Login

Sulap Kamar Kos Jadi Kamar Ayam: Rahasia Urban Farming Bebas Bau dan Lalat di Tengah Kota

Dipublikasikan pada 07 Oktober 2026 12:01:28

Urban Farming

Bayangkan sebuah kamar kos di tengah padatnya Kota Bandung tidak diisi oleh penghuni manusia, melainkan menjadi tempat tinggal puluhan ayam petelur. Bagi kebanyakan orang, gagasan beternak ayam di pemukiman padat terdengar tidak masuk akal karena bayangan bau menyengat, lalat, dan belatung. Namun, Agus (yang akrab disapa Bebeng) berhasil membuktikan sebaliknya melalui peternakan Jalu Farm yang ia bangun di dalam ruang sempit.

Bermula dari Kekhawatiran dan Ruang Sempit

Latar belakang proyek unik ini berawal dari kekhawatiran Bebeng membaca situasi masa depan dan bacaan tentang eskatologi. Ia terdorong untuk memikirkan cara paling sederhana dalam menjaga ketersediaan protein harian khususnya telur langsung dari dalam rumah. Dengan keterbatasan lahan kota dan tanpa halaman rumput, ia memanfaatkan satu ruang kamar kos yang biasanya digunakan untuk kunjungan keluarga.

Bebeng sengaja menyebutnya sebagai "kamar ayam" ketimbang kandang, karena ayam-ayam dibiarkan bergerak secara semi-umbaran tanpa sekat kandang baterai. Saat pertama kali mengutarakan ide ini, sang istri sempat menolak keras karena fobia bau dan penyakit. Demi meyakinkan istrinya, Bebeng bahkan memberikan garansi penuh, jika ruangan berbau atau berpenyakitan, seluruh ayam boleh dipotong atau dibagikan.

Rahasia Bebas Bau dan Lalat

Bagaimana bisa kamar kos yang diisi belasan ayam tidak menimbulkan bau sedikit pun? Rahasianya terletak pada penerapan teori mikrobiologi dan racikan pakan herbal.

  • Formula Alas Kandang (Liter)

    Bebeng melapisi lantai kamar dengan campuran pasir, sekam, kapur dolomit, serta kotoran hewan (kohe) ayam dan sapi. Kombinasi ini kaya akan mikrobiologi alami yang mampu mengurai limbah secara efektif.

  • Pencernaan Herbal dan Fermentasi

    Menerapkan keilmuan dari Profesor Bayu Diningrat dan Profesor Ilias, usus ayam dirawat menggunakan jamu-jamuan rempah (formula kuteja). Pakan ayam juga berasal dari limbah organik pasar serta sisa makanan kosan (seperti nasi dan roti bekas) yang diolah melalui proses fermentasi minimal 3 hari. Hasilnya, bau kotoran berkurang drastis dan ayam tetap sehat.

Mengutamakan Kesejahteraan Ayam demi Panen Telur

Meski kamar kos tersebut mampu menampung hingga 100 ekor, Bebeng memilih membatasi populasinya hanya 22 ekor ayam. Ia mengutamakan kesejahteraan dan kebahagiaan ayam agar tidak stres atau berebut ruang. Hasilnya, meskipun terkendala suhu ekstrem khas Bandung, kamar ayam ini konsisten menghasilkan 10 hingga 20 butir telur segar setiap harinya untuk kebutuhan keluarga.

Selain menjamin pasokan protein, merawat ayam di tengah kota memberikan manfaat psikologis sebagai ruang meditatif untuk meredakan tingkat depresi kehidupan perkotaan.

Ke depan, Bebeng menggagas impian tentang gerakan ayam komunal di tingkat RT atau RW. Melalui konsep ini, masyarakat dapat saling menukar limbah dapur organik dengan telur ayam segar. Sebuah langkah kecil dari kamar kos yang terbukti mampu menjawab tantangan ketahanan pangan masyarakat perkotaan secara mandiri.

Simak kisah inspiratifnya di Youtube Tanilink TV