Login

Menanam Sehat, Merawat Jiwa: Cerita Inspiratif Urban Farming Organik Swakaton Asri di Tengah Kota Jogja

Dipublikasikan pada 09 September 2026 12:47:42

Urban Farming

Di tengah padatnya kawasan perkotaan Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Jogja, terdapat sudut hijau seluas kurang lebih 1.000 meter persegi yang menjadi oase kesegaran warga. Lahan ini dikelola oleh Kelompok Tani Swakaton Asri sebagai ruang pertanian dan perikanan kota yang mandiri. Bukan sekadar mengejar volume panen, komunitas ini memprioritaskan metode organik demi menjaga kesehatan jiwa dan raga para anggota serta masyarakat sekitar.

Metode Organik Sederhana yang Menyehatkan

Dalam merawat kebunnya, Kelompok Tani Swakaton Asri menerapkan teknik pertanian organik tanpa pestisida kimia. Pengolahan tanah diawali dengan pupuk kandang, yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian kompos serta air lindi.

Uniknya, sistem penyiraman tanaman di kebun ini juga memanfaatkan air endapan residu dari dasar kolam ikan yang dialirkan ke bak penampungan. Olahan air kolam dan kompos ini digunakan untuk menyiram seluruh tanaman sehingga vegetasi dapat tumbuh segar walau tanpa pupuk sintetis.

Kepedulian terhadap kualitas pangan dibuktikan langsung saat panen; tomat segar yang baru dipetik bisa langsung dicicipi di tempat tanpa rasa khawatir karena bebas dari pestisida. Rasa manis dengan perpaduan sedikit asam yang khas menjadi bukti nyata keseriusan mereka menghadirkan pangan sehat alami.

Inovasi Pangan dan Trik Alami Menghalau Hama

Keanekaragaman jenis tanaman yang dibudidayakan di kebun Swakaton Asri sangat melimpah. Mulai dari sayuran harian seperti bayam hijau, bayam merah, terong, sawi, selada, cabai, jahe, hingga bawang merah ditanam memanfaatkan pot, polybag, hingga galon air mineral bekas. Komunitas ini juga menanam jagung dan menguji coba penanaman padi di botol air mineral bekas serta wall planter sebagai bentuk terobosan ketahanan pangan. Penanaman dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar siklus panen terus berjalan tanpa terputus.

Untuk mengatasi gangguan hama tanpa zat kimia, mereka memanfaatkan metode alami melalui teknik tumpang sari dan tanaman penghalau:

  • Tumpang Sari Serai & Cabai: Menanam pohon serai bersama cabai dalam satu wadah berfungsi sebagai penghalau hama alami.
  • Bunga Pengalih Hama: Bunga-bunga berwarna pink, oranye, dan merah sengaja ditanam di sekitar kebun untuk memikat perhatian hama agar tidak hinggap pada tanaman pangan.

Sinergi Pertanian, Perikanan, dan Sentuhan Seni

Ekosistem di Swakaton Asri terhubung secara efisien antara sektor pertanian dan perikanan. Kelompok tani ini memelihara beberapa jenis ikan seperti lele, ikan mas, gurame, dan tawes. Selain air kolam dimanfaatkan untuk penyiraman, sisa-sisa potongan tanaman sayur yang tidak terpakai dialihkan menjadi pakan ikan. Pemanfaatan limbah tanaman ini terbukti efektif mengurangi sampah kebun sekaligus menekan biaya pakan pelet.

Suasana berkebun makin terasa sejuk dan nyaman karena kegiatan pertanian di sini dipadukan dengan unsur seni. Kehadiran anggota senior yang berjiwa seni turut membantu merancang dekorasi area kebun, mulai dari pembuatan gapura hingga tata letak kolam ikan yang estetis.

Gotong Royong dan Wadah Edukasi Masyarakat

Keberhasilan pengelolaan kebun ini berakar pada semangat gotong royong anggotanya yang secara rutin melakukan pemeliharaan, seperti menyiram, meruning, hingga menyiangi rumput liar. Hasil panen yang didapat diutamakan untuk konsumsi para anggota terlebih dahulu, sebelum sisanya dijual kepada warga sekitar dengan harga di bawah harga pasar.

Kini, Kebun Swakaton Asri terbuka luas sebagai pusat edukasi bagi siapa saja yang ingin berkunjung, belajar bercocok tanam, berbelanja hasil panen, maupun melakukan studi banding. Anak-anak dari jenjang PAUD, TK, hingga SD pun kerap diajak berkunjung untuk mengenal proses pertanian sejak dini.

“Mandiri pangan bersama, bersepakat berbuat, jos! Jangan omong saja, niat ono mesti iso.”

Semangat kebersamaan ini terangkum jelas dalam jargon yang mereka pegang teguh.