Login

Irigasi Kabut, Inovasi Pengairan Hemat Air

21 Juli 2020 12:14:26 | Berita & Artikel

Air merupakan sumber daya penting untuk tanaman. Namun pengairan selalu menjadi kendala dalam usaha pertanian. Terutama saat musim kemarau, air untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin sulit diperoleh, apalagi untuk pengairan. Alhasil, teknologi untuk melakukan pengairan dengan sedikit air pun menjadi penting. Salah satunya adalah irigasi kabut.

Meski sebenarnya sudah diperkenalkan sejak beberapa tahun lalu, teknologi ini belum banyak diterapkan di Indonesia. Salah satu komoditas yang sudah mencoba menggunakan teknologi ini adalah hortikultura di lahan pasir.

Sayuran tidak membutuhkan air sebanyak padi, Selain itu, tanah dan udara di sekitarnya harus cukup dingin dan lembab.  Khususnya sayuran daun seperti sawi, bawang daun, dan bayam, kondisi panas dan kering akan membuat tanaman cepat layu.

Pada prinsipnya, cara ini mirip dengan fire sprinkler (sensor pemadam kebakaran dalam ruangan), dimana air bertekanan disemprotkan melalui lubang-lubang berukuran sangat kecil (nozzle) sehingga membentuk tetesan air seperti hujan. Pada irigasi kabut, air diarahkan ke atas, karena cara ini juga berfungsi menurunkan suhu udara di sekitar tanaman.

Dibandingkan pengairan dengan cara konvensional, irigasi kabut lebih hemat air dan mengurangi kemungkinan adanya genangan air. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengairan dengan irigasi kabut relatif lebih singkat. Sedangkan kondisi lingkungan yang perlu diantisipasi saat menggunakan irigasi kabut adalah angin. Kabut air relatif ringan, jadi sebaiknya hindari melakukan pengairan saat kondisi berangin. Angin bisa meniup partikel air sehingga jatuh jauh dari tanaman.

Salah satu cara membuat irigasi kabut adalah dengan memasang selang plastik PE di setiap bedengan. Plastik tersebut sebelumnya telah dilubangi kecil-kecil. Ketika plastik dialiri air dan mengembang, air akan menyemprot dari lubang-lubang tersebut. Untuk mendapatkan air bertekanan, air dipompa dari sumber atau sumber air lainnya.

Irigasi kabut bisa dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan alat pengukur  suhu dan pompa otomatis. Jika alat pengukur suhu menunjukkan udara di lahan terlalu panas, pompa akan otomatis melakukan penyemprotan selama beberapa menit.(vno)