Login

Musim Hujan Segera Tiba, Siap-Siap Panen Air!

21 September 2020 12:03:16 | Berita & Artikel

Lebih dari 70% bumi adalah air, tapi sebagian besar berupa air asin. Sementara untuk minum dan pertanian, kita membutuhkan air tawar. Sebagian besar air tawar tersimpan dalam bentuk es, mata air, dan awan. Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, es mustahil ditemukan. Akhirnya ketersediaan air tawar hanya bergantung pada mata air dan hujan.

Saat kemarau datang, hujan jarang turun dan mata air mulai kering. Apalagi karena perubahan iklim, kekeringan makin sering terjadi. Maka dari itu, pemanenan air menjadi penting, untuk memastikan air bersih selalu tersedia sepanjang tahun.

Pemanenan air prinsipnya adalah mengumpulkan air bersih pada sebuah penampungan air, untuk digunakan saat terjadi kekeringan. Air dapat bersumber dari mana saja, misalnya dari udara atau hujan. Pemanenan air hujan adalah yang paling sederhana dan paling umum dilakukan, baik di Indonesia maupun di negara lain.

Teknologi pemanenan air berbeda-beda tergantung pada kondisi lingkungan dan tujuan penggunaan airnya. Pada dasarnya pemanenan air terdiri dari 3 bagian, yaitu daerah tangkapan, penampungan air, dan saluran air Berikut beberapa cara pemanenan air yang sedang dikembangkan atau sudah dilakukan, baik di dalam atau luar negeri.

Kolam Pengumpul Air Hujan
Air hujan yang jatuh di atap bangunan (rumah, gedung, atau pabrik) disalurkan melalui talang ke dalam kolam atau wadah ini. Kolam atau wadah tertutup (misalnya tangki air) bisa diletakkan di atas atau bawah permukaan tanah.

Cara ini cocok untuk lokasi yang tanahnya sulit menyimpan air, misalnya karena memiliki tanah lempung, rawa atau karst, tapi bebas banjir. Karena melalui talang, airnya mungkin tidak terlalu bersih, sehingga penggunaan langsung lebih cocok untuk kegiatan domestik seperti mencuci atau menyirami tanaman pekarangan.


Ilustrasi kolam pengumpul air hujan. Sumber gambar : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pemanenan air dari udara
Beberapa wilayah di dunia, seperti misalnya Afrika Selatan, sangat jarang mengalami hujan, sehingga pemanenan air hujan masih sulit dilakukan di wilayah seperti ini. Pilihan lainnya adalah memanen air dari udara.

Udara merupakan  salah satu sumber air tawar, yaitu uap air. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa uap air mengandung sekitar 10% dari total air tawar dunia. Makin tinggi kelembaban udara, makin banyak kandungan airnya.

Pada metode ini, air ditangkap melalui proses kondensasi atau pengembunan atau menggunakan bahan (bubuk atau gel) yang mampu menyerap air. Adapula yang mengembangkan cara pengumpulan uap air menggunakan jaring-jaring.



Resapan Air Hujan
Resapan air hujan dapat berupa sumur, parit, atau area yang dikhususkan atau dimodifikasi untuk tujuan ini. Sumur, parit, atau areal resapan dibuat untuk memaksimalkan air hujan yang meresap ke dalam tanah. Resapan air hujan baik diterapkan di daerah-daerah yang berada di sepanjang aliran banjir. Berbeda dengan dua teknologi sebelumnya, resapan air tidak ditujukan untuk penggunaan langsung. Air yang tersimpan akan meningkatkan cadangan air tanah dan mata air, serta menjaga kesuburan tanah.

Rorak juga bisa berfungsi sebagai resapan air tanah.

Waduk, embung, dan kolam
Pemanenan air yang paling sederhana adalah dengan membuat penampungan terbuka untuk air hujan. Waduk, embung, dan kolam adalah bentuk penampungan air yang paling umum. Besar dan lokasi penampungan ini biasanya tergantung rencana penggunaan air.

Hutan dan tanaman
Hutan mungkin adalah cara memanen air yang memberi manfaat lebih, yaitu sebagai penyimpan karbon. Ketika tumbuh, pohon menyimpan karbon, terutama sebagai lignin dan selulosa. Karena menyimpan karbon, menanam pohon membantu memitigasi atau mengurangi penyebab perubahan iklim. Meskipun besar, manfaat pohon baru terasa setelah beberapa tahun. Dua tanaman yang dikenal menyerap banyak air adalah bambu dan pohon jati. (ssi)