Login

Potensi Usaha Pupuk Organik : Olah Kotoran Sapi Jadi Sumber Cuan

Dipublikasikan pada 20 Maret 2024 10:59:21

Potensi Usaha

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa kotoran sapi dapat digunakan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman. Pupuk kotoran sapi mengandung 1,3 % Nitrogen, 0,3 % Fasfor, dan 0,5 % kalium serta unsur hara mikro lainnya seperti Ca dan Mg. Kadar tersebut sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang pupuk organik. Akan tetapi untuk hasil yang maksimal kotoran sapi harus diolah terlebih dahulu agar unsur hara tersebut menjadi tersedia dan dapat diserap oleh tanaman. Pengolahan pupuk tersebut berupa fermentasi yang dilakukan secara semi aerob di tempat yang teduh selama kurang lebih 1 bulan. Jika tidak diolah dan langsung diberikan ke tanah maka diperlukan waktu lama agar unsur hara tersebut dapat menyatu dengan tanah dan waktu tanam pun juga akan mundur.

Satu ekor sapi mampu menghasilkan 20 kg kotoran/ feses setiap harinya. Kadar air kotoran sapi basah sekitar 70-80 % sedangkan untuk menjadi pupuk organik yang siap di aplikasikan kadar air harus diturunkan menjadi 20 %. Sehingga 1 ton kotoran sapi nantinya dapat menjadi 250 kg pupuk organik. Cara pembuatannya pun sangat mudah sekali yang perlu dipersiapkan diantaranya kotoran sapi, kapur dolomit, EM4, molase, spayer, sekop, terpal, mesin penggiling pupuk, timbangan, angkong, karung, dan jahitan karung.

Cara pembuatan pupuk organik kotoran sapi

  1. Kering anginkan kotoran sapi agar kadar airnya berkurang di tempat yang teduh dan tertutup atap

  2. Campur EM4 dengan molase dan air dengan perbandingan 1:1:20 sebagai dekomposer, diamkan selama 1 hari sebelum digunakan

  3. Kemudian jereng/ ratakan kotoran dengan ketinggian 10 cm

  4. Semprot dekomposer yang sudah dibuat menggunakan sprayer secara merata

  5. Taburkan kapur dolomit di permukaan kotoran secukupnya hingga merata.

  6. Kemudian dilapisi kembali dengan kotoran sapi, dekomposer, dan kapur dolomit diatasnya

  7. Ulangi proses tersebut hingga membentuk beberapa lapisan sesuai ketinggian yang dikehendaki.

  8. Proses fermentasi berlangsung selama 1 bulan kemudian pupuk dikeringkan

  9. Setelah kering pupuk digiling dan di kemas

Berikut analisis usaha pupuk organik kotoran sapi untuk masa pembuatan 1 bulan

 

No

Item

Harga

Jumlah

Total

Biaya Tetap

1

Alat penggiling pupuk

Rp 3.000.000

1

Rp 3.000.000

2

Spayer

Rp 720.000

1

Rp 720.000

3

Sekop

Rp 60.000

2

Rp 120.000

4

Jahitan karung

Rp 600.000

1

Rp 600.000

5

Angkong

Rp 720.000

1

Rp 720.000

6

Timbangan

Rp 420.000

1

Rp 420.000

A

Total Biaya Tetap

Rp 5.580.000

Penyusutan

1

Alat penggiling pupuk

Rp 3.000.000

30

Rp 50.000

2

Spayer

Rp 720.000

30

Rp 12.000

3

Sekop

Rp 120.000

30

Rp 2.000

4

Jahitan karung

Rp 600.000

30

Rp 10.000

5

Angkong

Rp 720.000

30

Rp 12.000

6

Timbangan

Rp 420.000

30

Rp 7.000

B

Biaya penyusutan per musim

Rp 186.000

Biaya Variabel

1

EM 4

Rp 25.000

2 liter

Rp 50.000

2

Molase

Rp 10.000

2 liter

Rp 20.000

3

Kapur dolomit

Rp 1.000

20 kg

Rp 20.000

4

Karung (25 kg)

Rp 1.500

120 pcs

Rp 180.000

5

Benang jahit

Rp 7.500

2 rol

Rp 15.000

6

Bahan bakar mesin giling

Rp 10.000

3 liter

Rp 30.000

7

Tenaga kerja

Rp 75.000

6 HOK

Rp 450.000

C

Total Biaya Variabel 

Rp 765.000

D

Total Pendapatan (3 ton pupuk, 1 kg harga Rp 1.000)

Rp 3.000.000

Analisis usaha diatas adalah untuk jumlah sapi 20 ekor yang mana setiap harinya mampu menghasilkan 400 kg kotoran basah sehingga dalam 1 bulan sekitar 12 ton. Dari 12 ton kotoran sapi basah dapat diolah menjadi 3 ton pupuk organik. Pupuk organik tersebut nantinya akan dikemas kedalam karung 25 kg yang mana per karungnya dijual 25 ribu rupiah. Sehingga total pendapatan untuk 1 bulan sekitar 3 juta/ 20 ekor sapi. Modal yang dikeluarkan meliputi biaya tetap/ bulan (B) dan biaya variabel (C) sekitar 951 ribu rupiah. Keuntungan bersih yang didapatkan yaitu Rp 2.049.000,00 / bulan. Berdasarkan analisis usaha diatas R/C ratio nya di angka 3,15 sedangkan B/C rasionya diangka 2,15. Usaha budidaya jagung manis sangat layak dan menguntungkan karena nilai R/C rationya lebih dari 1. Perhitungan tersebut berlaku jika memiliki sapi sendiri, jika tidak maka perlu biaya tambahan untuk membeli kotoran sapi basah.