Login

Industri Tahu Berkembang, Limbah (Masih) Jadi Masalah

Dipublikasikan pada 01 Nopember 2018 00:00:00

Berita & Artikel

Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan atau bahkan sebagai resep masakan. Selain soal rasa dan harga yang murah, kandungan protein dan kalsium dalam tahu ini menjadi salah satu alasan mengapa tahu begitu populer di kalangan masyarakat dan dapat masuk ke berbagai lapisan. Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Pertanian dalam Buletin Konsumsi Pangan tahun 2017, rata-rata konsumsi tahu tahun 2002 – 2016 berada pada angka 7,3 kg/kapita/tahun. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan pada tahun 2018, konsumsi tahu diprediksi mencapai 8,03 kg/kapita. 

Industri Tahu Skala Besar dan Sedang

  • Tahun 2006:  80
  • Tahun 2007: 68
  • Tahun 2008: 73
  • Tahun 2009: 64
  • Tahun 2010: 134
  • Tahun 2011: 146
  • Tahun 2012: 145
  • Tahun 2013: 141

Perkembangan industri tahu skala besar dan sedang. Data tahun 2006 – 2009 termasuk industri kedelai lainnya selain kecap dan tempe, sehingga jumlah industri tahu pada tahun tersebut diperkirakan lebih kecil dari yang tertulis. Sumber: Website Kementerian Perindustrian

Tingginya permintaan mendorong industri tahu untuk terus berkembang, mulai dari menggunakan cara tradisional hingga menggunakan peralatan-peralatan yang lebih modern. Namun proses pembuatan tahu pada dasarnya tetap, yaitu dengan menggumpalkan sari kedelai dengan cairan bersifat asam, menyaringnya, kemudian mencetak gumpalan tersebut menjadi tahu. Berdasarkan data pada penelitian oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, untuk mengolah 80 kg tahu, memerlukan 2700 liter air dan hanya 60 kg kedelai, dan hampir seluruh air tersebut akhirnya menjadi limbah. Pada penelitian lainnya bahkan menyebutkan bahwa pengolahan tahu dapat menyisakan 13 ribu liter limbah cair untuk setiap 100 kg kedelai. 

Limbah cair tahu sebenarnya masih memiliki kandungan protein yang sangat tinggi sehingga bakteri dan mikroorganisme lainnya mudah berkembang dan menimbulkan bau sangat busuk. Kondisi ini seringkali dikeluhkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar industri tahu. Limbah cair tahu tidak hanya menimbulkan polusi udara, tapi juga menurunkan kualitas air jika sampai merembes ke tanah atau mengalir ke sungai. Air yang tercemar akan menyebabkan masalah kesehatan masyarakat, seperti penyakit kulit, diare, dan sebagainya.

Permasalahan tentang limbah cair tahu bukan hal baru. Karenanya, sejumlah penelitian sebenarnya sudah dilakukan untuk mencari solusi bagi penanganan limbah tahu ini. Beberapa industri tahu, terutama yang berskala besar, bahkan sudah mampu menyediakan instalasi pengolahan limbah cair ini. Di sisi lain, belum banyak industri kecil tahu yang mampu mengolah limbah cair yang dengan baik. Padahal, sebagian besar industri tahu masih berskala industri kecil dan rumah tangga. Industri tahu berskala kecil dan rumah tangga yang berlokasi dekat dengan aliran air, seperti selokan atau sungai, biasanya akan langsung mengalirkan air sisa produksi ke selokan atau sungai. Ini berarti masih banyak limbah tahu yang dibiarkan mencemari lingkungan.

Beberapa alasan mengapa industri skala kecil dan rumah tangga tidak mengolah limbah sebelum membuangnya adalah karena mereka tidak menganggap hal tersebut (pengolahan limbah) adalah bagian dari tanggung jawab mereka sebagai produsen. Selain itu, mereka menganggap bahwa membuat unit pengolahan limbah mahal dan akan menambah pengeluaran mereka.

Salah satu solusi yang coba ditawarkan oleh pemerintah adalah dengan membangun unit pengolahan limbah bersama. Dengan sistem ini, seperti dipublikasikan dalam website milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, beberapa pengrajin tahu harus mengalirkan ke sebuah penampungan limbah sementara melalui pipa. Dari titik ini, limbah akan diproses lebih lanjut menggunakan sistem biofilter, dimana limbah cair akan disaring berulang kali dan diuraikan secara anaerob maupun aerob. Setelah melalui sistem ini, limbah tidak lagi berbau tajam dan akan lebih aman untuk dibuang ke aliran air.