakukan pada saat kekeringan yang berkepanjangan.

Dengan beberapa teknik di atas diharapkan tanaman kakao tetap bisa berproduksi dengan baik meski terjadi musim kemarau panjang.(dnst)