Budidaya tanaman paprika bisa memberikan hasil memuaskan walaupun tidak menggunakan lahan yang luas. Misalnya memakai green house, seperti yang dilakukan oleh Iwan salah seorang petani paprika asal Wonosari, Tutur, Pasuruan.
Melansir Tanilink TV, beliau sudah menjalani budidaya tanaman ini selama 14 tahun. Jumlah tanaman paprika yang dimiliki sekitar 4.500 dengan penanaman bertahap, tidak serentak. Beliau memiliki 2 green house, sebagai antisipasi saat pasar sepi pada bulan tertentu.
Tidak Memerlukan Lahan Luas untuk Proses Budidaya Tanaman Paprika
Iwan menerangkan bahwa budidaya paprika tidak memerlukan lahan luas. Beliau memiliki green house seluas 450 dan 400. Mengenai waktu tanam paprika ini membutuhkan sekitar 90 hari untuk bisa petik hijau.
Sedangkan untuk bisa panen merah, waktu yang diperlukan lebih lama yaitu 120 hari. Jika perawatan budidaya tanaman paprika tepat, umur maksimal yang sanggup dicapai hingga 1 tahun.
Hasil panen untuk 1 pohon bisa 3 hingga 4 kg dalam kurun waktu 1 tahun. Terkait masa panen, 1 minggu sebanyak 2 kali. Setiap panen menghasilkan 3 kuintal paprika. Harga jualnya jenis hijau Rp. 16.000 per kg, sedangkan merah Rp. 35.000 per kg.
Iwan mengatakan bahwa panen yang sering dilakukan saat warnanya hijau karena setelah dipetik bunga bagian atas langsung jadi. Berbeda dengan merah yang menghasilkan buah lebih sedikit. Media tanam yang dipakai murni arang sekam.
Sebelum proses penanaman, media dijenuhi terlebih dahulu menggunakan pupuk AB mix selama 24 jam. Untuk mempermudah proses pengairan, Iwan menggunakan sistem drip. Kebutuhan air di pagi hari sebanyak 250 ml, sedangkan saat panas mulai terik 300-400 ml.
Akan berbeda kebutuhan air pada budidaya tanaman paprika ini saat musim kemarau dan penghujan. Ketika musim kemarau, penyiraman bisa hingga 5 kali dalam sehari, mulai dari jam 7 pagi, 9, 11, 1, diakhiri pukul 4 sore.
Hama paling merugikan saat membudidayakan paprika ini yaitu trip. “Biasanya kalau kena trip tunas muda bisa ngluntung, menggulung, itu susah dikendalikan, jadi hasil panen bisa merosot”, Iwan menjelaskan.
Saat tanaman terserang hama trip, harus segera diatasi supaya tidak menyebar. Jadi, intens melakukan monitoring sangat diperlukan. Hama lainnya yang biasanya menganggu adalah lalat buah dan tikus.
Perawatan Green House untuk Menjamin Kualitas Tanaman Paprika
Budidaya tanaman paprika menggunakan green house memerlukan perawatan intens untuk menjamin kualitas hasil panennya. “Plastik yang ada di atas atap ini harus sering kita cuci ya, dalam 1 musim, paling tidak minim 2 kali cuci”, terang Iwan.
Proses pencuciannya memakai lap pel yang memiliki pegangan. Akibat bila tidak dicuci adalah bunga paprika banyak yang rontok karena intensitas cahayanya kurang. Sedangkan untuk paranet, dicuci saat akan memasukkan tanaman baru.
Sekeliling bagian tepi semuanya di semprot memakai air bertekanan tinggi. Tujuannya supaya jamur yang ada pada insect net rontok dengan kurun waktu 1 tahun sekali.
Iwan melakukan pemasaran terhadap hasil budidaya tanaman paprika ini ke Batu, Lawang dan para pengepul. Jadi, untuk pengiriman ke luar Jawa, bukan langsung dari Iwan, tapi dilakukan oleh pengepul tersebut.
Mengenai syarat budidaya, lokasi green house milik Iwan berada di ketinggian 950 dengan kelembapan antara 80 hingga 90 persen. Suhu pada malam hari sekitar 17 derajat, sedangkan siang maksimal 40 derajat di dalam green house.
Selain AB mix, ada juga tambahan pupuk lainnya yang diberikan untuk daun, seperti gandasil atau super K. Bila ada jamur diberikan pupuk fungi. Bila tidak ada serangan jamur pada budidaya tanaman paprika, tidak akan diberikan untuk menekan biaya pengeluaran.