Login

Merebut Pasar lewat Penanganan Paska Panen

Dipublikasikan pada 01 Nopember 2018 00:00:00

Berita & Artikel

Hasil pertanian adalah produk hidup. Ini berarti hasil pertanian masih bernafas, menjadi layu, dan akhirnya membusuk. Lamanya proses distribusi menyebabkan kualitas hasil pertanian yang diterima konsumen lebih rendah dari saat dipanen. Sayangnya, masalah keterlambatan ini masih kerap terjadi dan tidak terhindarkan. Luka atau memar yang terjadi selama penyimpanan dan distribusi juga mempercepat terjadinya kerusakan.

Memar, kelayuan, dan bahkan kotoran yang ada pada hasil pertanian menjadi salah satu penyebab hasil pertanian lokal sulit masuk ke dalam pasar – pasar modern. Tidak hanya pasar modern, bahkan konsumen cenderung lebih tertarik membeli hasil pertanian yang tampilannya lebih segar, lebih bersih dan lebih seragam. 

Untuk mengurangi resiko kerusakan, maka baik petani ataupun penjual, perlu melakukan penanganan yang tepat dan baik terhadap hasil pertanian setelah panen. Penanganan paska panen yang tepat dapat memperlambat pembusukan hasil pertanian, menghindarkan hasil pertanian dari benturan selama distribusi dan meningkatkan tampilan hasil pertanian.

Mengurangi kerusakan hasil pertanian berarti meningkatkan pendapatan petani. Dengan penangananan paska panen yang baik, semakin banyak hasil pertanian yang layak jual dan dengan kualitas yang tentunya lebih baik. Bukan tidak mungkin, petani juga memperoleh tawaran harga lebih baik. 

Mengurangi kerusakan dan meningkatkan pemasaran hasil pertanian juga berarti mengurangi sampah pertanian. Ini berarti penanganan paska panen yang baik juga meringankan kondisi lingkungan akibat pemanasan global. Timbunan bahan-bahan organik yang membusuk, termasuk sampah pertanian, menghasilkan gas metana. Gas ini sangat mudah memerangkap panas dan merupakan jenis gas yang paling diwaspadai dalam upaya mitigasi perubahan iklim. 

Ada beragam bentuk penanganan paska panen, namun tidak semuanya bisa diterapkan untuk semua komoditas. Setiap jenis komoditas memiliki tekstur dan karakter yang berbeda, sehingga kerentanannya terhadap berbagai penyebab kebusukan juga berbeda. Penanganan paska panen yang tepat diperlukan untuk masing-masing komoditas. 

Berikut adalah beberapa macam penanganan paska panen bisa dilakukan pada sebagian besar komoditas.

Pengeringan

Air atau kelembaban adalah salah satu penyebab utama kebusukan dan munculnya jamur. Maka salah satu cara memperpanjang masa simpan hasil pertanian adalah dengan mengeringkannya. Ada banyak cara pengeringan. Yang paling mudah dan paling banyak dilakukan adalah dengan menjemur hasil pertanian di bawah terik matahari. Cara ini tidak memerlukan biaya tinggi, tapi sangat tergantung dengan kondisi cuaca. Kualitas hasil penjemuran dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tebal hamparan, lama penjemuran, dan angin. 

Pada musim hujan, pengeringan seperti ini tidak efektif untuk digunakan. Cara lainnya, pengeringan bisa menggunakan alat atau mesin pengering. Cara ini tentunya membutuhkan biaya lebih banyak, namun bisa memberikan mutu lebih stabil karena petani bisa mengatur suhu dan lama pengeringan.

Pengasapan juga merupakan salah satu cara pengeringan, tetapi cara ini memberikan aroma yang khas. Beberapa hasil pertanian yang harus dijual dalam kondisi kering adalah kedelai, beras, jagung, cengkeh, tembakau, dan kopi. 

Fermentasi  

Secara sederhana, fermentasi berarti membiarkan mikroorganisme untuk mengurai atau memecah bagian-bagian yang ada hasil pertanian. Mikroorganisme bisa berupa ragi, jamur, atau bakteri yang ada secara alami atau ditambahkan pada hasil pertanian. Fermentasi dalam berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung tujuan fermentasi. Biasanya, fermentasi lebih mudah terjadi jika hasil pertanian berada dalam kondisi kedap udara (tanpa oksigen), misalnya dalam wadah yang tertutup rapat atau direndam air.

Dalam proses penanganan paska panen, fermentasi biasanya bertujuan untuk mempermudah pengupasan daging buah dan kulit ari. Namun, fermentasi biasanya menambah rasa asam pada hasil pertanian, yang pada komoditas tertentu memang dikehendaki, misalnya pada kakao. Komoditas lain yang juga bisa melalui proses fermentasi adalah kopi.

Pendinginan 

Pendinginan berarti menurunkan suhu hasil pertanian, sehingga kerusakan dari dalam atau pembusukan dapat diperlambat. Pendinginan sering diterapkan pada komoditas yang ingin dijual segar, misalnya buah, sayur, ikan, dan daging. 

Suhu dan lama pendinginan berbeda pada setiap komoditas. Meskipun makin rendah suhunya, makin lama masa simpan hasil pertanian, namun suhu yang terlalu rendah juga dapat menyebabkan kerusakan hasil pertanian. Ikan dan daging umumnya aman didinginkan hingga suhu antara -1 hingga 2oC, sedangkan untuk buah dan sayur bisa didinginkan dengan suhu sekitar 5oC. Suhu lebih rendah dari 5oC justru akan merusak sayuran. 

Sortasi

Sortasi dapat memperbaiki tampilan hasil pertanian yang akan dijual. Dalam sortasi, petani harus memisahkan kotoran, seperti kerikil, debu, daun kering, dan rumput, dari hasil pertanian yang akan dijual. Tidak hanya ini, sortasi juga berarti membuang bagian yang cacat atau berjamur dari bagian yang tampilannya baik dan layak jual. Sortasi dapat dilakukan secara manual ataupun menggunakan mesin. 

Semua hasil pertanian seharusnya melalui proses sortasi. Namun, masih dijumpai petani yang tidak melakukan proses sortasi. Akibatnya, produk mereka seringkali ditolak pasar karena terlihat kotor. 

Pengemasan 

Beberapa hasil pertanian adalah barang yang mudah rusak karena benturan, misalnya jenis sayur dan buah. Sehingga petani atau penjual harus memilih yang sesuai dengan sifat barang. Misalnya, untuk barang mudah rusak karena air, seperti kopi atau kedelai, perlu dikemas dengan wadah tahan air. Jika barang rentan rusak karena benturan, seperti buah dan sayur, maka sebaiknya menggunakan kemasan semacam krat plastik dan di dalamnya diberi peredam benturan. 

Ini menjadi masalah penting yang harus diperhatikan, karena sering dijumpai beberapa kasus tentang kerusakan barang saat sudah tiba ditempat tujuan. Hal itu disebabkan karena tumpukan barang terlalu tinggi dan penuh, sehingga barang di bawahnya rusak karena tergencet barang di atasnya. 

Penyimpanan 

Meskipun semua proses penanganan paska panen telah dilakukan, bukan berarti semua hasil pertanian akan langsung terjual. Hasil pertanian yang kondisinya masih baik namun belum terjual, dapat disimpan terlebih dulu. 

Kondisi penyimpanan perlu diperhatikan, supaya kualitas hasil pertanian tadi tetap terjaga. Beberapa cara sederhana untuk memastikan hasil pertanian daoat bertahan lama yaitu memastikan barang tidak bersentuhan langsung dengan lantai atau tembok, misalnya dengan menggunakan palet kayu. Penggunaan palet juga sekaligus menghindarkan hasil pertanian dari genangan air. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan hasil panen karena hama adalah dengan membangun ruang penyimpanan yang kuat, misalnya dengan memastikan tidak ada keretakan atau lubang pada dinding atau lantai, atau dengan memasang kawat kasa pada ventilasi. 

Pengolahan hasil pertanian

Pengolahan hasil pertanian berbeda dari penanganan paska panen, meskipun beberapa prosesnya hampir sama. Pengolahan hasil pertanian akan menghasilkan produk yang sama sekali berbeda dari aslinya dan biasanya dapat segera dikonsumsi, misalnya kedelai diolah menjadi tempe, buah diolah menjadi keripik buah, atau susu menjadi keju.

Beberapa produk cukup mungkin dibuat dengan teknologi yang sederhana. Oleh karena itu, pemerintah saat ini gencar mendorong petani untuk mulai mengolah hasil pertaniannya dan menjualnya sebagai produk-produk siap konsumsi. Pengolahan hasil pertanian juga merupakan salah satu strategi supaya tidak ada hasil pertanian yang terbuang ketika panen raya tiba atau ketika harga hasil pertanian anjlok.

Produk olahan memiliki masa simpan relatif lebih lama. Selain itu, menjual produk olahan berarti memberikan kesempatan kepada petani untuk masuk ke pasar yang berbeda, pasar dimana desain  dan keunikan kemasan sangat berpengaruh pada nilai jualnya. 

Baik penanganan paska panen atau pun pengolahan hasil pertanian, keduanya berpotensi memberikan kekuatan kepada hasil-hasil pertanian lokal untuk memperoleh pasar yang lebih luas. Namun seberapa besar potensi itu dapat dikeluarkan, tergantung pada bagaimana penanganan dan pengolahan hasil pertanian dilakukan. Usaha yang dilakukan secara asal-asalan tentunya tidak dapat memberikan hasil terbaik.