Lahan pekarangan merupakan salah satu modal jika ingin berusaha tani dalam skala rumah tangga. Ketersediaan lahan pekarangan di kota besar berbanding terbalik dengan di pedesaan yang masih luas untuk budidaya sayuran. Pemanfaatan lahan secara semaksimal mungkin dapat dilakukan di perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang sempit, atau lahan kosong diperkotaan. Salah satu cara bercocok tanam dilahan yang sempit yaitu dengan cara Hidroponik.
Pada awal tahun 1930 di Berkley California, William Frederick Gericke mempelopori sistem hidroponik. Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Cara ini, hidroponik, sangat efektif digunakan di lahan sempit, tanpa tanah, lebih higienis, dan hasil yang memuaskan.
-
Wick System
Sistem ini merupakan model hidroponik yang paling sederhana, yaitu menggunakan sumbu yang menghubungkan pot tanaman dengan media larutan nutrisi.
-
Nutrient Film Technique (NFT)
Larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC menggunakan pompa dengan teknik resirkulasi.
-
Deep Water Culture (DWC)
Tanaman dibuat mengapung pada larutan nutrisi sehingga akar tanaman terendam terus menerus. Penggunaan pompa hanya untuk menghasilkan oksigen di dalam larutan nutrisi.
-
Drip System
Sistem ini menggunakan 2 (dua) buah kontainer terpisah yaitu bagian atas dan bawah. Kontainer atas untuk tanaman dan yang bawah untuk larutan nutrisi. Larutan nutrisi dipompa naik dan menyiram batang tanaman dan akan larutan sisa akan turun ke kontainer bawah setelah melewati media tanam dan akar tanaman.
-
Ebb and flow systems (Flood and Drain System)
Pengaturannya mirip dengan sistem infus, di mana ada dua kontainer, yang satu di atas berisi tanaman dalam pot dengan substrat dan yang ada di bagian bawah yang mengandung larutan nutrisi. Pemberian nutrisi untuk tanaman dilakukan dengan sistem pasang surut, yaitu bergantian memenuhi kontainer atas dengan larutan nutrisi dan kemudian mengosongkan larutan nutrisi dan kembali ke kontainer bawah.
Keuntungan Hidroponik adalah hemat lahan, pengendalian nutrisi lebih sederhana sehingga nutrisi dapat diberikan secara lebih efektif, tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan, bebas hama, tanaman tumbuh lebih cepat, mudah dalam memanen dan hasil panen nya banyak. Sedangkan kekurangan sistem Hidroponik adalah memerlukan biaya yang besar pada tahap awalnya karena diperlukan alat untuk pembuatan proses intalasi dibutuhkan ketelitian dan ketrampilan khusus. (may)
Sumber gambar : Juknis Hidroponik BPTP Riau Kementerian Pertanian