Siapa sangka, sebuah lahan kas desa yang dulunya dipenuhi batu dan semak belukar kini menjelma menjadi agrowisata petik jeruk nan hijau seluas 7 hektar. Adalah Kebun Jeruk Tana Merapi yang berlokasi di Klaten, Jawa Tengah, yang berhasil membuktikan bahwa pertanian modern berbasis kecerdasan jauh lebih menghasilkan ketimbang sekadar mengandalkan otot.
Ditemui dalam sesi bincang-bincang bersama Tanilink TV, Pak Ronang, sosok di balik layar kesuksesan Agrowisata Tana Merapi, membagikan kisah inspiratif sekaligus rahasia dapur bagaimana ia mengelola ribuan pohon jeruk dengan sangat efisien.
Kunci Sukses: Belajar dari Mereka yang Gagal
Saat banyak orang berbondong-bondong berguru kepada petani yang sukses, Pak Ronang justru mengambil langkah sebaliknya. Ia sengaja melakukan riset hingga ke Jember dan Medan untuk menemui para petani jeruk yang mengalami kegagalan.
"Kami cari referensi yang gagal-gagal, bukan cari kebun jeruk yang bagus. Dari sana petani akan cerita masalah mereka apa. Kami inventarisir, catat, lalu kami cari solusinya."
— Pak Ronang, Owner Agrowisata Jeruk Tana Merapi Klaten
Melalui metode analisis kegagalan tersebut, ia berhasil memahami karakter tanaman jeruk secara mendalam, sehingga mampu meminimalisir risiko kerugian di lahannya sendiri.
Terapkan Smart Farming: 7 Hektar Cuma Diurus 5 Orang!
Salah satu efisiensi paling ekstrem yang dilakukan di Tanam Merapi adalah pemangkasan biaya tenaga kerja (cost). Bayangkan, untuk merawat total 2.700 pohon jeruk di atas lahan seluas 7 hektar, Pak Ronang hanya mempekerjakan 5 orang pekerja lapangan.
Bagaimana caranya? Jawabannya ada pada penerapan konsep Smart Farming (Petani Cerdas).
- Mekanisasi Pertanian
Proses mobilisasi pupuk tidak lagi dipikul manual atau menggunakan angkong, melainkan menggunakan mobil yang bisa masuk ke sela-sela barisan pohon - Penyemprotan Efisien
Menggunakan mesin khusus, penyemprotan hama dan pupuk daun di lahan 7 hektar bisa rampung hanya dalam waktu 2 hari - Pemupukan Tepat Guna
Mengombinasikan 70% pupuk organik kotoran hewan (kohe) setiap 6 bulan sekali dengan pupuk kimia (NPK) setiap 2 bulan sekali sebagai starter pertumbuhan .
"Sudah enggak zamannya kita kerja keras, sekarang kita harus kerja cerdas. Kita memang harus paham supaya tidak membuang-buang obat pestisida atau pupuk. Saat ini tanaman butuhnya apa, harus tepat guna," jelasnya.
Rahasia Buah Lebat dan 'Multi-Season' (Panen Tiap Hari)
Kebun Tanam Merapi menanam tiga varietas unggulan rasa manis, yaitu Keprok Madu, Siam Madu, dan Super Madu. Di usianya yang baru menginjak 3 tahun, pohon-pohon di sini sudah memasuki fase buah kedua yang lebat dengan ukuran premium (Grade B sampai C).
Normalnya, petani jeruk konvensional hanya memanen buahnya 4 kali dalam satu musim per tahun. Namun, lewat treatment khusus menggunakan hormon giberelin untuk mengatur ukuran buah serta teknik stressing nutrisi dan pruning (pemangkasan ranting), kebun ini mampu berproduksi secara multi-season. Hasilnya, buah jeruk siap petik selalu tersedia hampir setiap hari.
Pak Ronang juga mengingatkan satu kesalahan fatal yang sering membuat pohon jeruk mati setelah panen, cara memetik yang salah. "Metik jeruk itu harus digunting, enggak boleh ditarik asal karena pohonnya rentan stres dan kulit batangnya bisa terkelupas," tegasnya.
Terbuka untuk Edukasi dan Berbagi Ilmu
Kini, Agrowisata Petik Jeruk Tana Merapi tidak hanya menjadi ladang bisnis yang menguntungkan, tetapi juga menjadi pusat edukasi bagi masyarakat. Pak Ronang sangat terbuka bagi siapa saja, terutama pemuda atau calon petani, yang ingin belajar budidaya jeruk langsung di lokasi.
Bagi Anda yang penasaran ingin mencicipi manisnya jeruk segar langsung dari pohonnya atau ingin belajar rahasia smart farming ini, Anda bisa langsung mencari rute "Agrowisata Petik Jeruk Tana Merapi" di Google Maps.
“Niat dan usaha itu syarat utama, tapi supaya berhasil wajib ada ilmu. Kalau tidak pakai ilmu, mohon maaf, bisa nyungsep,” pungkas Pak Ronang menutup perbincangan.