Login

Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Pria Ini Raup Cuan dari Ternak Ayam Elba di Lahan Curam!

Dipublikasikan pada 21 Juli 2026 15:10:28

Inspirasi Usaha

Siapa sangka lahan curam berpusar belukar di belakang rumah bisa disulap menjadi mesin pencetak uang yang menjanjikan? Inilah kisah inspiratif dari Joni Wahyu Pututro, seorang mantan pekerja kantoran yang kini sukses besar mengembangkan Wahyu Putro Farm, sebuah peternakan ayam Elba di Dusun Karangnongko, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Dari Pekerja Kantoran Menjadi Peternak Inovatif

Perjalanan sukses Joni tidaklah instan. Selama 9 tahun, ia bergelut di bagian kantor sebuah perusahaan otomotif di wilayah Jakarta, sebelum akhirnya merasa jenuh dengan rutinitasnya. Ia sempat beralih membuka usaha kuliner mi ayam dan bakso di kawasan BSD dan Serpong, Tangerang Selatan. Ketika anak-anaknya lulus TK, Joni memutuskan pulang kampung ke Solo Raya dan menetap di Karanganyar.

Di kampung halaman, Ia memutar otak mencari kesibukan produktif. Pandangannya tertuju pada lahan kosong miliknya di belakang rumah, yang kondisinya sangat ekstrem berupa jurang curam dengan kemiringan hampir 45 derajat. Alih-alih membiarkan lahan itu dipenuhi pohon bambu dan belukar gelap, Joni nekat membabat habis semuanya untuk membangun kandang ayam yang kini harus diakses dengan menuruni 54 anak tangga dari rumahnya.

Belajar dari Kegagalan dan Mengatasi Kematian Ternak

Tanpa memiliki dasar ilmu peternakan sama sekali, Joni memulai usahanya dengan membeli 600 ekor bibit DOC (Day Old Chick) secara langsung dari peternak di Klaten dan Boyolali. Masa awal pembesaran adalah fase paling kritis bagi pemula. Ia sempat panik saat mendapati tingkat kematian ayam yang cukup tinggi, mencapai 23 ekor di usia dua bulan pertama.

Tidak menyerah, ia langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap suhu lampu yang kurang hangat, kandang yang terlalu sempit, serta tingginya kadar amonia. Berbekal diskusi dengan para peternak senior, Joni meracik jamu 'kuteja' dari campuran empon-empon yang difermentasi. Hasilnya sungguh luar biasa, angka kematian ayam berhasil ditekan secara drastis hingga tidak ada kematian lagi saat memasuki fase pembesaran.

Mengapa Memilih Ayam Elba?

Pilihan Joni jatuh pada ayam Elba karena rentetan keunggulan komersialnya. Ayam Elba sangat hemat pakan, daya tahannya sangat kuat berkat genetika ayam kampung, perawatannya mudah, dan yang paling krusial, produksi telurnya sangat melimpah. Potensi pasarnya pun sangat besar, baik untuk kebutuhan telur konsumsi masyarakat luas maupun untuk telur penetasan.

Kini, Joni mengelola kandang berkonsep postal lantai dua (sistem apartemen) dengan total 60 kamar. Ia menerapkan strategi rasio unggulan demi fertilitas tinggi, yaitu 1 jantan untuk 5 betina dalam satu kamar yang berukuran panjang 1 meter, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Uniknya, setiap kamar diberi nama tokoh pewayangan seperti Bagong, Kresno, dan Duryudono untuk memudahkan pendataan harian yang ketat. Dengan data ini, jika ada kamar yang produktivitasnya turun, ia dapat langsung memberikan penanganan khusus.

Untuk menekan bau, Joni mengaplikasikan alas kandang sistem litter, berupa campuran sekam, pasir, kotoran kambing, sapi, dan sedikit dolomit dengan perbandingan 1:1 yang disemprot cairan probiotik. Sistem ini diistirahatkan selama 4 hari sebelum masuk kandang, sehingga kotoran ayam terurai otomatis menjadi pupuk NPK alami, menjaga kandang tetap kering, dan peternak tidak perlu repot membersihkan kotoran setiap hari.

Nutrisi Tepat Hasilkan Produktivitas 80%

Ayam Elba peliharaannya sangat irit, hanya menghabiskan 70 gram pakan pabrikan per ekor setiap hari. Joni membaginya dengan cermat: 30 gram di pagi hari dan 40 gram di sore hari. Porsi sore diberikan lebih banyak karena proses pembentukan cangkang telur memakan waktu 26 jam, yang puncaknya terjadi di malam hari. Asupan ini disempurnakan dengan minuman jamu herbal bergantian setiap minggu (dosis 10 ml per 1 liter air), jus daun pepaya segar, enzim buatan sendiri, dan extra fooding tauge kacang hijau seminggu sekali untuk mendongkrak stamina.

Berkat kedisiplinan tersebut, produktivitas harian peternakan ini menembus angka 80%, menghasilkan 210 hingga 215 butir telur per hari dari total 250-an ekor indukan betina. Joni kini tidak hanya menjual telur konsumsi dalam kemasan mika rapi, tetapi juga menetaskan telurnya sendiri di mesin berkapasitas 200 butir, lalu menjual bibit DOC ke berbagai kota melalui pemesanan WhatsApp, TikTok, dan Facebook. Kisah sukses Joni membuktikan bahwa agribisnis bisa dimulai dan sukses di mana saja, sekalipun di lahan yang tidak ideal.

Simak video inspirasinya di Youtube Tanilink TV