Login

Pelestarian Ribuan Sapi Bali Unggul oleh BPT HPT Denpasar

Dipublikasikan pada 11 Agustus 2022 13:13:14

Inspirasi Petani

Pelestarian sapi Bali mulai dikembangkan oleh BPTU HPT kawasan Denpasar. Kondisi ini didasari atas hewan tersebut merupakan khas Indonesia yang seharusnya dilestarikan. Maka tahun 1977 dibentuk P3.

Pusat pengembangan dan dan pembibitan ini, mengalami pengembangan dari segi status pada tahun 2007. Jadi, namanya diubah BPTU dan pada 2013 terjadi reorganisasi hingga akhirnya ditambahkan HPT.

Sampa saat ini mereka mengelola 102 hektar yang dibagi menjadi beberapa bagian mulai dari pengembangan, kebun rumput, produksi sampai bibit. Jumlah populasinya sendiri mencapai 1117 ekor.

Pelestarian Sapi Bali dan Pemeliharaannya

Dalam proses pemeliharaannya, hewan ini melalui proses penggembalaan di padang rumput yang luas. Untuk makanannya sendiri BPTU menggunakan rumput gajah dugres yang dinilai cukup bagus untuk pertumbuhannya.

Tetapi, dalam pemberian makanan ini tidak boleh sembarangan. Artinya saat memberikan makan hanya boleh dilakukan sesuai dengan berat badanya. Jadi, tidak semua hewan mendapatkan porsi yang sama.

Pelestarian sapi Bali sendiri juga harus memperhatikan prosentase pemberian makanan. Jadi, untuk rumput sendiri pemberiannya sekitar 10% dari berat badan. Kemudian, konsentrat sekitar 2,5% sehingga totalnya mencapai 25 ton.

Pemberian yang sama juga dilakukan untuk jenis pedet. Dalam melengkapi nutrisinya, pihak petugas akan melengkapinya dengan competidor BW. Bukan hanya pemberian makanan saja, tetapi kesehatan juga harus dilakukan perawatan kesehatan.

BPTU HPT ini sudah mempunyai dokter khusus yang akan menangani seluruh hewan tersebut. Mereka selalu mencanangkan untuk keluar dan masuk terbebas dari berbagai macam gangguan penyakit yang mengancam.

Pelestarian sapi Bali seperti ini akan dilakukan secara rutin, setidaknya para petugas siap melakukannya setiap hari dan bulan. Untuk tugas dan kegiatannya sudah di bagi sesuai dengan hari dan bulannya.

Proses Pemeriksaan yang Dilakukan Disini

Dalam tahap ini mereka akan memeriksa kondisi fisik hingga kandungan. Dengan begin proses pemantauannya menjadi mudah. Apalagi, seluruh hasil tersebut sudah dicatat tersendiri, apakah tidak keliru nantinya?

Jawabannya adalah tidak karena, pada pelestarian sapi Bali tersebut pihak petugas sudah memberikan cip sebagai tanda. Selain itu, juga ditulis menggunakan angka manual, maka sulit untuk tertukar.

Dalam tahap pemeriksaan ini, petugas juga akan memberikan vitamin sebagai salah satu pencegahan terbaik. Dimana, pemberiannya ini dilakukan selama 1 bulan satu kali, kemudian 6 bulan sekali gracing.

Masih dalam siklus 6 bulan sekali, vaksin berupa obat cacing juga akan dimasukkan. Selanjutnya dalam siklus tahunan akan ditambahkan dengan jembrana. Semua itu membuat kondisi hewan menjadi bugar dan bagus.

Selain itu, dengan metode seperti ini pengendalian terhadap 12 penyakit dapat dilakukan dengan mudah. Selain vitamin, ada beberapa langkah lagi yang akan diterapkan, sebagai upaya dari pencegahan tersebut.

Sistem Karantina Terhadap Sapi Akan Dilakukan

Dalam proses pelestarian sapi Bali ini para petugas akan melakukan proses karantina terlebih dulu selama 14 hari. Hal itu dilakukan bagi Fauna yang hendak masuk, selama itu mereka akan meneliti.

Pengujian 12 jenis penyakit dilakukan menggunakan metode pemeriksaan laboratorium. Jika, terdeteksi satu saja terkena, maka dilarang untuk masuk ke dalam. Jadi, hasilnya harus bagus dan tidak ada indikasi sama sekali.

Hal ini juga dilakukan ketika, salah satunya akan keluar. Jadi, penyakit tidak bisa menular ke kawasan BPT atau diluar. Harus diakui jumlahnya yang mencapai ribuan ini membutuhkan pencatatan yang bagus.

Dalam hal ini mereka memanfaatkan aplikasi sebagai salah satu upaya agar proses pemantauan tersebut dapat berjalan lancar. Jadi, setiap hasil pemeriksaan langsung dilaporkan, sehingga data yang ada selalu update.

Fauna khas Indonesia ini memang sudah sepantasnya untuk dipelihara dengan baik. Maka dari itu, pelestarian sapi Bali didirikan agar keberadaannya tidak punah baik itu oleh manusia atau virus serta penyakit.