Siapa sangka, ternak unggas seperti entok yang biasanya hanya diidentikkan dengan konsumsi daging kiloan di pasar tradisional, ternyata bisa menjadi ladang bisnis unggas hias bernilai tinggi. Hal inilah yang dibuktikan oleh Mas Imam, seorang peternak muda asal Serumbung, Magelang, Jawa Tengah, pemilik Patmo Farm. Melalui ketekunannya membudidayakan Entok Dragon Hitam atau yang populer dijuluki gosongan, ia berhasil membuktikan bahwa hobi dan ketelitian dalam merawat ternak sanggup mendatangkan rezeki berlimpah.
Berbeda dari entok putih atau jumbo pada umumnya, Entok Dragon Hitam memiliki pesona eksotis yang sering disepadankan dengan ayam Cemani. Ciri khas utamanya terlihat dari warna bulu yang hitam pekat dari leher hingga seluruh badan, serta memancarkan kilau kehijauan saat diterpa sinar matahari. Tidak hanya bulunya, bagian paruh, kaki, hingga kukunya pun didominasi warna hitam. Keunikan visual yang gahar inilah yang membuat jenis entok ini menjadi buruan utama para pencinta unggas hias dan kolektor kontes.
Puncak cerita inspiratif ini bermula saat Mas Imam membawa pejantan unggulannya ke ajang Kontes di Kebumen. Sebelum naik ke podium penilaian, entok seberat 3,5 kg tersebut sudah memikat perhatian pengunjung hingga ditawar seharga Rp1,2 juta. Penawaran tersebut bahkan datang dua kali, yakni tiga hari sebelum acara dan empat jam sebelum kontes dimulai. Namun, dengan intuisi yang kuat bahwa jagoannya memiliki kualitas unggul dibanding kompetitor lain, Mas Imam mantap menolak tawaran bernilai fantastis tersebut demi mempertahankannya sebagai pejantan (pacek) utama di kandangnya.
Keputusan tersebut terbukti sangat tepat. Dalam ajang kontes tersebut, entok milik Mas Imam berhasil menyabet Juara 2 Kelas Warna Dasar. Dewan juri terpesona oleh ketajaman warna hitam pekatnya, kebersihan serta kerapian bulu, hingga proporsi bentuk tubuhnya yang serasi dari paruh sampai ujung ekor.
Gelar juara tersebut langsung berimbas manis pada nilai ekonomis keturunannya. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, sekitar 40 ekor anakan (minti) dari pejantan juara tersebut ludes diborong para penghobi. Total hasil penjualan anakan tersebut bahkan jauh melampaui angka Rp1,2 juta yang sempat ditawarkan sebelumnya. Untuk harganya, Mas Imam mematok minti usia di bawah satu minggu seharga Rp50.000 per ekor, sedangkan minti usia satu bulan dibanderol Rp120.000 per ekor dan telah dikirim hingga ke Lampung Tengah. Sementara untuk kelas dewasa atau siapan kontes, harganya disesuaikan dengan kesepakatan berdasarkan kualitas motif dan postur tubuh.
Dibalik kesuksesan tersebut, ada perawatan konsisten yang dilakukan di Patmo Farm. Untuk pakan harian, Mas Imam memadukan racikan bekatul, nasi karak (nasi sisa), konsentrat, dan jagung giling. Rahasia agar bulu entok tetap rapi dan mengilap terletak pada pemberian suplemen minyak ikan serta rutin memandikan entok dua kali sehari, yakni setiap pagi dan malam. Khusus untuk persiapan kontes, entok akan diisolasi di kandang box tersendiri selama tiga minggu agar bulunya tidak rusak dipatuk sesama unggas. Kebersihan kandang pun dijaga ketat dengan penyemprotan disinfektan secara berkala serta pemberian vaksin tetes mata untuk mencegah penyakit.
Sebagai anggota Kelompok Mentok Sejahtera (KMS) binaan Dinas Peternakan dan Perikanan, Mas Imam melihat peluang entok hias ini masih sangat luas. Saat ini, para peternak juga gencar menyilangkan Entok Dragon Hitam dengan jenis jumbo untuk menciptakan genetik baru berukuran besar dengan warna hitam eksotis. Kisah sukses Mas Imam yang aktif membagikan edukasi di TikTok Entok Hitam Magelang ini menegaskan satu pesan penting bagi para peternak muda, dengan keuletan dan inovasi, bisnis peternakan tak akan pernah mati.
Cek video inspiratifnya di Youtube Tanilink TV