Login

Mantan Arsitek Sulap Lahan Desa 7 Hektar Jadi Agrowisata Petik Jeruk Viral! Ini Rahasia Tana Merapi Farm

Dipublikasikan pada 03 Juni 2026 12:31:34

Inspirasi Usaha

Pernahkah Anda membayangkan lahan desa yang tadinya menganggur kini berubah menjadi destinasi agrowisata yang ramai dikunjungi ratusan wisatawan? Inilah yang terjadi di Tana Merapi Farm, sebuah perkebunan jeruk seluas 7 hektar yang berlokasi di ketinggian 800 mdpl, tepatnya di lereng Gunung Merapi, Balerante, Kabupaten Klaten.

Menariknya, sosok di balik kesuksesan wisata petik buah ini adalah Galih (Galih Priambodo), seorang mantan arsitek yang berani banting setir menjadi petani buah. Mari kita bedah kisah inspiratif dan strategi cerdas bisnis agrowisata ini!

Dari Tambang Pasir Menjadi Kawasan Sociopreneur

Awalnya, mayoritas warga desa Balerante berprofesi sebagai penambang pasir, sehingga sektor pertanian kurang dilirik dan tanah kas desa banyak yang tidak dioptimalkan. Melihat potensi lahan yang mirip dengan daerah penghasil jeruk Berastagi, Galih dan timnya memutuskan untuk mengembangkan kebun jeruk dengan konsep sociopreneur. Bisnis ini tidak sekadar mengejar profit, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dan memberlakukan sistem bagi hasil dengan pemerintah desa setempat.

Viral Membawa Petaka: Sempat Tutup 6 Bulan!

Kesuksesan wisata ini ternyata bermula dari ketidaksengajaan. Rencana awalnya, jeruk hanya akan dijual ke pasar atau tengkulak. Namun, pesona kebun yang menguning memancing orang datang. Kebun ini mendadak viral dari mulut ke mulut hingga berdatangan rombongan bus.

Di awal masa viralnya, pengunjung ditarik tiket murah Rp10.000 dengan konsep makan sepuasnya. Alih-alih meraup untung, strategi ini justru menjadi pisau bermata dua. Jeruk ludes dijarah, pohon menjadi stres dan rusak akibat cara petik yang salah, sementara hasil uangnya tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan. Akibatnya, Tana Merapi Farm terpaksa ditutup total selama 6 bulan untuk proses perbaikan dan pemulihan (infus).

Bangkit dengan Mengubah Mindset: Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Jeruk

Belajar dari pengalaman pahit tersebut, sistem dirombak total. Kini, strategi marketing utamanya adalah menjual pengalaman (experience), bukan sekadar buah jeruk.

Pengunjung yang membayar tiket tidak hanya mendapat buah, melainkan mendapat pelayanan prima, fasilitas bersantai seharian, serta aneka kuliner riset khusus, seperti menu Nasi Daun Jeruk dengan daging sapi. Untuk mengatasi keterbatasan akses dan meningkatkan pemberdayaan warga, Tana Merapi Farm kini bekerjasama dengan warga lokal yang berinvestasi mobil Jeep untuk mengantar jemput pengunjung keliling desa. Selain itu, lahan seluas 7 hektar ini mulai dikelola dengan sistem rotasi area petik agar pohon tidak kembali rusak.

Investasi Jangka Panjang: Pertanian adalah Masa Depan

Membangun kebun buah tentu berbeda dengan sayuran yang cepat panen. Menurut Galih, menanam pohon buah menuntut mental yang kuat karena harus "puasa" selama 3 sampai 4 tahun pertama hingga pohon benar-benar tumbuh optimal. Namun, setelah masa itu terlewati, pohon akan terus berproduksi mengabdi kepada penanamnya dengan perawatan harian yang jauh lebih ringan dibanding komoditas hortikultura.

Di balik bisnisnya, Galih memiliki visi yang jauh ke depan mengenai ketahanan pangan. Berkaca pada krisis di negara lain, ia menyadari bahwa nilai uang bisa saja jatuh, namun komoditas pangan akan selalu berharga. "Jangan-jangan yang hidup malah bapak-bapak yang punya sawah di desa karena bisa produksi makanan sendiri," ungkapnya.

Prinsip inilah yang membuat Galih yakin bahwa pertanian adalah masa depan. Sebuah desa yang mandiri pangan akan mampu bertahan di tengah krisis apapun.

Simak cerita lengkapnya di Youtube Tanilink TV