Sektor pertanian dan perkebunan di Indonesia saat ini terus berkembang, salah satunya adalah budidaya jeruk pamelo madu. Jenis jeruk ini memiliki buah yang besar dengan kulit tebal dan rasa manis. Ukurannya bisa mencapai 2 kilo lebih per buah.
Di Kabupaten Pati terdapat daerah penghasil jeruk pamelo, tepatnya di Desa Bageng, Gembong, Pati. Di Desa ini hampir semua rumah atau keluarga memiliki tanaman jeruk pamelo di tanah pekarangan mereka, minimal punya tiga pohon.
Salah satu petani yang sukses membudidayakan jeruk pamelo adalah Abdul Rouf. Saat ini, Abdul Rouf bukan hanya menjadi petani dan pedagang, tapi juga memiliki usaha pembibitan untuk jenis jeruk pamelo dan berbagai tanaman lainnya.
Keuntungan Budidaya Jeruk Pamelo Madu
Salah satu komoditas tani yang mulai menggeliat di Kabupaten Pati adalah jeruk pamelo. Menurut Abdul Rouf, menanam tanaman ini cukup menghasilkan. Karena hasilnya cukup banyak dan bisa dikatakan perawatannya juga tidak terlalu sulit.
Budidaya jeruk pamelo madu memang membutuhkan lahan tanam yang luas, karena pohonnya besar dan memiliki cabang-cabang menyebar. Idealnya, jarak per tanaman adalah 8x8 meter, tapi Abdul Rouf menanam dengan jarak 4x5 saja sehingga bisa menghemat lebih banyak lahan.
Dalam satu lahan berukuran 15x25 meter bisa memuat sebanyak 24 pohon. Sedangkan dalam satu hektar tanah dapat menanam sebanyak 400 pohon. Untuk setiap pohon dapat menghasilkan sebanyak 50-200 buah setelah usia 3 tahun.
Untuk usia 5 tahun ke atas buahnya dapat mencapai 100-200 buah dengan panen yang dapat dilakukan sepanjang tahun. Hasil maksimal petani adalah pada bulan Januari dan Februari, saat panen raya terjadi.
Jika memiliki satu pohon saja yang berbuah 50 biji dengan berat 1 kg dan harga jual Rp20 ribu, maka hasil didapatkan mencapai Rp1 juta per pohon. Ini merupakan hasil minimal yang didapatkan dari satu pohon setelah 3 tahun masa penanaman.
Cara Atasi Hama dalam Budidaya Jeruk Pamelo Madu
Dalam budidaya jeruk pamelo sebenarnya tidak terlalu sulit, perawatannya seperti pada tanaman-tanaman lain. Terutama harus memerhatikan pemberian pupuk serta penanganan terhadap hama pengganggu.
Ada 3 jenis hama pengganggu tanaman satu ini, yaitu hama serbuk putih yang menyerang batang, belalang penyerang daun, dan ada lalat buah menyerang pada buah jeruknya. Petani memang harus sangat waspada pada ketiga jenis hama ini.
Untuk mengatasinya petani yang mengembangkan budidaya jeruk pamelo madu menggunakan cara penyemprotan insektisida. Penyemprotan dilakukan setidaknya seminggu sekali sehingga hama-hama tidak dapat berkembang dan membahayakan tanaman.
Karena adanya keharusan penyemprotan inilah yang membuat biaya perawatan cukup tinggi, tapi cukup berbanding dengan harga jual buahnya. Biasanya dijual dengan harga Rp20 ribu per kilo.
Saat ini, permintaan jeruk pamelo masih cukup tinggi, setidaknya sebulan sekali Abdul Rouf akan melakukan pengiriman ke berbagai daerah di wilayah Jawa dan Jakarta. Terutama saat perayaan Imlek permintaan akan lebih tinggi.
Buah jeruk pamelo madu yang dikembangkan petani Desa Bageng memiliki ciri khas daging buah berwarna merah dan tidak berbiji. Rasanya juga lebih manis dengan ukuran standar 1-1,5 kg, bisa mencapai 2 kg.
Panen akan dilakukan apabila buah sudah berwarna kekuningan dan panen dilaksanakan sepanjang tahun. Sebab tanaman yang sudah berusia 3 tahun akan terus berbunga sepanjang tahun dan menghasilkan buah secara bergiliran.
Pengembangbiakan jeruk pamelo madu di Indonesia memang bisa dikatakan masih sedikit. Karena belum banyak petani menyadari bahwa hasil budidaya jeruk pamelo madu sangat menggiurkan, bahkan mampu menghasilkan hingga Rp1 juta per pohon dalam sekali panen.