Saat kita mengetikkan pertanyaan ke dalam model Kecerdasan Buatan (AI), jawaban muncul dalam hitungan detik. Di balik kemudahan digital yang terasa tanpa wujud ini, terdapat infrastruktur fisik raksasa yang bekerja tanpa henti dan mengonsumsi sumber daya alam dalam jumlah yang sangat fantastis, terutama air bersih.
Bagi masyarakat awam, hubungan antara AI dan air mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun, bagi para peneliti dan pengembang pusat data (data center), konsumsi air oleh AI kini menjadi isu lingkungan yang sangat mendesak.
Berapa Banyak Air yang Digunakan untuk Satu Pertanyaan AI?
Setiap kali seseorang mengirimkan prompt ke model AI, server di belakang layar akan bekerja keras dan menghasilkan panas yang harus segera didinginkan menggunakan air bersih.
Berdasarkan estimasi peneliti dari University of California, Riverside:
- Satu prompt AI sepanjang 100 kata mengonsumsi sekitar 519 mililiter air.
- Antara 10 hingga 50 kueri pada model berukuran sedang secara tidak langsung menghabiskan sekitar 500 mililiter air, setara dengan satu botol air minum kemasan.
Mengingat ada miliaran pencarian AI yang terjadi setiap hari di seluruh dunia, akumulasi penggunaan air ini sangat masif. Sebuah data center rata-rata dapat menggunakan 300.000 galon air per hari untuk pendinginan, yang setara dengan konsumsi air 100.000 rumah tangga. Bahkan pada fasilitas tertentu, konsumsinya bisa melonjak hingga 4 juta galon air per day.
Sayangnya, sebagian besar air yang digunakan untuk pendinginan data center ini tidak kembali ke siklus air lokal karena dikirim melalui menara pendingin (cooling towers), menyerap panas dari server, lalu menguap menjadi uap air.

Mengapa Server AI Sangat Panas?
Penyebab utama tingginya konsumsi air ini terletak pada komponen pemrosesan AI. Data center, seperti fasilitas yang beroperasi di Ohio, menampung ribuan rak server yang menggerakkan ekonomi digital.
Chip komputer yang dirancang khusus untuk memproses AI berkinerja sangat tinggi dan menghasilkan suhu yang sangat panas saat beroperasi. Beberapa rak server bahkan menghasilkan daya termal melebihi 30 hingga 50 kilowatt. Tanpa sistem pendinginan air yang konstan untuk membuang panas tersebut, server dapat mengalami kegagalan fungsi.
Konflik Sosial dan Ancaman Krisis Air Bersih
Peningkatan permintaan energi dan air oleh data center mulai memicu ketegangan sosial di berbagai wilayah. Di area yang mengalami krisis air (di mana ketersediaan air turun di bawah 1.700 meter kubik per orang per tahun), warga mulai memprotes pembangunan data center. Masyarakat mempertanyakan kelayakan mengalokasikan air minum untuk infrastruktur digital saat irigasi pertanian dan kebutuhan domestik dibatasi.
Di Amerika Serikat, proses dewatering dalam pembangunan data center Amazon sempat menyedot air tanah yang diandalkan warga lokal untuk air minum. Selain itu, fasilitas data center baru juga terus dibangun di wilayah yang rawan air seperti Meksiko, di saat lebih dari 2 miliar orang di dunia masih berjuang mendapatkan akses air bersih yang cukup.
Saat ini, data center menyumbang sekitar 2% dari konsumsi listrik global dan 4% dari konsumsi listrik Amerika Serikat (yang diperkirakan akan berlipat ganda dalam 3 tahun ke depan). Jika permintaan energi naik hingga 400% pada tahun 2030, tekanan terhadap sumber daya air dan pembangkit listrik akan kian membesar.
AI memang luar biasa, tapi bumi yang sehat dan air bersih jelas tak tergantikan. Kemajuan teknologi akan terasa jauh lebih keren kalau kita semua dari pengembang hingga pengguna bisa sama-sama menjaga bumi tetap lestari