Namun demikian, sampai saat ini Indonesia masih mengimpor kedelai, karena produksi kedelai dalam negeri baru dapat memenuhi 30-40 % kebutuhan nasional. Dalam upaya mengurangi impor kedelai tersebut, pemerintah telah membuat program upaya khusus (Upsus) untuk mewujudkan swasembada kedelai yang ditargetkan tercapai pada tahun 2018.
Peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masih tinggi, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam. Saat ini produktivitas nasional kedelai baru mencapai 1,56 ton per hektar dengan kisaran 0,6-2,0 ton per hektar di tingkat petani, sedangkan di tingkat penelitian sudah mencapai 2,0-3,2 ton per hektar, bergantung pada kondisi lahan dan teknologi yang diterapkan. Data tersebut menunjukkan bahwa produkvitas dan produksi kedelai di tingkat petani masih dapat ditingkatkan melalui penerapan inovasi teknologi kedelai. Dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai diperlukan rakitan teknologi spesifik lokasi dengan memperhatikan kesesuaian terhadap kondisi biofisik lahan, sosial dan ekonomi masyarakat. Inovasi yang direkomendasikan berkaitan dengan hal tersebut adalah dengan menerapkan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada budidaya kedelai.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, memiliki tugas pokok untuk melakukan pengkajian spesifik lokasi komoditas pertanian dan diseminasi teknologi hasil penelitian/pengkajian teknologi pertanian. Teknologi pertanian yang didiseminasikan merupakan hasil penelitian/pengkajian Balitbangtan, yang berasal dari BPTP dan Balai Komoditas Nasional lingkup Balitbangtan.
Inovasi teknologi kedelai yang didiseminasikan adalah hasil penelitian/pengkajian dari Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang dan BPTP Jawa Tengah. BPTP Jawa Tengah sendiri melakukan pengkajian teknologi PTT kedelai di berbagai agroekosistem, di antaranya teknologi kedelai di lahan kering, sawah tadah hujan, sawah irigasi, dan di bawah tegakan tanaman kehutanan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produktivitas sebesar 18,53 % dan pendapatan petani sebesar 29,62 % dibandingkan dengan teknologi kebiasaan petani di lahan basah tadah hujan pada musim tanam pertama (MT I).
Diseminasi inovasi teknologi bertujuan untuk menyebarluaskan hasil penelitian/pengkajian kedelai kepada para pemangku kepentingan (Dinas Pertanian, PPL, petani dan pengguna lainnya) agar mereka dapat menerapkan inovasi teknologi kedelai hasil pengkajian Balitbangtan dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas dari waktu ke waktu untuk mendukung program swasembada kedelai.
Diseminasi inovasi teknologi kedelai oleh BPTP Jawa Tengah dilakukan melalui tiga kegiatan. Pertama, sebagai nara sumber pada berbagai pelatihan petani dan petugas lapang (PPL), pada berbagai pameran di tingkat Propinsi Jawa Tengah dan tingkat kota/kabupaten di Jawa Tengah, pada temu lapang teknologi budidaya kedelai dan teknologi produksi benih kedelai, dan siaran radio pertanian. Kedua, melalui pendampingan penerapan teknologi pada kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) kedelai, serta pada pengembangan kebun percontohan (demonstration farm) teknologi kedelai untuk memperkenalkan varietas unggul baru kedelai dan teknologi produksi benih kedelai kepada petani calon penangkar benih kedelai. Ketiga, penyebaran materi diseminasi dalam bentuk media cetak dan elektronik.
Dalam mendukung peningkatan produksi kedelai di Jawa Tengah dan pencapaian swasembada kedelai nasional, ketersediaan benih sumber dan benih sebar kedelai berkualitas yang memenuhi kriteria enam tepat (varietas, waktu, volume, harga, lokasi dan mutu) menjadi vital. Berdasarkan Surat Tugas Menteri nomor 336/2013 yang diperbaharui dengan Surat Tugas Menteri Pertanian Nomor 86/HK.410/M/4/2015, sejak tahun 2014 BPTP memiliki tugas untuk memproduksi benih sumber kedelai kelas Benih Dasar (BD)/Foundation Seed (FS) dan Benih Pokok (BP)/Source Seed (SS) Benih kedelai kelas BP diberikan secara cuma-cuma kepada penangkar/calon penangkar untuk pengamanan produksi benih sebar kedelai (kelas ES/BR). Sampai saat ini, sebanyak 214,26 ton benih kedelai kelas BP telah diberikan secara cuma-cuma kepada penangkar dan calon penangkar kedelai di Jawa Tengah. Adapun varietas benih kedelai yang diberikan adalah varietas unggul Balitbangtan, yaitu Grobogan, Anjasmoro, Gema dan Gepak Kuning. Sedangkan benih sebar kedelai sebanyak 19,30 ton telah diberikan secara cuma-cuma kepada petani kedelai di Jawa Tengah.
Artikel ini pernah dimuat di Sustainable Landscape Newsletter edisi September 2017
Sustainable Landscape Newsletter merupakan kerjasama antara Program Sustainable Landscape in Central Java dengan Tanilink.com