Login

Ubah Limbah Jadi Rupiah: Cara Sukses Bisnis Pupuk Kompos Organik dari Limbah Desa

Dipublikasikan pada 18 Mei 2026 15:19:05

Inspirasi Usaha

Siapa bilang kesuksesan hanya milik mereka yang berpendidikan tinggi di kota besar? Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Aji Saputra, seorang pemuda dari pelosok Desa Gentansari, membuktikan bahwa kreativitas dan kepekaan terhadap lingkungan bisa membuka keran rezeki yang luar biasa.

Lewat usaha yang dinamai Puntuk Plangon, Aji sukses menyulap limbah kotoran ternak warga yang awalnya mencemari lingkungan menjadi produk pupuk kompos organik bernilai ekonomi tinggi. Tak tanggung-tanggung, berkat inovasinya ini, ia berhasil menyabet penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi.

Bagaimana kisah perjuangannya dan bagaimana cara ia mengolah limbah tersebut menjadi omzet jutaan rupiah? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Berawal dari Keprihatinan Menjadi Peluang Usaha

Langkah Aji dimulai saat ia lulus dari bangku SMA. Menghadapi situasi sulit pasca pandemi dan keterbatasan ekonomi untuk kuliah, ia tidak memilih untuk menganggur. Ia mengamati desanya dan merasa prihatin melihat banyaknya warga yang membuang kotoran hewan sembarangan ke sungai dan pinggir jalan.

"Saya punya inisiatif untuk bisa mengelola kotoran hewan tersebut," ungkap Aji. Berbekal ilmu yang ia timba langsung dari Kampung Gagot, ia mulai memberanikan diri bermain dengan kotoran hewan sejak usia 18 tahun.

Kini, rumah produksi sederhana berukuran 6x12 meter milik Aji mampu menghasilkan rata-rata 10 ton pupuk kompos per bulan. Dengan harga jual eceran Rp35.000 per sak (kemasan 25 kg), bisnis ini tidak hanya mendatangkan keuntungan baginya, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar desanya.

Bocoran Resep: Cara Membuat Pupuk Kompos Organik ala Puntuk Plangon

Salah satu rahasia keunggulan pupuk milik Aji adalah pencampuran bahan-bahan alami di sekitar kita yang berfungsi sekaligus sebagai pestisida nabati. Berikut adalah formula untuk membuat kapasitas 2 ton pupuk kompos.

Bahan-Bahan yang Dibutuhkan:

1. Kotoran Hewan (Sapi/Kambing) sebagai bahan utama.
2. Gedebong Pisang (dicacah).
3. Daun Bandotan & Daun Perengusan (sebagai pestisida nabati alami)
4. Cairan Fermentasi (Starter): Campuran 2 liter probiotik, 2 botol Yakult, dan air hingga penuh di dalam wadah sprayer 16 liter.
5. Arang Sekam & Dolomit (untuk tahap akhir)

Langkah-Langkah Pembuatan:

1. Proses Layering (Pelapisan)

Buat lapisan pertama menggunakan kotoran hewan setebal 15 cm. Semprot merata dengan cairan probiotik, lalu taburi dengan cacahan gedebong pisang dan dedaunan. Ulangi proses pelapisan ini berselang-seling hingga mencapai ketinggian sekitar 1 meter (kurang lebih 8 lapisan).

2. Proses Fermentasi

Tutup rapat tumpukan tersebut menggunakan terpal atau banner bekas. Diamkan selama 1 bulan hingga bau kotoran menyusut dan menghilang.

3. Tahap Pencampuran

Setelah 1 bulan, campurkan kotoran hewan yang sudah matang dengan arang sekam dan dolomit menggunakan perbandingan 5:1 (5 karung pupuk : 1 karung arang sekam)

4. Penggilingan & Pengemasan

Giling campuran tersebut agar teksturnya menjadi halus, lembut, dan siap dikemas ke dalam karung 25 kg.

Dampak Sosial: Mengubah Pola Pikir Desa

Selain berhasil mengurangi pencemaran lingkungan, kehadiran Puntuk Plangon memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Kotoran hewan milik warga yang dulunya dibuang cuma-cuma kini bernilai ekonomis karena dibeli oleh Aji. Tempat ini juga bertransformasi menjadi pusat edukasi bagi para pemuda yang ingin belajar bertani dan berwirausaha.

Tonton kisah inspiratif selengkapnya dan pelajari detail pembuatannya melalui video resmi di kanal YouTube Tanilink TV berikut ini: Tonton di YouTube.