Login

Kenapa Indonesia Impor Beras?

06 April 2021 16:35:18 | Berita & Artikel

Nasi masih menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Badan Ketahanan Pangan menyebutkan Indonesia membutuhkan sekitar 2,5 juta ton beras per bulan, atau 30 juta ton beras setiap tahunnya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Sementara produksi padi dalam negeri setiap tahun kurang lebih 54 juta ton, atau jika dikonversi ke beras berarti sekitar 35 juta ton per tahun. Jumlah ini dipenuhi secara bertahap. Dari tren 2 tahun terakhir, puncak produksi padi berlangsung pada sekitar bulan Maret – April, yaitu sekitar 9 juta ton per bulan, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember – Januari, dimana produksi padi hanya berkisar 1,6 juta ton per bulan.

Melihat tren tersebut, produksi padi dalam negeri seharusnya bisa mencukupi kebutuhan beras nasional. Lalu mengapa Indonesia masih melakukan impor beras?

Tahun ini, rencana impor beras didasari oleh kondisi cadangan beras pemerintah di gudang BULOG. BULOG mendapatkan mandat untuk mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP). CBP bertujuan untuk menjaga kestabilan harga beras di pasar. Dilansir dari situs Badan Ketahanan Pangan, idealnya cadangan beras yang harus dikuasai BULOG minimal 1,2 juta ton.

Direktur BULOG mengatakan status CBP pada 14 Maret 2021 sebesar 859.877 ton. Sebesar 370 ton di antaranya merupakan sisa impor tahun 2018 yang kondisinya mulai rusak. Dengan mengecualikan beras yang menurun kualitasnya, maka cadangan beras pemerintah kurang dari 500 ribu ton.

Sementara itu, beras yang bisa dibeli oleh BULOG harus memenuhi kriteria tertentu. Disampaikan oleh Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, gabah petani banyak yang tidak bisa dibeli BULOG karena kadar airnya terlalu tinggi.

Meskipun Presiden Jokowi menegaskan bahwa tidak akan ada impor hingga Juni 2021, isu impor yang sudah bergulir ini, terlanjur menyebabkan harga beras di tingkat petani turun.