Login

Mantan Jurnalis Banting Setir Jadi Petani Edible Flowers. Modal Lahan Sempit, Omzet Tembus Rp1 Juta Per Kilogram

Dipublikasikan pada 28 Oktober 2026 11:51:30

Inspirasi Petani

Menghabiskan waktu dua tahun berkarir di media TV dan majalah Jakarta ternyata tak lantas membuat Usman Hadi (Adis) merasa menemukan jati dirinya. Berbekal latar belakang pendidikan ilmu komunikasi, Adis mengambil keputusan berani untuk pulang ke Bandung dan menggali kembali kegemaran masa kecilnya pada dunia bercocok tanam. Dari pencarian tersebut, ia menemukan peluang bisnis bunga yang dapat dikonsumsi (edible flowers) yang pasarnya sudah terbentuk di Indonesia namun pemainnya masih sangat terbatas.

Pada tahun 2018, Adis resmi mendirikan Eat Flower Farm di Lembang, Jawa Barat. Berawal dari status reseller karena belum memiliki lahan sendiri, usaha ini terus berkembang hingga kini beroperasi dengan lima karyawan dan area kebun mandiri.

Menembus Niche Market Premium

Sebagai niche product, target pasar bunga konsumsi sangat spesifik, meliputi hotel bintang empat dan lima, restoran fine dining, hingga katering specialist event untuk pernikahan artis dan pejabat. Untuk menembus pasar premium ini, Adis harus menjamin standar kebersihan dan keamanan pangan yang ketat.

Eat Flower Farm memproduksi 23 jenis edible flowers (seperti Viola pencil, Dianthus, hingga varietas langka Baby Blue Forget-Me-Not), 8 jenis microgreens (seperti tendril dan red sorrel), 2 jenis herbs (Cherville dan Thai Basil), serta sayuran premium (Blue Radish dan Watermelon Radish).

Seluruh komoditas dibudidayakan secara organik di kebun yang steril, jauh dari polusi asap kendaraan, serta bebas pestisida. Metode penanamannya menggabungkan sistem NFT (Nutrient Film Technique), adaptasi hidroponik menggunakan media sekam bakar dan rockwool serta media tanah langsung untuk tanaman berukuran besar.

HPP Rendah Beromzet Tinggi

Dari segi finansial, agribisnis bunga konsumsi memiliki struktur biaya yang unik. Investasi terbesar berada di awal untuk pembangunan infrastruktur greenhouse dan instalasi sistem. Namun, setelah sarana berproduksi, Harga Pokok Produksi (HPP) menjadi sangat rendah karena tanaman dapat dipanen setiap hari selama masa produktif 6 hingga 8 bulan.

  • Bunga Dianthus (Bestseller)

    Mampu dipanen hingga 1.000 kuntum per hari dengan potensi omzet mencapai Rp1.000.000 per sekali panen.

  • Herbs & Sayuran Premium

    Komoditas seperti Cherville, Red Sorrel, hingga radish premium dibanderol menembus Rp1.000.000 per kilogram.

Peluang Baru Agribisnis Modern untuk Gen Z dan Milenial

Kisah sukses Eat Flower Farm membuktikan bahwa sektor pertanian modern menawarkan kebebasan finansial dan fleksibilitas kerja yang tinggi tanpa harus terikat rutinitas kantor.

“ Kalian jangan pernah takut untuk mengeksplorasi apa yang kalian suka... Bertani enggak selamanya harus kotor-kotoran dan tinggal di desa. Kamu bisa tinggal di kota, nongkrong dengan teman-temanmu tiap hari, dan mengelola keuanganmu sendiri tanpa harus kerja di kantor tiap hari.
— Usman Hadi