Oleh Prof. Supriyono (Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret)
Dalam rangka menuju swasembada pangan dan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045, mulai tahun 2017 pemerintah menggalakkan penanaman kedelai dengan pemberian bantuan saprodi ke petani melalui kelompok tani. Hambatan yang terjadi adalah harga kedelai yang kurang menggairahkan petani untuk menanam dan penyusutan lahan pertanian. Rendahnya harga kedelai disebabkan oleh impor kedelai murah. Penyusutan lahan pertanian terjadi akibat penggunaan oleh sektor lain misalnya pabrik atau rumah tinggal. Akibat hal tersebut timbul suatu pertanyaan, mampukah pertanaman kedelai bertahan di Indonesia ataukah harus hilang dari peredaran dan menggantungkan sepenuhnya pada impor sebagaimana gandum dan bawang putih ?
Kebutuhan akan lahan pertanian semakin mendesak
Perluasan penanaman kedelai dicanangkan pemerintah meningkat 2 ½ kali lipat pada tahun 2018 dibanding tahun 2017. Banyak dinas pertanian kabupaten yang kesulitan mencari lahan untuk tujuan tersebut. Sebenarnya beberapa tahun yang lalu telah dicanangkan adanya “lahan pertanian abadi” 20-30 ribu hectare per kabupaten, namun wacana tersebut hilang bagaikan ditelan bumi. Dengan demikian penyusutan lahan pertanian terutama di Jawa berjalan dengan sangat cepat dan dapat diprediksi beberapa puluh tahun ke depan akan habis. Mengingat perlunya paru-paru kota dan juga keseimbangan manusia dan alam, kiranya tetap perlu 30% hutan dan sekian persen lahan pertanian ada pada suatu pulau, terutama di Jawa ini.
Penyusutan lahan pertanian terutama sawah terjadi akibat meningkatnya harga lahan yang disebabkan perluasan perkotaan baik secara alamiah maupun disengaja. Harga lahan yang meningkat menyebabkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) juga meningkat. Kedua hal tersebut mendorong pemilik lahan yang notabene petani untuk menjual lahannya. Salah satu saran yang dapat diberikan untuk menekan penyusutan lahan pertanian adalah dengan memberlakukan “lahan pertanian abadi” dan bagi petani pemilik lahan yang tidak diperkenankan mengalihfungsikan lahannya diberi insentif, misalnya bebas PBB, subsidi saprodi, dan sejenisnya.
Harganya ibarat dua sisi pedang yang tajam
Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kedelai banyak diolah menjadi tempe dan tahu. Keduanya dikenal sebagai sumber protein yang memiliki harga yang sangat terjangkau, terlebih jika dibandingkan dengan produk ikan, daging, telur, atau turunannya. Produsen tempe dan tahu berkembang pesat baik di pedesaan maupun perkotaan. Bagi mereka, biaya produksi rendah, khususnya harga kedelai, sangat berpengaruh terhadap perkembangan usahanya.
Di sisi lain, keuntungan petani kedelai akan sangat rendah jika kedelai dijual terlalu murah. Terlebih dengan adanya himpitan harga oleh kedelai impor. Akibatnya petani kedelai cenderung mencari alternatif usaha lain, misalnya dengan menanam komoditas lain atau bahkan beralih profesi. Bila hal ini terjadi secara terus menerus tidak mustahil nasib kedelai akan sama dengan gandum dan bawang putih.
Pertanyaannya mampukah kita menekan import kedelai tanpa harus mengorbankan produsen tahu tempe? Bila jawabnya ya, tentu langkah pemerintah memberi bantuan saprodi ke petani kedelai adalah tepat. Pertanyaan selanjutnya adalah mampukah pemerintah memberikan bantuan tersebut secara terus menerus? Jawabnya wallahu’alam.
Penulis melihat bahwa untuk keberlanjutan pertanaman kedelai di Indonesia, penyusutan lahan pertanian perlu dikendalikan. Selain itu, impor kedelai perlu ditekan guna memberikan iklim usaha yang mendukung bagi penanaman kedelai. Dari segi budidaya, unsur nitrogen tidak diperlukan sebagai pupuk susulan pada kedelai. Kedelai yang sudah bukan tanaman hari pendek, dapat ditanam di sawah pada musim kemarau dan di lahan kering pada musim hujan. Penanaman di sawah pada musim kemarau dilakukan dengan cara tanpa olah tanah, sedangkan pada musim hujan di lahan kering dengan olah tanah sempurna.
Artikel ini pernah dimuat di Sustainable Landscape Newsletter edisi April 2018
Sustainable Landscape Newsletter merupakan kerjasama antara Program Sustainable Landscape in Central Java dengan Tanilink.com