Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia memerlukan energi untuk memenuhi setiap kebutuhan. Energi bersumber dari alam, baik terbarukan maupun tidak terbarukan. Energi terbarukan adalah energi yang dapat segera diperbarui, sehingga dapat tidak akan habis dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Contoh energi terbarukan adalah sinar matahari, aliran air, ataupun angin. Minyak bumi, meskipun berasal dari fosil yang dapat diperbarui, namun dikategorikan dalam energi tak terbarukan karena cadangan fosil memerlukan waktu hingga ratusan tahun untuk terisi kembali. Jenis energi tidak terbarukan lainnya adalah batu bara dan gas alam.
Saat ini, penduduk Indonesia masih sangat bergantung energi fosil, khususnya minyak bumi dan gas alam. . Hampir 95% dari kebutuhan energi Indonesia masih disuplai oleh energi fosil. Energi dari fosil menjadi favorit karena dapat diolah menjadi beragam bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, di antaranya LPG, bensin, solar, minyak tanah, dan sebagainya. Tidak hanya digunakan dalam skala rumah tangga, bahan bakar fosil merupakan penggerak di berbagai sektor seperti industri transportasi dan industri lainnya.
Tidak hanya menipisnya cadangan minyak bumi yang menjadi permasalahan. Berkurangnya cadangan minyak bumi menyebabkan krisis energi di dunia, dan diperparah dengan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap energi, menyebabkan melambungnya harga minyak bumi dan hasil olahannya, yang lebih lanjut memperluas krisis energi. Kondisi ini menjadi perhatian banyak pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu yang bisa menjadi pilihan untuk menggantikan penggunaan energi fosil adalah biogas. Penelitian mengenai biogas sebenarnya sudah berjalan sejak dahulu, mengingat sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di Indonesia.
Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh fermentasi dari kotoran hewan. Sebagian besar kandungan biogas adalah gas metana (CH4). Sebuah riset oleh LAPAN menyebutkan bahwa secara rata-rata, kotoran seekor sapi dapat melepaskan gas metana 200 liter setiap hari. Jumlah ini akan menjadi jauh lebih besar dengan perkembangan sektor peternakan yang pesat. Meskipun bahan baku biogas dapat juga berasal dari sampah pertanian lainnya, biogas yang berasal dari kotoran ternak sapi mampu menghasilkan gas metana lebih banyak, mencapai 65%.
Komposisi gas (%) dalam biogas dari kotoran ternak dan sisa pertanian. Sumber: Harahap, dkk 1978
| Jenis Gas | Kotoran Sapi | Campuran Kotoran Ternak & Sisa Pertanian |
| Metana | 65,7 | 55 - 70 |
| Karbondioksida | 27,0 | 27 - 45 |
| Nitrogen | 2,3 | 9,5 - 3,0 |
| Karbonmonoksida | 0,0 | 0,1 |
| Oksigen | 0,1 | 6,0 |
| Propana | 7,0 |
Gas metana tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini juga memiliki daya bakar yang baik sehingga efisien sebagai bahan bakar dan tidak menghasilkan asap. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi tahun 2007, dibandingkan beberapa sumber lainnya, biogas memiliki keunggulan dalam hal tingkat nilai kalorinya. Setiap m3 biogas setara dengan 0,46 kg gas alam cair (LPG); 0,8 liter bensin; 0,52 liter minyak solar; dan 3,5 kg kayu bakar, dan dapat membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour (kwh).
Saat ini, pemanfaatan biogas baru dilakukan di wilayah pedesaan. Teknologi biogas yang ada saat ini masih mengharuskan instalasi biogas berada dekat dengan bahan baku (kotoran ternak) dan segera disalurkan ke kompor-kompor melalui pipa. Biogas saat ini baru bisa menggantikan sebagian kecil dari penggunaan LPG. Namun tidak menutup kemungkinan biogas nantinya dapat diubah ke bentuk energi lainnya atau ditampung dalam tabung-tabung dan didistribusikan untuk penggunaan lainnya.
Biogas memiliki banyak potensi sebagai energi baru, namun beberapa hal masih menjadi tantangan dalam pengembangan dan pemanfaatan biogas secara luas, di antaranya masyarakat belum memiliki pengetahuan dan keahlian untuk membangun sebuah unit biodigester (pengolah kotoran ternak menjadi biogas) serta adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa biogas menjijikan karena berasal dari dari kotoran hewan, manusia, ataupun sampah rumah tangga.