Login

Potensi Usaha Budidaya Jahe Gajah: Langkah Budidaya dan Analisa Bisnis

Dipublikasikan pada 08 Mei 2024 11:03:04

Potensi Usaha

Jahe (Zingiber officinale) adalah salah satu tanaman rimpang yang berbentuk jemari yang menggelembung di tengah ruas-ruasnya. Ada beberapa jenis jahe yang banyak dikonsumsi masyarakat, di antaranya jahe emprit, jahe merah, dan jahe gajah. Jahe identik digunakan sebagai bumbu dapur. Salah satu jenis jahe dengan nilai jual yang tinggi, yakni jahe gajah. Budidaya jahe gajah tidak harus membutuhkan lahan yang luas, biayanya pun rendah. Jahe merupakan rempah yang amat sering digunakan oleh orang Indonesia. Indonesia juga dikenal sebagai salah satu produsen jahe terbesar di dunia, dengan kondisi iklim yang mendukung pertumbuhan jahe yang baik. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif bagi Indonesia dalam memenuhi permintaan global akan jahe gajah.

Di tengah musim pancaroba, kebutuhan akan jahe kini cukup meningkat. Sebab jahe bisa menjadi salah satu rempah untuk meningkatkan imunitas tubuh setiap orang. Maka dari itu, permintaan pasar pun semakin tinggi dan hal ini memberikan kesempatan bagi Anda untuk mulai membudidayakan jahe gajah.

Manfaat Jahe Bagi Kesehatan

  1. Mengobati migrain dan sakit kepala
  2. Menurunkan kadar kolesterol
  3. Menyembuhkan perut kembung atau gangguan pencernaan

Syarat tumbuh

Jahe gajah dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian sekitar nol sampai 2.000 mdpl. Curah hujan yang dibutuhkan relatif tinggi yaitu antara 2.500 sampai 4.000 mm per tahun. Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman jahe antara 20 hingga 35 derajat celcius. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah subur, gembur dan banyak mengandung humus dengan pH sekitar 4,3 sampai 7,4.

Langkah budidaya

  1. Persiapan benih

    Pilihlah bibit jahe gajah yang berkualitas baik karena bibit nantinya mempengaruhi hasil yang akan didapatkan. Bibit jahe yang berasal dari tanaman induk yang tua atau minimal berumur 10 bulan. Kemudian, ambil rimpang jahe gajah yang memiliki dua mata tunas, segar, tidak lecet dan tidak berpenyakit. Rimpang jahe yang akan dibuat bibit dijemur namun jangan terlalu kering, kemudian disimpan dalam peti kayu sekitar 1 sampai 1,5 bulan hingga memiliki mata tunas.

  2. Persiapan lahan

    Pengolahan lahan dilakukan dengan membajak atau mencangkul tanah dengan kedalaman 25 cm - 30 cm, selanjutnya buat bedengan searah lereng dengan jarak tanam sekitar 60 x 40 cm. Tinggi bedengan 40 cm, lebar dan panjang disesuaikan dengan lereng, parit atau jarak antar bedengan 40 cm.

  3. Penanaman

    Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan, dengan jarak tanam yang sudah ditentukan dengan kedalaman tanam sekitar 5-7 cm. Benih diletakkan dengan hati-hati ke dalam lubang tanam dengan posisi rebah dan tunas menghadap ke atas, tanah di sekitar benih agak dipadatkan agar benih kokoh, lalu benih ditutup dengan tanah.

  4. Perawatan

    Penyiraman

    Jahe termasuk tanaman yang tidak menyukai tempat yang tergenang. Masa kritis kebutuhan air bagi tanaman jahe sampai pada tahap pertumbuhan vegetatif optimum (6 bulan setelah tanam)

    Penyiangan

    Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma sampai umur 6 BST. Sementara Pembumbunan dilakukan setelah penyiangan mulai umur 3 bulan yaitu dengan cara melakukan perbaikan saluran drainase pemisah petak juga harus dilakukan dengan cara menaikkan permukaan tanah pada petak tanaman pada saat musim hujan.

    Pemupukan

    Pemupukan awal pada saat pengolahan lahan diberikan pupuk organik/pupuk kandang 0,5-1 kg/lubang. Diberikan 2-4 minggu sebelum penanaman. Pada umur 4 BST dapat pula diberikan pupuk kandang kedua sebanyak 20 ton/ha. Apabila diperlukan, pupuk anorganik diberikan dengan dosis 300-400 kg urea per ha yang diberikan dalam tiga agihan masing masing 1/3 dosis pada umur 1, 2 dan 3 BST, sedangkan SP-36 300 kg/ha dan KCL 400 kg/ha diberikan pada waktu tanam.

    Panen

    Untuk jahe gajah dapat panen dapat dilakukan pada umur 6-10 BST, sedangkan untuk benih dapat dipanen setelah daun menguning dan mati, umur lebih dari 9 BST. Panen dapat dilakukan dengan cara membongkar seluruh rimpang menggunakan garpu, kemudian rimpang diangkat secara keseluruhan, setelah itu tanah dan akar yang menempel dibersihkan.

    Ciri-ciri rimpang siap panen :

    - Warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering
    - Kulit rimpang terlihat kencang dan tidak mudah terkelupas
    - Apabila dipatahkan berserat dan aroma rimpang menyengat
    - Warna rimpang mengkilap.dan terlihat bernas

    Pasca panen

    Untuk kebutuhan konsumsi, rimpang yang sudah dipanen dicuci bersih dengan air mengalir,Tempat pencucian diupayakan menggunakan air mengalir sehingga sisa pencucian langsung terbuang pencucian dilakukan dengan sikat plastik untuk menghilangkan kotoran dari hasil panen dan mengurangi mikroba yang menempel pada rimpang jahe. Pencucian dilakukan secara bertahap (dalam bak-bak pencucian bertingkat). kemudian ditiriskan dan dikering anginkan, lalu masukkan kedalam karung dan disimpan. Sementara untuk keperluan benih, rimpang yang telah dibersihkan dimasukan dalam karung jala, atau disusun di atas rak/para para, di ruang penyimpanan yang sejuk, ventilasi, tidak bocor, penerangan cukup, tidak kena sinar matahari langsung, dan bebas dari hama gudang.

Hambatan bisnis jahe

  1. Nilai jual jahe akan sangat ditentukan berdasarkan kualitas jahe. Jadi jika panen jahe gagal atau tidak bagus, risiko harganya pun cukup rendah. Sebab konsumen juga lebih berminat pada jahe yang berkualitas baik.

  2. Jika dibandingkan dengan jahe di luar negeri, kualitas jahe di Indonesia ternyata masih rendah. Sehingga tantangan bagi pembudidaya jahe pemula adalah dapat melakukan perawatan jahe dengan baik supaya hasilnya juga lebih baik.

  3. Tanaman jahe jika sudah terkena penyakit, maka dapat menyebabkan semua tanaman juga ikut terkena dampaknya. Sehingga hasil panen pun nantinya tidak akan cukup bagus. Maka ketika hama sudah menyerang, Anda harus dengan segera melakukan penanganan. Pencegahan terhadap hama juga sangat disarankan, supaya tanaman tetap sehat dan hasilnya maksimal.

Analisis ekonomi

Dengan asumsi:

  • Luas lahan : 1 ha
  • Hasil panen: 25.000 kg
  • Usia panen : 10 bulan
  • Harga jual : Rp 10.000/kg

A. Input

 

Uraian

volume

Satuan

Harga

Jumlah

 

A. Tenaga Keria

 

 

 

 

 

Pembersihan Lahan

5

HOK

60,000

300000

 

Pengolahan Tanah

32

HOK

60,000

1920000

 

Penyiraman

32

HOK

60,000

1920000

 

Pemupukan

28

HOK

60,000

1680000

 

Penanaman

28

HOK

60,000

1680000

 

Pengendalian Gulma

40

HOK

60,000

2400000

 

Pengendalian OPT

30

HOK

60,000

1800000

 

Panen

32

HOK

60,000

1920000

 

Pasca Panen

10

HOK

60,000

600000

Total

Rp.14.220.000

 

B. Sarana Produksi

 

 

Benih

3000

Kg

15,000

45000000

 

insektisida

2

kg

40,000

80000

 

fungisida

5

kg

80,000

400000

 

agen hayati

18

liter

40,000

720000

 

Urea

600

kg

5,000

3000000

 

KCL

300

kg

8,000

2400000

 

SP 36

400

kg

9,000

3600000

 

Pupuk Kandang

20,000

kg

2,000

40000000

Total                                                                                                                                                              Rp.95.200.000

Total biaya input

 

Rp.109.420.000

 

 

 

 

 

 

B. Output

 

Uraian

Volume

Satuan

Harga

Jumlah biaya

 

Produksi

25,000

kg

10,000

250.000.000

 

C. Keuntungan

 

Keuntungan sekali panen                                                                                                                         Rp.140.580.000