Login

Indoor Farming, Pertanian Masa Depan?

Dipublikasikan pada 15 Januari 2019 07:45:16

Berita & Artikel

Bertani tidak lagi harus di bawah terik matahari. Lahan pertanian yang terus berkurang membuat sejumlah pihak terus berinovasi mengefektifkan lahan yang ada untuk pertanian. Salah satunya yang sedang menjadi tren, dan mungkin akan menjadi masa depan pertanian adalah indoor farming, atau pertanian dalam ruangan.

Indoor farming menggunakan lebih banyak teknologi dan otomasi untuk mengoptimalkan penggunaan lahan. Bentuk indoor farming cukup beragam. Tanaman dapat ditanam dalam berbagai media tanam, baik di atas air (hidroponik), di atas kolam ikan (aquaponik), di udara (aeroponik) atau di tanah. Penataannya pun bisa secara vertikal, sehingga lebih menghemat tempat. Namun karena berada dalam ruangan, semua tanaman memerlukan pencahayaan buatan untuk menggantikan sinar matahari. Lampu diatur intensitas dan lama penyinarannya. Selain cahaya, suhu dan kelembaban juga harus diatur dengan ketat.

Saat ini, cara yang banyak digunakan untuk indoor farming adalah perpaduan sistem hidroponik dan cahaya buatan.

Dengan cara indoor farming ini, gagal panen karena cuaca bisa jadi hilang dari kamus pertanian. Hujan lebat atau kemarau berkepanjangan tidak lagi perlu dikhawatirkan. Ular, tikus, dan hewan lainnya tidak lagi menjadi ancaman, karena pertanian ini dilakukan di ruang tertutup.

Di Indonesia, indoor farming  mungkin belum banyak dilakukan. Masyarakat Indonesia sudah mengenal beberapa metode pertanian indoor farming, seperti hidroponik atau aquaponik, namun biasanya hanya sekedar hobi kecil-kecilan. Berbeda dengan di Indonesia, di beberapa negara seperti Jepang dan Amerika Serikat, cara ini sudah berkembang beberapa tahun ini dan mulai menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Sebuah kantor di Tokyo bahkan memiliki beberapa ruangan yang digunakan untuk pertanian dalam ruangan. Komoditas yang mereka tanam sangat beragam, termasuk sawi, tomat, bahkan padi.

Indoor farming bukan tanpa kekurangan. Penggunaan teknologi yang intensif memerlukan pembiayaan yang cukup tinggi juga. Selain itu, sejumlah pihak menganggap bahwa indoor farming menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) lebih banyak daripada pertanian konvensional. Sedangkan tidak sedikit pula yang menolak pernyataan ini, sehingga kondisi ini masih menuai perdebatan.