Login

Tahapan Budidaya Padi di Lahan Rawa

06 Mei 2020 13:44:10 | Berita & Artikel

Kementerian Pertanian masih terus menggalakkan pemanfaatan lahan rawa untuk produksi pangan. Baru sebagian kecil dari 25 juta hektar lahan rawa Indonesia yang dimanfaatkan untuk pertanian. Beberapa jenis tanaman telah diuji untuk hidup di lahan rawa, salah satunya adalah padi. Namun karena, kondisi lingkungan yang berbeda dengan lahan pertanian biasanya, budidaya yang dilakukan berbeda dari budidaya padi pada umumnya. Berikut adalah kegiatan budidaya padi pada lahan rawa.

Pengolahan tanah
Pengolahan tanah pada lahan rawa yang utama adalah membangun pematang. Pematang diperlukan untuk menahan air. Pengolahan tanah ini bisa menggunakan traktor, tapi bisa juga dilakukan secara manual, misalnya dengan mencangkul, asalkan kedalamannya terukur, yaitu sekitar 20 – 25 cm.

Kondisi lain yang perlu diperhatikan pada lahan rawa adalah kemungkinan menumpuknya kandungan logam dalam lahan. Agar kandungan logam ini berkurang atau hilang, drainase perlu dibuat. Saluran ini sebaiknya memiliki lebar 30 cm dengan kedalaman 20 cm, sementara jarak antar saluran air antara 6 – 10 cm.

Lahan juga harus bersih dari gulma. Pembersihan gulma juga harus dilakukan saat lahan belum digenangi air, misalnya pada awal musim hujan atau menjelang musim kemarau saat genangan air surut.

Pemilihan benih
Lahan rawa memiliki kondisi yang berbeda dari lahan sawah. Lahan rawa cenderung memiliki tanah masam dan miskin unsur hara. Beberapa varietas padi yang sesuai untuk lahan rawa lebak adalah Inpari 43, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8, dan Inpara 9.

Meskipun telah menggunakan varietas unggul, kemampuan benih untuk tumbuh tetap harus dipastikan. Caranya dengan meletakkan 100 benih dalam sebuah kain yang lembab. Jika lebih dari 90 butir yang berkecambah maka kualitas benih baik.

Penanaman
Penanaman bisa menggunakan sistem Tanam Pindah (Tapin) dengan sistem tegel,  Jajar Legowo 2 : 1 dan 4:1, atau Tanam Benih Langsung (Tabela). Untuk waktu tanam padi lahan rawa biasanya dilakukan pada antara Oktober hingga awal November atau Maret hingga awal  April.

Penyemaian
Beberapa varietas lokal seperti bayar dan karang dukuh memerlukan persemaian bertahap. Penyemaian dilakukan 3 tahap. Tahap pertama disebut taradak, dimana 5 kg benih padi per hektar dimasukkan dalam lubang tugalan sedalam 5 cm. Jumlah bibit per lubang antara 40-60 butir per lubang. Tahap ini berlangsung 30 – 40 hari. Tahap kedua adalah ampak, dimana hasil dari setiap lubang pada taradak dibagi menjadi 5. Tahap ini memakan waktu 35-45 hari.  Tahap 3 adalah lacak dimana hasil ampak ditanam sejumlah 3-4 bibit per lubang. Tahap lacak kira-kira 50-60 hari.

Penyiangan
Gulma di lahan rawa, terutama saat musim kemarau, tumbuh cepat karena genangan air turun dan suhu menghangat. Pengendalian gulam bisa dilakukan saat padi memasuki usia 21 HST dan 42 HST. Penyiangan harus dilakukan sebelum pemupukan, baik secara manual, mekanis, atau menggunakan herbisida.

Pemupukan
Kandungan unsur hara dalam lahan rawa relatif rendah, sehingga pemupukan sangat penting untuk memastikan tanaman memberikan hasil yang tinggi. Pupuk urea (N) sebaiknya diberikan dalam bentuk urea tablet, urea granul, atau urea briket supaya N lepas lambat. Dosis N yang disarankan adalah 150 – 200 kg per hektar, sedangkan untuk P dan K masing-masing adalah 100 kg  per hektar atau sesuai kondisi tanah.

Genangan air pada lahan rawa tidak menentu.Pemupukan sebaiknya dilakukanmacak-macak, dan jika memungkinkan, pupupk daun bisa ditambahkan.(vno)

Semoga menambah wawasan Anda mengenai budidaya padi di lahan rawa.