Peningkatan gizi keluarga petani harus dimulai dengan adanya kesadaran setiap anggota keluarga mengenai pentingnya makanan bergizi. Namun, sebagian kemudian menyerah di tengah jalan karena menghadapi berbagai kendala, seperti tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan atau tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan makanan bergizi.
Lalu bisakah keluarga petani, yang kerap kali diasosiasikan sebagai keluarga miskin, mampu memenuhi kebutuhan gizinya?
Rahayu mengatakan ada pemahaman salah mengenai makanan bergizi, dan pemahaman ini terlanjur beredar di masyarakat. Makanan bergizi seringkali diidentikkan dengan daging dan makanan-makanan mahal lainnya. Padahal, makanan bergizi adalah makanan yang beragam. Setiap bahan makanan itu punya unsur yang berbeda-beda, sehingga manfaatnya juga berbeda-beda. Daging memiliki protein, tidak salah kalau kita memakannya. Tapi makan daging saja tidak bisa memberikan kita vitamin dan mineral seperti yang kita peroleh dari sayur dan buah.
Rahayu adalah seorang petani perempuan yang aktif memberikan sosialisasi tentang pentingnya kecukupan gizi dalam keluarga. Dia merupakan salah seorang kader gizi di Forum Petani Peduli Gizi (FPPG) yang berdiri tahun 2013.
Selain itu, Tuhan tidak menciptakan hanya satu tumbuhan untuk dimakan. Ada banyak tanaman dan produk hewani di sekitar kita yang murah dan bisa menggantikan bahan makanan yang mahal-mahal. Apalagi untuk para petani, yang dianugerahi pengalaman dan keterampilan untuk menanam berbagai tanaman, bisa menanam sendiri sayur mayur dan buah di pekarangan rumah. Rahayu dan anggota FPPG lainnya mendorong teman-teman petani dan masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah dan potensi sekitar rumah, misalnya dengan menanam berbagai macam sayuran dalam polybag. Karena selama ini, pekarangan rumah hanya dibiarkan kosong dan tanaman pangan di sekitar rumah tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Rahayu dan anggota FPPG lainnya percaya bertani itu perlu tenaga dan kecerdasan. Petani harus sehat dan cerdas supaya tidak terus menerus hidup dalam kemiskinan. Tapi bagaimana bisa sehat dan cerdas kalau makan saja asal-asalan. Kebiasaan makan asal kenyang berdampak bukan hanya ke petani, tapi juga ke anak-anak petani. Rahayu yakin banyak para petani ingin anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, menjadi lebih berprestasi, dan mewarisi usaha mereka. Tapi kalau anak-anak ini kekurangan gizi, mereka akan mudah sakit dan sulit memahami pelajaran di sekolah, sehingga di masa depan mereka akan kurang cekatan dalam bekerja.
Rahayu mengatakan, mengajak teman-teman petani untuk memiliki kebiasaan makan yang sehat bukanlah perkara mudah. Menurut pengalamannya, para petani belum banyak mengetahui soal gizi. Jadi apa yang mereka pilih saat makan biasanya karena kebiasaan, bukan karena manfaat makanannya. Mereka tidak banyak tahu tentang kandungan gizi setiap bahan makanan yang akan mereka konsumsi. Kebiasaan ini juga kadang membuat mereka enggan memvariasikan menu makanan.
Namun FPPG terus berusaha melakukan sosialisasi dengan sabar. Mereka berusaha menjadi contoh bagi masyarakat lainnya, misalnya dengan menunjukkan cara memanfaatkan pekarangan. FPPG Desa Bedana, dimana Rahayu menjadi anggotanya, juga berkomunikasi dengan pemerintah desa mengenai hal ini, dan pemerintah desa sangat mendukung. Pemerintah desa menerbitkan peraturan desa (Perdes) yang di dalamnya mengatur tentang pengelolaan peternakan mandiri agar tidak mengganggu tanaman pangan pekarangan serta himbauan agar setiap orang ikut menanam tanaman sayuran menggunakan polybag. Perdes ini disosialisasikan dalam setiap musyawarah dusun.
Rahayu berharap apa yang telah dilakukan oleh FPPG dapat bisa memotivasi petani-petani lainnya. Tidak hanya di sektor teh, tapi juga petani-petani komoditas lainnya. Petani-petani di masa depan harus lebih baik daripada petani saat ini.