Login

Rumput Laut, Potensi Laut yang Belum Digarap Optimal

10 Juni 2020 12:23:38 | Berita & Artikel

Tidak diragukan lagi, ikan adalah komoditas yang lekat dengan ekosistem laut. Tapi Indonesia juga memiliki komoditas lain yang potensi ekonominya besar, yaitu rumput laut. Rumput laut sudah lama digunakan oleh banyak negara, khususnya di Asia, sebagai bahan makanan dan obat. Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa rumput laut dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan bahan bakar atau biofuel.

Mungkin belum banyak yang tahu kalau Indonesia adalah penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Dengan luas lautan 5,8 juta km2 dan hampir 100 ribu km garis pantai, serta didukung iklim tropis, menjadikan Indonesia wilayah yang cocok untuk pertumbuhan lebih dari 500 jenis rumput laut. Potensi lahan rumput laut, menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, masih tersedia sekitar 769 ribu hektar, tetapi baru dimanfaatkan setengahnya. Sedangkan Badan Pangan Dunia (FAO) mencatat, pada tahun 2018, produksi rumput laut Indonesia ternyata sekitar 40% dari total produksi rumput laut dunia.

Berbeda dengan rumput laut yang dihasilkan oleh Tiongkok, rumput laut dari Indonesia umumnya tidak dikonsumsi langsung. Jenis rumput laut yang banyak hidup di perairan Indonesia adalah Euchema cottonii dan Gracillaria sp. Kedua rumput laut ini banyak dibutuhkan untuk industri. Pasalnya, Euchema cottonii mengandung karagenan, yaitu bahan tambahan pangan untuk mengentalkan, menstabilkan emulsi, atau mengawetkan makanan, minuman, atau produk lainnya, sedangkan Gracillaria sp merupakan bahan baku agar-agar. Di Asia, Euchema cottonii hanya ditemukan di Indonesia dan Filipina.

Meski volume ekspor rumput Indonesia salah satu yang mendominasi perdagangan rumpur laut global, tapi nilai ekspornya masih kalah dengan negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang. Pasalnya, rumput laut Indonesia diekspor sebagai bahan baku, sehingga harganya rendah. Terlebih lagi, belum ada Harga Patokan Petani (HPP) untuk rumput laut, seperti yang diberlakukan untuk komoditas lainnya. Selain dipasarkan dalam bentuk segar, rumput laut Indonesia juga diekspor dalam bentuk kering. Data FAO mencatat 70% total volume ekspor dunia berasal dari Indonesia. Pasar utama ekspor rumput laut dunia adalah Tiongkok, Jepang, Korea, Perancis, dan Amerika Serikat.

Produksi rumput laut Indonesia belum didukung secara optimal oleh industri pengolahan dalam negeri. Industri rumput laut dalam negeri baru menyerap sekitar 35% dari total produksi. Dikutip dari Info Komoditi Rumput Laut tahun 2015, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, hingga tahun 2014, jumlah produksi olahan rumput laut baru mencapai 15.638 ton per tahun. Jumlah tersebut diperoleh dari 18 unit usaha yang terdiri dari 5 unit usaha industri agar-agar, 2 unit usaha industri Refined Carageenan (RC) dan 11 unit usaha industri Semi Refined Carageenan (SRC). Jumlah produksi dari ke-18 industri ini baru sekitar 15.600 ton per tahun. (ssi)