Login

Sembarangan Buang Kotoran Ternak, Buat Bumi Makin Panas

Dipublikasikan pada 01 Nopember 2018 15:21:04

Berita & Artikel

Sektor peternakan memberikan andil besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Permintaan masyarakat akan produk peternakan meningkat dari tahun ke tahun. Sapi merupakan salah satu ternak yang paling diminati di Indonesia. Daging sapi telah menjadi bagian penting dari kuliner Indonesia, seperti rendang, abon, bakso, rawon, dan sebagainya. Bahkan bagi sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia, menyantap daging sapi dan kambing merupakan tradisi yang tidak bisa dilewatkan. 

Salah satu media nasional pernah memberitakan bahwa dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, kontribusi sub sektor peternakan sebesar 1,57% terhadap PDB Nasional tahun 2017. Pada tahun 2017, tercatat nilai ekspor peternakan sebesar 623,9 juta dolar Amerika dengan tujuan ekspor ke lebih dari 110 negara. Volume ekspor komoditas peternakan dari Jawa Tengah bahkan terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2014, provinsi Jawa Tengah mampu melakukan ekpor hingga 17 juta ton. Sedangkan pada tahun 2016, angka ini meningkat 10 juta ton menjadi 27 juta ton. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga mencatat bahwa terjadi peningkatan populasi ternak setiap tahun, terutama sapi, kerbau, dan kambing.

Di pedesaan, sangat biasa bagi sebuah keluarga untuk memiliki beberapa ekor ternak. Jenis ternak yang dipelihara umumnya ayam kampung, namun juga tidak jarang sebuah keluarga memelihara 1 – 2 ekor ternak memamah biak seperti sapi, kambing, atau kerbau. Sapi memerlukan waktu sekitar 2 tahun hingga siap potong. Karenanya, masyarakat pedesaan biasanya memelihara sapi atau kambing sebagai “tabungan jangka panjang”, yang biasanya dijual saat perayaan hari raya, untuk modal pernikahan atau dana tambahan untuk sekolah. Tahun 2018, harga sapi potong seberat 500 kg dapat mencapai 20 juta per ekor. Di beberapa daerah, seperti Boyolali, dimana sapi merupakan ternak andalan, setiap keluarga bahkan memiliki setidaknya 1 ekor sapi. Di wilayah dengan populasi ternak tinggi semacam ini, kotoran ternak menjadi masalah besar bagi lingkungan. 

Belum banyak peternak mampu mengelola kotoran ternak dengan baik. Peternak biasanya membiarkan kotoran ternak hingga berhari-hari di kandang. Kalaupun dibersihkan, kotoran dibuang ke saluran air atau ditimbun ala kadarnya di ruang terbuka. Pengolahan pupuk kandang kadang-kadang dilakukan hanya dengan menimbun kotoran sapi di area terbuka. Selama proses pembusukan, kotoran ternak, khususnya ternak memamah biak, mengeluarkan gas metana dan nitrit. Gas metana merupakan gas yang mudah terbakar sehingga memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai bahan bakar.

Yang menjadi masalah adalah jika gas metana ini dibiarkan ke udara bebas sebelum sempat digunakan/dibakar. Meskipun gas metana tidak bertahan lama di atmosfer, gas metana mampu menyimpan panas lebih banyak dari gas karbon dioksida, dibandingkan gas-gas lain penyebab pemanasan global. Gas metana memiliki kekuatan 25 kali lebih kuat dari karbondioksida (CO2) dalam memerangkap panas. Semakin banyak kandungan gas metana, panas dari matahari makin sulit keluar dari atmosfer, sehingga udara akan semakin cepat panas. 

Emisi gas metana dari ternak memamah biak tergantung pada banyak faktor. Panel antarpemerintah tentang perubahan iklim, IPCC, pada tahun 2006 melaporkan bahwa sapi berpotensi menghasilkan gas metana hingga 10 kali lebih banyak dari jenis ternak lainnya. Selain itu, ternak yang hidup di lingkungan bersuhu 27oC menghasilkan gas metana 2 kali lebih banyak daripada di lingkungan bersuhu 17oC. Jenis pakan yang berbeda juga bisa mempengaruhi komposisi dalam kotoran ternak, yang kemudian akan mempengaruhi persentasi gas metana yang dihasilkan pada proses pembusukan kotoran.