Login

Penyakit PMK Sapi: Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Dipublikasikan pada 09 Desember 2025 12:06:58

Berita & Artikel

Dunia peternakan Indonesia sempat diguncang kembali oleh kemunculan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada pertengahan tahun 2022. Setelah bebas selama lebih dari tiga dekade, penyakit ini kembali menjadi momok bagi para peternak sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Bagi Anda yang berkecimpung di dunia ternak, memahami penyakit PMK sapi bukan lagi sekadar wawasan tambahan, melainkan keharusan demi menjaga aset peternakan. Tulisan ini akan mengupas tuntas apa itu PMK, gejala klinis yang harus diwaspadai, hingga langkah pencegahan yang efektif.

Apa Itu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)?

Penyakit Mulut dan Kuku, atau dalam dunia internasional dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD), adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang hewan berkuku belah (cloven-hoofed animals).

Penyebab utamanya adalah virus dari famili Picornaviridae, genus Apthovirus. Meskipun tingkat kematian (mortalitas) pada hewan dewasa relatif rendah, tingkat penularan (morbiditas) penyakit ini sangat tinggi, mencapai 90-100%. Artinya, jika satu sapi di kandang terkena, hampir pasti sapi lainnya akan tertular dengan cepat.

Data Fakta PMK di Indonesia

Sebagai konteks, Indonesia sebenarnya telah dinyatakan bebas PMK sejak tahun 1986 dan diakui oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada tahun 1990. Namun, pada Mei 2022, Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan status wabah PMK melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 403/KPTS/PK.300/M/05/2022, menyusul temuan kasus di Jawa Timur dan Aceh. Hal ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan biosekuriti tidak boleh kendor.

Penyebab dan Cara Penularan PMK

Virus PMK sangat tangguh di lingkungan tertentu dan dapat menyebar melalui berbagai media. Memahami cara penularannya adalah kunci untuk memutus rantai penyebaran.

  1. Kontak Langsung
    Bersentuhan dengan hewan sakit (melalui air liur, leleran hidung, urin, susu, atau kotoran).
  2. Angin (Airborne)
    Virus PMK dapat terbawa angin hingga radius beberapa kilometer, terutama di daerah dengan iklim sejuk dan lembap.
  3. Fomites (Benda Perantara)
    Ini yang sering luput dari perhatian. Virus bisa menempel pada pakaian peternak, sepatu bot, ban kendaraan angkut, hingga peralatan kandang yang tidak disterilkan.

Gejala Klinis PMK pada Sapi

Mendeteksi gejala sedini mungkin dapat menyelamatkan kerugian yang lebih besar. Berikut adalah ciri-ciri fisik sapi yang terindikasi positif PMK:

  • Demam Tinggi
    Suhu tubuh melonjak drastis (pyrexia) mencapai 39°C hingga 41°C.
  • Hiparsalivasi
    Keluar air liur berlebihan (ngeces) dan sering kali berbusa.
  • Lepuh dan Erosi
    Muncul lepuhan berisi cairan pada lidah, gusi, bibir, dan langit-langit mulut. Lepuhan ini juga muncul pada kulit di sekitar kuku dan puting susu.
  • Pincang
    Akibat luka pada celah kuku, sapi akan terlihat pincang, enggan berdiri, atau sering menendang-nendangkan kaki karena kesakitan.
  • Nafsu Makan Hilang
    Karena mulut terasa sakit (sariawan hebat), sapi enggan makan (anoreksia) yang menyebabkan bobot badan turun drastis.
  • Sifat Sapi Menjadi Lemah
    Sapi terlihat lesu dan lebih sering berbaring.

Cara Pencegahan dan Pengendalian PMK

Mencegah selalu lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Berikut adalah langkah strategis yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan hewan dan pemerintah:

1. Penerapan Biosekuriti Ketat

Batasi akses orang luar masuk ke area kandang. Wajibkan penggunaan disinfektan pada kendaraan dan alas kaki sebelum memasuki area peternakan. Semprot kandang secara rutin dengan disinfektan yang ampuh membasmi virus (misalnya yang mengandung sodium hypochlorite atau asam sitrat).

2. Karantina Hewan Baru

Jangan langsung mencampur sapi yang baru dibeli dengan ternak lama. Lakukan isolasi atau karantina selama minimal 14 hari untuk memantau apakah muncul gejala klinis.

3. Vaksinasi PMK

Ini adalah langkah paling efektif untuk membangun kekebalan kawanan (herd immunity). Pastikan ternak Anda mendapatkan program vaksinasi PMK yang diselenggarakan oleh dinas peternakan setempat.

4. Tindakan Supportif Jika Terlanjur Sakit

Jika sapi sudah terinfeksi, segera pisahkan (isolasi) dari kawanan sehat. Berikan pengobatan suportif berupa:

  • Pemberian vitamin (A, D, E) untuk mendongkrak imun.
  • Pemberian analgesik/antipiretik untuk meredakan nyeri dan demam.
  • Pembersihan luka pada kaki dan mulut agar tidak terjadi infeksi sekunder oleh bakteri.

Apakah Daging Sapi PMK Aman Dikonsumsi?

Pertanyaan ini sering muncul di masyarakat. Berdasarkan keterangan resmi dari Kementerian Kesehatan dan para ahli veteriner, PMK bukanlah penyakit zoonosis. Artinya, penyakit ini tidak menular dari hewan ke manusia.

Daging sapi yang terkena PMK tetap aman dikonsumsi selama dimasak dengan benar hingga matang sempurna. Virus PMK akan mati pada suhu pemanasan di atas 70°C selama 30 menit. Namun, bagian jeroan, kepala, kaki, dan buntut disarankan untuk direbus mendidih minimal 30 menit sebelum diolah.

Penyakit PMK sapi memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan pangan dan ekonomi peternak di Indonesia. Namun, dengan pemahaman gejala yang tepat dan penerapan biosekuriti yang disiplin, risiko penularan dapat ditekan. Mari kita dukung program pemerintah dalam menanggulangi wabah ini agar Indonesia bisa kembali swasembada daging yang sehat dan aman.