Login

Sulap Lahan Kering Jadi Cuan: Kisah SD di Ciamis Bangun Fasilitas dari Kacang Sacha Inchi

Dipublikasikan pada 05 Juni 2026 13:24:51

Inspirasi Usaha

Siapa sangka sebuah lahan kosong yang tadinya kering kerontang bisa disulap menjadi kebun hijau yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial yang fantastis? Kisah sangat inspiratif ini datang dari SD Terpadu Auladi yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Arrisalah, Ciamis.

Melalui inovasi yang dipelopori oleh Kepala Sekolah, Ay Ahmad Mustofa, sekolah ini sukses membuktikan bahwa lembaga pendidikan bisa menjadi solusi nyata bagi isu lingkungan dan ketahanan pangan masyarakat.

Tiga Pilar Inovasi: Edukasi, Konservasi, dan Rekreasi

Awalnya, di sekitar pondok pesantren terdapat lebih dari 10 hektar lahan "perawan" yang belum bisa ditumbuhi tanaman akibat minimnya nutrisi tanah. Merasa tertantang, pihak sekolah mengusung tiga konsep utama untuk lahan tersebut:

  • Edukasi
    Mengajarkan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar tentang potensi pemanfaatan lahan secara maksimal.

  • Konservasi
    Memulihkan kondisi lahan yang tadinya tandus dan kering kerontang agar kembali gembur dan kaya unsur hara.

  • Rekreasi
    Mengubah kebun menjadi taman agrowisata. Kini, tempat tersebut sering dikunjungi oleh berbagai sekolah (TK, SD, SMP) hingga komunitas kepala sekolah yang ingin bersantai sekaligus belajar tentang Sacha Inchi.

Kacang 'Sultan' dengan Khasiat Setara Ikan Salmon

Apa keistimewaan kacang Sacha Inchi? Menurut para ilmuwan dan hasil uji laboratorium, kandungan Omega 3, 6, dan 9 di dalam kacang ini sangat mewah dan setara dengan ikan salmon.

Bahkan, turunannya memiliki segudang manfaat kesehatan. Minyak Sacha Inchi sangat baik untuk kecantikan, kesehatan mata, dan jantung. Selain itu, teh dari daun Sacha Inchi juga terbukti efektif menurunkan kadar gula darah secara drastis serta dapat dimanfaatkan sebagai alternatif terapi untuk penyakit jantung. "Dengan mengonsumsi Sacha Inchi, itu sudah sama dengan kita memakan ikan salmon, tanpa harus jauh-jauh mencari ke tengah laut,".

Jeli Melihat Peluang: Dari Harga Turun Menjadi Keuntungan Berlipat

Tidak selamanya mulus, harga biji kacang hitam Sacha Inchi di pasaran sempat mengalami fluktuasi (naik-turun). Hebatnya, hal ini tidak membuat pihak sekolah putus asa, melainkan menjadikannya tantangan untuk berinovasi. Alih-alih menjual biji mentah saat harga anjlok, mereka mengolahnya menjadi produk bernilai jual tinggi:

  • Kacang Saci Goreng
    Dari 1 kg kacang mentah (seharga Rp 20.000), mereka mengolahnya menjadi 5 toples kacang goreng yang dijual Rp 30.000 per toples. Hasilnya, nilai jual melonjak menjadi Rp 150.000!.

  • Susu Sacha Inchi
    Inovasi lain adalah susu Saci. Dari 1 kg kacang, bisa dihasilkan 5 liter susu dengan cita rasa khas. Dengan harga jual Rp 40.000 per liter, 1 kg kacang mentah berhasil dikonversi menjadi omset Rp 200.000.

Keuntungan finansial ini dikelola untuk kemajuan sekolah. Hasil penjualan kacang dan bibitnya berhasil membiayai pembuatan sarana olahraga anak-anak, menyelesaikan pembangunan kelas yang sempat mangkrak selama 2 tahun akibat keterbatasan dana, hingga mendanai pemasangan keramik di asrama pesantren.

Tanaman Zero Waste: Semua Bagian Bisa Jadi Cuan!

Sacha Inchi benar-benar tanaman yang tidak menyisakan sampah. Semuanya bisa dimanfaatkan dan diuangkan:

  • Daun Muda
    Pucuk mudanya sangat lezat untuk dijadikan oseng-oseng atau lalapan karena teksturnya yang kenyal. Daun dari hasil pruning (pemangkasan) juga bisa diolah menjadi keripik atau teh berkhasiat.

  • Kulit Kacang
    Limbah kulitnya ditumbuk menjadi tepung, lalu dicampur dengan daun Indigofera dan ikan asin untuk dicetak menjadi pelet ikan apung berkualitas tinggi.

  • Batang dan Ranting
    Sisa rambatan atau ranting yang telah dipangkas dimanfaatkan oleh pengrajin lokal untuk dibuat menjadi keranjang dan mainan.

Perawatan Mudah dan Murah

Bagi Anda yang tertarik mencoba, bertani Sacha Inchi ternyata sangat memanjakan petani. Tanaman ini minim perawatan dan sangat tahan terhadap ancaman hama. Pemupukannya pun murah, hanya membutuhkan pupuk kandang setiap 2 bulan sekali. Selama diolah dengan baik, bertani Sacha Inchi di negara beriklim tropis seperti Indonesia menjanjikan peluang yang luar biasa besar.

Kisah SD Terpadu Auladi ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan (konservasi) jika digabungkan dengan kreativitas edukasi bisa membuka pintu rezeki (finansial) yang sangat luas. Apakah Anda tertarik untuk mulai menanam Sacha Inchi di pekarangan Anda?

Ingin tahu lebih dalam bagaimana sekolah ini menyulap lahan tandus menjadi mesin pencetak cuan? Saksikan liputan eksklusifnya di channel YouTube Tanilink TV