Login

Studi Kasus Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Beras Premium

Dipublikasikan pada 01 Nopember 2018 15:26:46

Berita & Artikel

Permintaan dan pasar beras di Indonesia saat ini sedang dalam proses transisi, seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan preferensi konsumen. Konsumen semakin menuntut pangan berkualitas, praktis dan mudah diperoleh. Permintaan beras mulai berubah, dari beras kualitas medium yang dijual curah menuju ke beras kemasan dengan kualitas premium. Transisi ini relatif baru dibandingkan dengan minyak goreng yang telah terjadi sekitar 10–15 tahun lalu. 

Kebutuhan beras premium nasional pada 2016 diperkirakan sekitar 30% (9,69 juta ton/tahun), beras medium 50%, dan kualitas rendah (asalan) 20%. Namun permintaan terhadap beras premium ini belum diimbangi dengan penyediaannya, sehingga harus mengimpor. Potensi pasar beras premium yang terus meningkat dan selisih harga dibanding beras premium sekitar Rp 3.000/kg, merupakan peluang bagi para petani kecil dan para pelaku lain. Bagi petani kecil, peluang ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan di pedesaan. 

Penanganan pasca panen

Modernisasi pertanian di Indonesia selama ini lebih difokuskan untuk meningkatan produksi padi dan praktik budidaya, namun belum begitu memperhatikan pentingnya perbaikan kualitas gabah yang dihasilkan. Rendahnya rendemen, kadar hampa, serta kualitas gabah yang dihasilkan akan berpengaruh negatif terhadap total produksi gabah dan kesejahteraan petani. Pada musim panen raya bulan Maret-Mei, terjadi penurunan kualitas gabah. Tingginya intensitas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), kebanjiran, dan kekeringan juga menurunkan produksi dan produktivitas padi, juga menurunkan kualitas gabah dan beras. 

Agar dapat menghasilkan gabah berkualitas tinggi dari tanaman padi yang sehat, petani perlu menggunakan teknik budidaya yang baik dengan memperhatikan: (1) kesehatan lahan, (2) pengelolaan air irigasi, (3) penggunaan varietas unggul dengan benih bersertifikat, dan (4) pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengelolaan tanaman yang baik dapat dilaksanakan secara efektif melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi.

Selain masih menghadapi rendahnya kualitas gabah yang dihasilkan, penanganan pasca panen padi juga masih menjadi masalah bagi para petani Indonesia. Pada tahun 2017 petani Indonesia menghasilkan gabah 81.38 juta ton. Kehilangan hasil selama penanganan pasca panen cukup tinggi, yakni sekitar 20%. Selain itu, selain masalah mutu gabah dan beras yang rendah. Kehilangan hasil terjadi pada semua tahapan, yakni pada tahapan pemanenan 9,19%, perontokan 4,98%, dan penggilingan 3,25%. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kehilangan hasil panen antara lain: varietas padi (beberapa varietas padi mudah rontok), alat dan cara panen yang menentukan besar kecilnya kehilangan hasil, perilaku petani/penderep, umur panen, alat perontok, lokasi dan musim.  

Memang, dalam 20 tahun terakhir sebakin banyak tersedia berbagai teknologi panen, pascapanen, dan penggilingan padi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas gabah/beras. Namun, penerapannya masih terkendala rendahnya insentif yang diperoleh petani dan pelaku usaha lainnya. Teknologi padat karya pada umumnya masih diterapkan petani, meskipun upah buruh terus meningkat. Unit penggilingan padi skala kecil masih mendominasi industri pengolahan gabah. Indonesia jauh tertinggal dalam penerapan teknologi panen, perontokan, pengeringan, dan penggilingan padi dibandingkan dengan beberapa negara produsen beras di Asia, seperti Vietnam, Thailand, dan China.

Penggilingan padi merupakan titik sentral agroindustri padi, karena dari sinilah diperoleh produk utama berupa beras dan produk lainnya. Sekitar 65% penggilingan padi yang beroperasi adalah penggilingan padi kecil (PPK) dan rice milling unit (RMU). Kondisi teknologi unit penggilingan padi skala kecil yang sudah tua menjadi penyebab rendahnya kualitas beras serta tingginya kehilangan hasil pada kegiatan penjemuran dan penggilingan. Rendemen giling gabah di Indonesia juga jauh tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara produsen padi di Asia. Rendemen gabah kering giling di China mencapai 70%, Thailand 69,1%, sementara di India, Bangladesh, dan Vietnam masing-masing 66,6%, sedangkan di Indonesia 62,7%.

Pasar Beras Premium

Meningkatnya pendapatan masyarakat menuntut kualitas beras yang lebih baik tetapi dalam jumlah yang menurun. Meski demikian, jumlah konsumsi beras agregat nasional terus meningkat. Beras premium dalam kemasan semakin menjadi pilihan konsumen terutama di perkotaan bahkan di pinggiran kota. Beras premium kemasan memungkinkan konsumen semakin mudah mendapatkan beras yang dibutuhkan. Tidak hanya dijual di ritel modern, beras kemasan juga dijajakan oleh para pedagang beras eceran di pasar atau toko-toko beras di pinggir jalan. 

Kualitas beras kemasan pada umumnya lebih baik, utuh, warnanya putih, rasanya pulen dan wangi, serta beberapa kelebihan lainnya. Ukuran kemasannya juga beragam, mulai 1 kilogram (kg), 2 kg dan 5 kg, sehingga praktis untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga dan memungkinkan untuk mendapatkan beras baru. Dengan selisih harga yang tak terpaut jauh, konsumen bisa mendapat jaminan beras sehat dari perusahan yang sudah menerapkan standar mutu. 

Permintaan beras kemasan semakin berkembang dan mengundang banyak pemain ikut meramaikan pasar. PT Buyung Poetra Sembada BPS, misalnya, tahun 2017 mematok target pertumbuhan 20% beras premium yang dikemas dengan merek Topi Koki. Topi Koki di pasar modern masih mendominasi hingga 67,67%. Sisanya, dari pasar tradisional  28,41% dan penjualan online 3,92% yang baru diterapkan tahun 2016. PT BPS ini menargetkan penjualan beras kemasan pada 2017 sebesar Rp 1,3 triliun atau 130.000 ton. Nilai itu  naik 18% dari 2016 sebesar Rp 1,1 triliun. 

Peningkatan permintaan beras berkualitas dalam kemasan ini juga menjadi peluang bagi jutaan keluarga petani kecil dan para pelaku perberasan lain. Namun, kemampuan petani kecil untuk memproduksi beras premium masih rendah, karena mereka kurang memiliki akses terhadap input pertanian yang berkualitas, teknologi budidaya, alat dan mesin, kredit, asuransi, jaminan harga dan pasar. Ancaman perubahan iklim dan lemahnya kapasitas organisasi petani juga menyebabkan rendahnya produktifitas dan kualitas padi.

Perubahan struktural pasar pangan ini menuntut perbaikan koordinasi vertikal dalam rantai nilai melalui penyelarasan dalam rantai pasokan terkoordinasi para pelaku rantai nilai perberasan. Tantangan ini perlu dijawab dengan inovasi dan kerjasama antara petani, perusahaan swasta, NGO, serta peran baru Pemerintah (Kementerian dan Dinas Pertanian), donor internasional, dan lembaga publik lainnya. Mereka perlu merumuskan terobosan baru tentang peran setiap pelaku dan dan peran bersama untuk menumbuhkan gairah sektor pertanian pangan dan meningkatkan dukungan terhadap petani kecil penghasil padi.

Artikel ini pernah dimuat di Sustainable Landscape Newsletter edisi Juni 2018

Sustainable Landscape Newsletter merupakan kerjasama antara Program Sustainable Landscape in Central Java dengan Tanilink.com

Referensi:

Beras pratanak atau (parboiled rice)