Sebagai komoditas primadona di wilayah dataran tinggi, budidaya kentang dieng terbilang cukup berpengaruh terhadap perekonomian masyarakatnya. Hal ini dikarenakan harganya yang cenderung lebih mahal daripada jenis kentang lainnya.
Terlebih lokasi penanaman di daerah subur dengan suhu sejuk membuat tanaman seperti kentang berpotensi memiliki kualitas bagus. Namun bukan berarti membudidayakan kentang pada lahan dataran tinggi tidak ada kendalanya.
Saiful, petani kentang di Dieng, Banjarnegara turut membagikan kisahnya selama bertani kentang selama 20 tahun. Kami akan memaparkan hama, penyakit, kendala apa saja yang dihadapi jika melakukan budidaya kentang dieng.
Hama dan Penyakit Saat Budidaya Kentang Dieng
Saiful, memiliki lahan seluas 500 meter, sehingga ia membutuhkan benih hingga mencapai 3 sampai 3,5 kwintal. Jadi untuk hasil panennya nanti juga tidak main – main, yaitu bisa mencapai sekitar 3 ton.
Pada umumnya, dalam lahan 1 hektar mampu menghasilkan 20 – 25 ton kentang. Rata – rata harganya mulai dari Rp. 10.000 sampai Rp. 13.000 per kilogram. Kentang dieng ini dapat dipanen setelah usianya memasuki 100 – 120 hari.
Untuk budidaya kentang sendiri, masa penanamannya menghabiskan waktu sekitar 4 bulan. Sedangkan perawatan dan pengobatan budidaya kentang dieng berupa penyemprotan pestisida terbilang lumayan menghabiskan banyak tenaga.
Namun ada hama dan penyakit yang harus dihadapi oleh para petani kentang dieng dalam membudidayakannya. Apabila memasuki musim penghujan, dalam seminggu Saiful dapat menyemprot sekitar 3x sejak umur 15 hari setelah masa penanaman.
Tujuannya adalah meminimalisir penyakit busuk daun maupun busuk batang. Sedangkan hama serangga pada budidaya kentang dieng juga bisa hadir, namun pada musim – musim tertentu, bahkan cenderung ketika musim kemarau tiba.
“Jadi di musim penghujan lebih sering ada penyakit, sedangkan musim kemarau lebih banyak hamanya,” ungkap Saiful. Untuk hamanya sendiri, kebanyakan berupa kutu kebul yang menyebabkan bentuk daun jadi lebih mengkerut.
Sementara itu, Saiful juga menjelaskan bagaimana caranya agar menghasilkan bibit kentang yang bagus dan berkualitas. Awalnya, kentang perlu disimpan untuk didiamkan sampai menunggu masa panen.
Setelah memasuki masa panen budidaya kentang dieng, maka kentang tersebut dipilah. Untuk bibit dikumpulkan disemprot dengan obat hama sampai kering dengan cara dijemur di bawah terik matahari selama 1 hari.
Setelah itu, barulah bibit kentang dapat disimpan ke dalam karung – karung goni. Penyimpanan dalam karung gono tersebut menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 bulan.
Kendala Dalam Menanam Kentang Dieng
Seperti yang sudah disinggung pada pembahasan sebelumnya, budidaya kentang dieng tidak lepas dari kendala, dan berujung pada kerugian. Umumnya, faktor cuaca ekstrim dapat berpotensi terjadinya gagal panen.
Misalnya ketika terjadi angin kencang, maka tanaman kentang terimbas akibat adanya embun upas yang biasanya terjadi di bulan Agustus. Tidak jarang hal ini menyebabkan tanaman kentang membeku dan akhirnya mati.
Tidak hanya itu, apabila terdapat salah perawatan maupun penanganan juga berpotensi risiko gagal panen. Memang dalam musim hujan, intensitas perawatan pada budidaya kentang dieng lebih tinggi, misalnya penyemprotan pestisida.
Ditambah lagi, jika tidak dapat menciptakan bibit sendiri, maka menjadi tambahan tantangan tersendiri bagi para petani kentang. Dikarenakan harga bibit yang cenderung mahal sera kualitasnya tidak menentu menjadi kekhawatiran mereka.
Kentang dieng sendiri memiliki kualitas berbeda tergantung dari hasil produksi saat musim kemarau atau musim hujan. “Beratnya sama, tapi secara kualitas berbeda sehingga berpengaruh di harga jual,” ungkap Saiful.
Jadi, pada intinya semua budidaya memang membutuhkan kecakapan dan ketelatenan dalam perawatannya, khususnya kentang dieng. Faktor cuaca, hama, dan penyakit perlu diperhatikan jika Anda memutuskan untuk budidaya kentang dieng.