Login

Serangga di Ambang Kepunahan, Apa Dampaknya untuk Pertanian?

05 Juni 2020 12:28:36 | Berita & Artikel

Tahun ini, hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni mengangkat tema “Merayakan Keanekaragaman Hayati”.  Tema ini diangkat melihat 1 juta spesies hewan dan tanaman menghadapi kepunahan.

Serangga merupakan salah satu yang paling banyak. Daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan oleh the International Union for the Concervation of Nature (IUCN), hanya mengevaluasi sekitar 8.400 spesies serangga dari sekitar 1 juta yang diketahui. Sedangkan tercantum dalam makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal Biological Conservation, peneliti memperkirakan 40% spesies serangga akan punah dalam beberapa dekade mendatang.

Kepunahannya akan membawa dampak negatif bagi makhluk hidup lainnya, termasuk di sektor pertanian. Karena meski kecil dan tampak remeh, serangga memegang peran penting dalam kehidupan. Empat peran penting serangga dalam sektor pertanian adalah:

  1. Pakan
    Serangga umumnya memiliki semacam kulit atau pelindung tubuh keras yang dinamakan kitin. Kitin ini mengandung protein cukup tinggi, sehingga serangga bisa menjadi sumber protein alternatif bagi hewan ataupun manusia. Sebagai pakan, serangga bisa dijadikan pakan unggas, akuakultur, maupun hewan ternak. Serangga sebagai pakan diperkirakan lebih terjangkau karena kebutuhan lahan dan pakan untuk ternak serangga relatif lebih kecil daripada produksi bahan pakan lainnya seperti jagung.
  2. Pengurai/pembusuk
    Makhluk hidup membutuhkan karbon, air, nitrogen dan unsur-unsur lainnya untuk hidup. Ketika mati, unsur-unsur ini akan diurai kembali dan dikembalikan ke alam. Tanaman mendapatkan manfaat dari hasil penguraian ini. Salah satu yang banyak berperan dalam penguraian jasad atau sisa-sisa makhluk hidup adalah serangga, di antaranya cacing tanah, belatung, kecoa, dan siput. Tanpa serangga pengurai/pembusuk, tanaman makin sulit mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan.
  3. Penyerbuk
    Penyerbukan tanaman memerlukan bantuan dari luar. Salah satu serangga yang banyak dikenal sebagai penyerbuk (pollinator) adalah lebah madu. Meski ada juga serangga lain seperti kupu-kupu dan lalat bunga yang berperan sebagai penyerbuk, tapi populasi lebah per koloni lebih besar daripada serangga lainnya, sehingga penyerbukan oleh lebah relatif lebih efektif. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa meletakkan koloni lebah di sekitar tanaman mampu meningkatkan produksi tanaman. Produksi apel naik 30-60%, jeruk 300-400%, dan anggur 60-100%. Bayangkan kerugian secara ekonominya jika tidak ada serangga yang melakukan penyerbukan.
  4. Pengendali hama
    Tidak semua serangga merupakan hama bagi tanaman. Beberapa serangga justru merupakan predator (pemangsa) hama atau menyebabkan penyakit pada hama. Serangga yang umumny merupakan musuh alami hama adalah laba-laba, sehingga laba-laba yang ditemukan di lahan pertanian sebaiknya dipertahankan. Seekor laba-laba bisa memakan hingga 10 ekor serangga dalam sehari. Serangga yang menjadi mangsanya beragam, di antaranya kutu daun, ulat grayak, kupu-kupu, dan wereng. Serangga lain yang merupakan predator hama adalah semut dan capung.


Grafik yang menunjukkan serangga dan vertebrata yang menurun dan terancam, menurut data IUCN

Penyebab utama kepunahan serangga adalah hilangnya habitat serangga karena pertanian intensif dan urbanisasi. Penyebab lainnya meliputi polusi, khususnya akibat penggunaan insektisida kimia. Seringkali insektisida yang digunakan tidak spesifik menyerang hama tertentu, sehingga ikut membunuh serangga-serangga yang sebenarnya tidak merugikan atau malah menguntungkan. Selain itu, perubahan suhu dan kelembaban akibat perubahan iklim juga  mempengaruhi siklus hidup serangga. (vno)