Login

Tinggalkan Karir di Jakarta, Pemuda Batang Beralih Kelola 5.400 Pohon Pisang Tanduk di Lahan 3,8 Hektar

Dipublikasikan pada 19 Oktober 2026 16:08:55

Inspirasi Petani

BATANG - Keputusan melepaskan pekerjaan tetap di ibu kota demi kembali ke Desa sering kali dipandang sebagai langkah yang berisiko. Namun, hal tersebut justru menjadi titik balik kehidupan Muhammad Fata Ullinuha (Fata), pemuda asal Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih , Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Meski berlatar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan sempat meniti karir di Jakarta, Fatah memutuskan pulang kampung untuk membudidayakan 5.400 pohon pisang tanduk di lahan seluas 3,8 hektar.

Alasan Mulia di Balik Keputusan Pulang Desa

Sejak jenjang SMP di Magelang, SMA di Semarang, kuliah di Bandung, hingga bekerja di Jakarta, Fatah telah terbiasa hidup merantau. Faktor utama yang mendorongnya meninggalkan pekerjaan perkotaan adalah keinginan kuat untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang tuanya yang kian sepuh. Di samping itu, dorongan untuk berwirausaha serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar menjadi pemicu utama langkah beraninya.

Memulai bisnis pertanian tidak selalu membutuhkan modal awal yang besar. Fatah mengoptimalkan resources yang telah dirintis ayahnya dengan merubah pola tanam. Jika sebelumnya lahan sewa difokuskan untuk pohon sengon dengan pisang sebagai tanaman tumpang sari, Fatah membaliknya dengan menjadikan pisang tanduk sebagai komoditas utama.

Pemilihan varietas pisang tanduk didasarkan pada pertimbangan manajemen risiko karena varietas ini dinilai paling tahan terhadap serangan virus Fusarium. Selain itu, Fatah berhasil menekan biaya bibit hingga hampir Rp0 dengan memanfaatkan anakan dari indukan pisang yang sudah tersedia di kebun. Dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 meter, Fatah kini mengelola total 5.400 pohon pisang di lahan seluas 3,8 hektar.

Menghadapi 'Nyinyiran' dan Tantangan Alam

Perjalanan Fatah tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di awal keputusannya, ia sempat menerima cibiran dari beberapa tetangga yang mempertanyakan keputusannya memegang cangkul meski berpendidikan tinggi. Namun, dukungan penuh dari keluarga serta niat untuk memberdayakan warga desa membuatnya tetap teguh.

Di samping kendala sosial, tantangan teknis seperti lahan tada hujan saat musim kemarau dan tingkah satwa monyet dari hutan perhutani sekitar kebun yang memakan bagian tengah (galih) pohon pisang juga menjadi bagian dari dinamika bertani. Bagi Fatah, pisang tanduk relatif tergolong low maintenance. Kunci utamanya terletak pada kecukupan air, pemupukan NPK secara teratur, serta pemangkasan rutin pada daun tua yang menguning.

Inovasi Hilirisasi dan Penetrasi Pasar Digital

Tidak berhenti pada penjualan pisang mentah ke tengkulak, Fatah melakukan langkah hilirisasi produk untuk meningkatkan nilai tambah. Ia memproduksi salai pisang tanduk dehidrator tanpa bahan pengawet atau gula tambahan, yang diberi topping kacang-kacangan dan biji-bijian sebagai alternatif camilan sehat.

Latar belakang DKV dan pengalamannya di bidang pemasaran ia manfaatkan untuk mendokumentasikan proses bertani menjadi konten digital di media sosial. Hasil dokumentasi ini tidak hanya memberikan pendapatan tambahan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan Kementerian Pertanian hingga pesanan e-commerce melalui merek hagemi.id. Dari aliran kas (cash flow) bisnis pisang tanduk ini, Fatah juga mengembangkan usahanya ke lini kolaborasi madu murni lokal serta pembangunan greenhouse hidroponik.

Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda

Fatah membuktikan bahwa sektor pertanian di pedesaan memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola secara peka terhadap peluang dan inovasi. "Ketika kita punya niat atau berupaya buat mensejahterakan orang lain, enggak mungkin kita enggak sejahtera," ungkapnya. Bagi generasi muda yang ingin memulai usaha di desa, Fatah menyarankan untuk memetakan resources, keterampilan, koneksi, serta peluang yang ada di sekitar tanpa perlu takut untuk memulai.

Cek video inspiratifnya di Youtube Tanilink TV