Memulai sebuah bisnis sering kali dibayangkan harus memiliki modal besar, pabrik yang luas, dan peralatan yang canggih. Namun, kisah inspiratif dari seorang pemuda bernama Yosua, founder dari Samaris Indococo mematahkan stigma tersebut. Siapa sangka, bisnis olahan kelapa yang kini mampu memproses ratusan butir kelapa per hari justru berawal dari sebuah kamar kos sederhana berukuran 2x3 meter.
Mari kita bedah perjalanan jatuh bangun Yosua dalam membangun bisnis minyak goreng kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), hingga blondo kelapa yang menginspirasi ini!
Berawal dari Botol Bekas di Kamar Kos saat Pandemi
Perjalanan Yosua dimulai pada tahun 2022, tepat saat pandemi COVID-19 melanda dan perkuliahan dilakukan secara daring dari Jogja. Di tengah keterbatasan ruang gerak di dalam kos, Yosua melihat peluang besar dari tren masyarakat yang tengah gencar mencari produk peningkat sistem imun tubuh. Salah satu yang paling dicari adalah Virgin Coconut Oil (VCO).
Dengan modal nekat dan keterbatasan alat, Yosua mulai bereksperimen. Proses filtrasi VCO pertamanya bahkan hanya menggunakan botol air mineral bekas yang dipotong kerucut, lalu disumbat dengan tisu dan kapas. Ia juga hanya memanfaatkan kompor kecil berkapasitas 2–5 liter yang diletakkan tepat di meja belajarnya.
Setelah menyelesaikan bangku kuliah, Yosua memutuskan untuk memindahkan dan memperbesar skala produksinya ke tanah kelahirannya di Ngadirojo Lor, Wonogiri.
Melejit dengan Produksi 700 Butir Kelapa per Hari
Kini, usaha rumahan tersebut telah bertransformasi menjadi industri lokal yang diperhitungkan. Dengan efisiensi sistem produksi dan minimalisasi tenaga kerja, Yosua mampu menjaga stabilitas produksi di angka 600 hingga 700 butir kelapa per hari.
Dari kapasitas tersebut, setiap harinya dihasilkan sekitar 45 hingga 50 kilogram blondo kelapa serta minyak goreng kelapa mentah bermutu tinggi.
Rahasia Menjaga Kualitas Produk:
- Bahan Baku Fresh & Spesifik
Kelapa didatangkan langsung dari Kulon Progo dalam kondisi sudah dikupas bersih dan bebas serabut untuk memangkas waktu produksi. Kelapa yang digunakan harus benar-benar tua, kering, dan diproduksi pada hari yang sama agar rasa blondo tidak asam atau berwarna terlalu gelap.
- 100% Santan Murni Tanpa Air
Saat proses pemerasan santan, Yosua sama sekali tidak menambahkan air. Strategi ini membuat proses memasak jauh lebih cepat dan menghasilkan cita rasa blondo yang jauh lebih gurih.
- Mempertahankan Aroma Khas Kelapa
Melalui proses refining dan bleaching yang tepat, minyak goreng kelapa yang dihasilkan tetap berwarna bening seperti air namun tetap mempertahankan aroma gurih kelapa yang sangat disukai oleh konsumen setianya.
Tantangan Pasar: Membawa "Blondo" ke Generasi Gen Z
Selain memproduksi VCO dan minyak goreng kelapa, salah satu produk sampingan (by-product) yang bernilai ekonomi tinggi dari usaha ini adalah blondo kelapa (ampas gurih hasil pengendapan minyak).
Yosua mengakui bahwa pasar terbesar blondo saat ini masih didominasi oleh generasi kelahiran tahun 2000 ke bawah (simbah-simbah) untuk kebutuhan bumbu rendang, areh gudeg, isian lemper, hingga bahan pembuat brownies blondo.
“PR terbesar kami adalah bagaimana mengenalkan gizi luar biasa dari blondo kelapa ini ke generasi muda sekarang. Kami sedang melakukan riset agar blondo bisa dikemas menjadi produk bubuk atau varian bumbu modern yang praktis” — ungkap Yosua dalam wawancaranya di Tani Link TV.
Strategi Bertahan: Fokus pada Value dan Garansi 100%
Di ranah pemasaran, Samarisindoko sukses menguasai ceruk pasar digital (online) melalui platform marketplace, TikTok, dan Facebook. Yosua membagikan tips bisnis penting bagi para pemula yang ingin terjun ke dunia usaha: Jangan hanya mengejar angka atau terjebak dalam perang harga.
"Kalau kita hanya fokus pada uang, kita akan terjebak perang harga dan bisnis tidak akan bertahan lama. Fokuslah pada value (nilai) yang dirasakan pelanggan. Ketika produk kita sudah melekat dan menjadi kebutuhan mereka, kita jual di harga berapa pun pasti akan tetap dibeli," jelasnya.
Selain itu, kunci utama stabilitas bisnis Yosua adalah menjaga kepercayaan konsumen. Jika ada barang yang pecah atau rusak selama pengiriman, timnya berkomitmen memberikan garansi ganti rugi 100% tanpa perlu ribet mengembalikan dana. Baginya, mempertahankan pelanggan lama jauh lebih berharga daripada terus-menerus mencari konsumen baru.
Kisah Yosua membuktikan bahwa keterbatasan tempat dan modal di masa lalu bukanlah penghalang untuk menjadi produsen sukses di masa kini. Selama ada kreativitas, ketekunan, dan fokus pada kualitas, bisnis agribisnis lokal akan selalu menemukan jalannya menuju kesuksesan.