Login

Mengungkap Fakta di Balik Kampanye Negatif Kelapa Sawit

30 Maret 2021 16:31:42 | Berita & Artikel

Kelapa sawit adalah primadona sektor perkebunan Indonesia. Kelapa sawit rutin menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar dari sektor nonmigas. Nilai ekspor kelapa sawit September 2020, year on year (yoy), mencapai 15,5 miliar dolar Amerika.  Sementara total produksi tahun lalu mencapai 51,58 juta ton. Sebagian besar kelapa sawit ini berasal dari Provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. Lebih dari 60% perkebunan kelapa sawit Indonesia dikelola oleh perkebunan besar, dan 34%-nya merupakan perkebunan rakyat.

Sebagai salah satu produsen utama di tingkat global, Indonesia memiliki posisi penting sebagai pemasok kelapa sawit ke banyak negara. Pangsa terbesar ekspor minyak kelapa sawit Indonesia berada di kawasan Asia, terutama di India dan China. Badan Pusat Statistik mencatat, ekspor sawit ke Asia tahun 2019 berkontribusi pada 64% dari nilai ekspor sawit, sementara kawasan Eropa sebesar 15% dan Afrika 13%.

Awalnya digunakan sebagai pengganti lemak nabati, saat ini minyak kelapa sawit bisa ditemukan di hampir semua produk, mulai dari makanan, kosmetik, produk-produk perawatan tubuh, hingga biofuel.  Sifatnya yang relatif stabil selama proses pengolahan mendorong konsumsi minyak kelapa sawit jauh lebih tinggi daripada minyak nabati lainnya. Dari statista.com, tahun 2020, konsumsi minyak kelapa sawit global mencapai 75,45 juta metrik ton, atau naik lebih dari 20% dari konsumsi lima tahun sebelumnya, mengungguli kompetitor utamanya yaitu minyak kedelai dan minyak biji rapa.

Meski prospeknya terlihat baik, komoditas ini masih menghadapi satu tantangan besar, yaitu kampanye negatif yang diluncurkan oleh sejumlah negara, khususnya oleh Uni Eropa. Kampanye negatif kelapa sawit sudah dimulai sejak tahun 1980-an, yaitu ketika minyak sawit dituding mengandung kolesterol tinggi sehingga membahayakan kesehatan.

Kampanye negatif kemudian dialihkan ke isu lingkungan. Uni Eropa menganggap perkebunan budidaya kelapa sawit tidak ramah lingkungan dan karenanya harus dilarang di seluruh Uni Eropa. Dalam sebuah wawancara dengan Tempo, Direktur Eksekutif the Council of Palm oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar percaya kampanya negatif sawit yang dilakukan oleh Uni Eropa lebih dilatarbelakangi oleh persaingan perdagangan. Dominasi minyak kelapa sawit di pasar minyak nabati global menyebabkan posisi minyak sayur lainnya, termasuk minyak biji rapa (Uni Eropa) dan minyak kedelai (Amerika Serikat), menjadi tertekan.

Deforestasi sering dijadikan alasan untuk menolak produk kelapa sawit. Bulan Januari 2019, Eropa memutuskan sawit berstatus resiko tinggi untuk indirect land-use change (ILUC), sementara di sisi lain, menurunkan status kedelai dari resiko tinggi ke resiko rendah. Indonesia tidak menutup mata terhadap kebakaran yang masih terjadi di perkebunan kelapa sawit dan terus melakukan perbaikan terhadap budidaya kelapa sawit, di antaranya melalui penerapan praktek pertanian yang bijak dan moratorium pembukaan lahan.

Namun tudingan bahwa kelapa sawit merupakan penyebab deforestasi terbesar secara global tidak memiliki dasar kuat. Sebuah artikel oleh peneliti CIRAD dalam theconversation.com menelaah hasil studi yang dilaporkan oleh Uni Eropa tahun 2013 dan membantah klaim tersebut. Faktanya, perluasan lahan kedelai justru lebih besar daripada kelapa sawit.

Kelapa sawit memiliki produktivitas jauh lebih tinggi daripada tanaman penghasil minyak lainnya. Ini  artinya, untuk mencapai volume yang sama, kelapa sawit justru membutuhkan lahan lebih sedikit daripada tanaman lainnya. Sebuah publikasi oleh WWF German menyebutkan, kelapa sawit mampu menghasilkan 3,3 ton minyak kelapa sawit per hektar, sementara minyak kedelai hanya sekitar 0,3 ton per hektar. 

Isu terbaru yang dilontarkan oleh Uni Eropa untuk menjegal sawit Indonesia adalah isu keamanan pangan. Kontaminan 3-monochlorpro-pandiol ester (3-MCPD Ester) – senyawa yang menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), senyawa 3-MCPD kemungkinan juga dapat menyebabkan kanker bagi manusia –bakal menjadi kendala baru ekspor sawit Indonesia ke Eropa.

Uni Eropa mengusulkan peraturan untuk menetapkan batas maksimum MCPD sebesar 2,5 ppm untuk minyak sawit yang akan digunakan sebagai bahan makanan, sementara kedelai dan minyak nabati lainnya diberi batas 1,25 ppm. Dengan adanya standard ganda ini, konsumen digiring untuk mempercayai minyak sawit sebagai bahan makanan yang “berbahaya dan “tidak sehat”, karena minyak nabati lainnya memiliki batas lebih rendah.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah Indonesia mengatakan akan merespon lebih ofensif dan menempuh segala cara untuk menentang rencana kebijakan Uni Eropa tersebut, termasuk membawanya ke forum WTO.