Login

28 Tahun Menanam Bambu, Umi Lora Ubah Lahan Bekas Tebangan Jadi Hutan yang Menghidupkan Mata Air

Dipublikasikan pada 17 September 2026 12:26:07

Inspirasi Petani

Panggilan jiwa untuk mencintai dan merawat alam melahirkan dedikasi luar biasa tanpa batas. Hal inilah yang dibuktikan secara nyata oleh Lora Marianda Putri, sosok wanita inspiratif yang akrab disapa Umi Lora. Berlokasi di Blok Sagun (Kem Rimbauan), daerah Ciater, Subang, tepatnya di kaki Gunung Tangkuban Perahu pada ketinggian 1.450 MDPL, Ia telah mendedikasikan hidupnya selama 28 tahun untuk mengembalikan kelestarian hutan.

Mengubah Lahan Bekas Tebangan Menjadi Oase Bambu

Awal mula perjuangan Umi Lora berakar dari keprihatinannya melihat kondisi kawasan hutan yang rusak akibat aktivitas perambahan liar atau illegal logging. Sebagai kader konservasi dan pencinta alam yang terbiasa menanam sejak kecil, ia tergerak untuk memulihkan fungsi lingkungan tersebut. Meski sempat menanam pohon reboisasi biasa, ia menyadari bahwa pohon kayu membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk tumbuh kembali jika ditebang oleh oknum tak bertanggung jawab.

Sejak sekitar tahun 2010, Umi Lora mengalihkan fokus penanamannya secara khusus pada tanaman bambu. Demi mewujudkan impiannya, ia berburu berbagai varietas bibit bambu hingga ke Semarang dan Baturraden. Kini, lahan tersebut bertransformasi menjadi hutan bambu rimbun yang menampung sekitar 50 jenis bambu dari total 160 jenis yang ada di Indonesia. Berbagai keanekaragaman jenis bambu tumbuh subur di sana, mulai dari bambu tali, bambu betung (lokal, hitam, dan Thailand yang terkenal memiliki rebung paling lezat), bambu ampel kuning, hingga bambu gua berduri yang berasal dari Meksiko.

Keajaiban Ekologis Bambu: Penyelamat Air dan Satwa Langka

Keputusan memilih bambu membawa dampak ekologis yang sangat monumental. Bambu memiliki kemampuan luar biasa dalam menahan dan menyimpan air hingga 90%, jauh melampaui pohon kayu yang umumnya hanya mampu menahan 30% hingga 40% air. Penyerapan tinggi ini berhasil memicu munculnya berbagai titik mata air baru di kawasan lereng gunung tersebut. Aliran selokan kecil kini bertransformasi menjadi lebih besar dan airnya terus mengalir hingga ke masyarakat Ciater di daerah bawah, bahkan di tengah musim kemarau panjang.

Selain menyelamatkan sumber air, keberadaan hutan bambu ini sangat efektif mencegah ancaman tanah longsor serta menjadi penyerap karbon yang handal. Secara menakjubkan, setiap lima dapur rumpun bambu mampu menurunkan suhu udara di sekitarnya hingga 1 derajat Celsius, menciptakan lanskap yang sangat sejuk dan segar. Lingkungan yang asri ini juga mengembalikan ekosistem alami dengan menjadi rumah aman bagi satwa langka, seperti monyet lutung dan surili, yang sering datang untuk memakan pucuk-pucuk bambu muda.

Ketulusan Konservasi dan Khasiat Air Bambu

Di samping manfaat ekologis lingkungan, beberapa jenis bambu di lokasi ini, seperti bambu hitam dan ampel kuning, menghasilkan cairan air alami di dalam ruas batangnya. Air bambu ini dipercaya membantu terapi pengobatan berbagai penyakit dalam, seperti kesehatan jantung, pencegahan kanker, asma, gangguan lambung, liver, hingga mendetoksifikasi racun tubuh.

Bagi Umi Lora, gerakan menanam bambu murni dilakukan untuk prinsip konservasi alam, bukan demi kepentingan komersial ekonomi. Ia meyakini prinsip bahwa jika manusia berbuat baik dan menjaga alam, maka alam dan Tuhan yang akan menjamin kehidupan serta rezeki manusia. Atas dedikasi panjangnya meski sempat menghadapi tantangan dan pendapat tidak menyenangkan dari netizen, Umi Lora tetap berjuang dan akhirnya dianugerahi penghargaan sebagai Pelestari Alam Jawa Barat oleh Gubernur. Kisah Umi Lora mengajak kita semua untuk terus menanam pohon demi menyelamatkan bumi dan menjaga kehidupan masa depan.

Kisah Umi Lora menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Satu bibit yang ditanam hari ini dapat menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.

Ingin melihat langsung hutan bambu dan mendengar kisah perjuangan Umi Lora selama 28 tahun menjaga alam? Saksikan video selengkapnya di Tanilink TV