Login

Mengenal Lebah Langka Indonesia, Lebah Madu Apis Cerana

Dipublikasikan pada 27 Mei 2021 10:54:07

Berita & Artikel

Madu adalah salah satu makanan alami yang dicari untuk mengembalikan stamina dengan segera. Tidak hanya mengandung gula dan air, madu murni juga mengandung mineral, vitamin, dan bahan berkhasiat lainnya yang baik bagi tubuh.

Kita tentu tahu bahwa serangga yang menghasilkan madu adalah lebah. Namun populasi lebah makin turun, karena polusi udara, predator, berkurangnya sumber nektar, dan perubahan iklim. Turunnya populasi lebah tidak hanya akan mempengaruhi produksi madu, namun mempengaruhi kehidupan lebih dari itu.

Lebah berperan besar terhadap produksi pangan dunia. Sekitar sepertiga produksi tanaman dunia bergantung pada penyerbukan oleh dunia. Bahkan lebah merupakan polinator atau penyerbuk bagi lebih dari 70% tanaman dunia, tidak hanya untuk tanaman pangan. Beberapa tanaman yang bergantung pada penyerbukan oleh lebah adalah kapas, cengkeh, dan jambu mete.

Spesies lebah yang telah lama hidup di Indonesia adalah Apis cerana. Lebah ini disebut juga lebah madu Asia karena banyak ditemukan di Benua Asia. Namun sebuah artikel yang diterbitkan tahun 2017 oleh International Bee Research Association menyebutkan bahwa populasi Apis cerana di 16 negara Asia, termasuk Indonesia, mengalami penurunan lebih dari 50% dalam rentang waktu 10 tahun.

Meski secara fisik tidak jauh berbeda dari sepupunya – lebah madu Eropa (Apis mellifera),  Apis cerana memiliki koloni lebih kecil. Satu koloni Apis cerana  memiliki berisi sekitar 6 ribu hingga 7 ribu lebah pekerja, sementara Apis mellifera bisa mencapai 50 ribu lebah pekerja.

Dalam hal produksi madu, Apis mellifera mungkin lebih diminati karena perilakunya lebih mudah diprediksi. Tapi Apis cerana relatif lebih kebal terhadap parasit dan penyakit, khususnya varroa. Selain itu, karena merupakan spesies lebah lokal, Apis cerana merupakan penyerbuk yang lebih handal untuk tanaman-tanaman yang hidup di Indonesia, termasuk tanaman rempah, tanaman buah.

Dito, salah seorang pembudidaya Apis cerana di Boyolali mengatakan, lebah ini lebih sulit dikontrol daripada Apis mellifera. Spesies ini mudah pergi jika iklimnya tidak lagi cocok, terutama jika terlalu panas. Selain itu, koloni Apis cerana juga akan berpindah jika sarangnya didatangi hama seperti burung, cicak, atau kupu besar.

Tantangan lain yang dihadapi Dito dalam membudidayakan Apis cerana adalah menemukan sarang lebah liar. Ketika koloni pergi dari lokasi pembudidayaannya, Dito harus kembali berburu koloni Apis cerana liar untuk dipindahkan. Sarang lebah Apis cerana sering ditemukan di glugu atau kayu kelapa. Lebah ini menyukai tempat-tempat yang tertutup dan terlindung dari panas, sehingga kadang juga ditemukan di rumah-rumah tua,  sela-sela kayu, atau lubang pada pohon dan dinding.