Login

Budidaya Tembakau: Potensi Usaha dan Tantangan Pasar di Indonesia

Dipublikasikan pada 08 Nopember 2024 12:33:03

Potensi Usaha

Tembakau merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak di budidayakan di Indonesia. Daun tembakau menjadi bahan dasar dalam pembuatan rokok, yang mana di Indonesia permintaan rokok masih sangat banyak. Melihat besarnya potensi tersebut menjadikan budidaya tembakau ini menjadi salah satu usaha yang menjanjikan. Tanaman tembakau dapat dibudidayakan pada dataran rendah sampai dataran tinggi dengan curah hujan 1.500 hingga 2.000 mm/ tahun. Suhu udara yang dikehendaki untuk pertumbuhan tembakau yaitu 20-30 oC dengan kelembapan udara 60-70 %. Tanaman tembakau ini juga bisa dijadikan sebagai tanaman sela setelah tanam padi, biasanya pada musim tanam 3.

Terdapat beberapa kendala yang sering dihadapi petani tembakau yaitu serangan hama dan penyakit, hampir sama dengan kendala pada bawang merah. Hama yang biasanya menyerang yaitu ulat sehingga perlu dilakukan penyemprotan insektisida secara rutin. Penyakit tanaman tembakau ini biasanya yaitu virus mozaik, untuk mengatasinya dengan mengaplikasikan fungisida secara rutin. Tanaman ini sangat cocok sekali dibudidayakan pada musim kemarau agar tidak mudah terserang hama dan penyakit, serta lebih mudah mengontrol air. Tanaman tembakau dapat dipanen ketika sudah berumur 3 bulan, pemanenan dapat dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval 1 minggu sekali.

Pasar Tembakau di Indonesia

Budidaya tembakau di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang signifikan, terutama karena Indonesia termasuk produsen tembakau terbesar di dunia, menempati peringkat keempat pada 2021 dengan produksi mencapai 0,23 juta metrik ton. Produksi tembakau yang tinggi ini, sebagian besar berasal dari Jawa Timur, terutama Kabupaten Jember, yang memiliki kontribusi besar terhadap total produksi nasional.

Pasar tembakau nasional memiliki tantangan dan peluang yang kompleks. Pada 2024, PTPN I, salah satu perusahaan tembakau utama, menargetkan peningkatan produksi tembakau berkualitas untuk ekspor, dengan target ekspor sebesar 1.033 ton, naik 13% dari tahun sebelumnya. Strategi yang diterapkan meliputi perbaikan sarana produksi dan pengawasan kualitas untuk memenuhi standar pasar internasional, terutama Eropa dan Amerika.

Selain itu juga kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang berdampak langsung pada harga jual tembakau. Pada tahun 2023, pemerintah menaikkan CHT sebesar 10%, yang memengaruhi harga beli pabrikan dari petani, mengakibatkan turunnya pendapatan petani. Kondisi cuaca yang tidak menentu seperti kemarau basah juga turut menurunkan kualitas panen tembakau, sehingga harganya di tingkat petani berada di kisaran Rp23.000 per kilogram, jauh di bawah harga rata-rata sekitar Rp40.000.

Analisis usaha tani tanaman tembakau untuk luas lahan 1 hektare (1 musim 4 bulan)

No

Item

Harga

Jumlah

Total

Biaya Tetap

1

Sewa Lahan

Rp 10.000.000

1 tahun

Rp 10.000.000

2

Peralatan (cangkul, sabit, spayer, drum)

Rp 1.000.000

3 paket

Rp 3.000.000

3

Pompa

Rp 2.000.000

1 paket

Rp 2.000.000

4

Selang

Rp 400.000

5 rol

Rp 2.000.000

A

Total Biaya Tetap

Rp 17.000.000

Penyusutan

1

sewa lahan

Rp 10.000.000

3 musim

Rp 3.333.333

2

Peralatan (cangkul, sabit, spayer, drum)

Rp 3.000.000

6 musim

Rp 500.000

3

Pompa

Rp 2.000.000

6 musim

Rp 333.333

4

Selang

Rp 2.000.000

6 musim

Rp 333.333

B

Biaya penyusutan per musim

Rp 4.500.000

Biaya Variabel

1

Bibit

Rp 300

20.000

Rp 6.000.000

2

pupuk

 

 

 

 

Pupuk kandang

Rp 1.000 / kg

1 ton

Rp 1.000.000

 

KCL

Rp 500.000/ sak

3 sak

Rp 1.500.000

 

Urea

Rp 400.000/ sak

2 sak

Rp 800.000

 

SP36

Rp 400.000/ sak

2 sak

Rp 800.000

3

Obat & pestisida

Rp 250.000

4 paket

Rp 1.000.000

4

Tenaga kerja

Rp 75.000

60 HOK

Rp 4.500.000

5

biaya air/ listrik

Rp 250.000

4 bulan

Rp 1.000.000

C

Total Biaya Variabel 

Rp 16.600.000

Potensi hasil panen per hektare nya bisa mencapai 1,5 ton, yang mana 1 kg tembakau kering dipasaran dihargai sekitar Rp 35.000,00. Sehingga total pendapatan untuk 1 musim tanam kurang lebih Rp 52.500.000,00. Modal yang dikeluarkan meliputi biaya tetap/ musim tanam (B) dan biaya variabel (C) sekitar Rp 21.100.000,00. Keuntungan bersih yang didapatkan yaitu Rp 31.400.000,00/ musim tanam. Berdasarkan analisis usaha diatas R/C ratio nya di angka 2,49 sedangkan B/C rasionya di angka 1,49