Login

Volume Ekspor Salak Terus Naik, China Penggemar Terbesar

Dipublikasikan pada 18 Maret 2020 11:10:46

Berita & Artikel

Indonesia patut bersyukur berada di garis khatulistiwa. Iklim tropis memberi kondisi yang layak bagi beragam buah eksotis tumbuh di Indonesia. Mengicipi buah-buahan eksotis menjadi salah satu agenda wisata para turis mancanegara, khususnya mereka yang berasal dari negara dengan 4 musim.

Salah satu buah eksotis yang naik pamor beberapa tahun belakangan ini adalah salak. Buah tropis asli Indonesia ini memiliki kulit yang bersisik seperti ular, sehingga dalam Bahasa Inggris, salak dikenal dengan sebutan snake fruit atau buah ular. Daging buahnya yang berwarna putih kekuningan, tekstur buahnya yang renyah seperti apel dan kesat, dengan rasa manis dan sedikit asam, membuatnya mudah disukai oleh masyarakat dari banyak negara.

Salak menjadi salah satu buah andalan untuk ekspor. Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor salak terus bertambah. Ekspor salak tahun 2019 sebesar 1651 ton, atau naik sekitar 25% dari tahun sebelumnya.



Selama belasan tahun, China menjadi negara terbesar pengimpor salak asal Indonesia. Dalam pedoman sertifikasi salak untuk ekspor yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian, disebut bahwa ekspor salak ke China mencapai 80% dari total volume ekspor. Salak Indonesia juga berhasil memasuki pasar di beberapa negara lainnya, khususnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Saudi Arabia, serta kawasan Eropa, antara lain Belanda, Jerman, dan Inggris.

Kulit buahnya membuat salak tidak mudah terserang hama, memberi sedikit kemudahan untuk memenuhi persyaratan masuk ke negara tujuan. China sendiri mensyaratkan beberapa ketentuan lain supaya salak bisa masuk ke negaranya. Di antaranya adalah ketentuan untuk menerapkan praktek pertanian yang baik dan tingkat kematangan buah harus antara 60 – 80%.

Salak cukup disukai di China karena dipercaya mampu meningkatkan stamina. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Science Direct  tahun 2018 menyebutkan bahwa aktivitas antioksidan salak lebih tinggi daripada manggis dan mangga.

Produksi salak Indonesia sangat fluktuatif, namun jika melihat produksi sejak tahun 2009, terlihat ada tren naik meski tidak terlalu tajam. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun 2018 produksi salak nasional sebesar 896.504 ton. Hampir separuh dari angka tersebut berasal dari Jawa Tengah, disusul dengan Sumatera Utara, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Indonesia memiliki banyak varietas salak, namun yang saat ini paling populer adalah salak pondoh dan salak bali.



Tantangan utama ekspor salak adalah buah yang mudah busuk. Oleh karenanya negara-negara importir justru menginginkan salak yang belum matang sempurna, karena harus mempertimbangkan lama pengiriman. Cara pengemasan dan penyimpanan juga berperan penting untuk memperpanjang masa simpan. Selain itu, karena buah ini sangat unik bagi orang-orang di luar Indonesia, edukasi tentang bagaimana cara mengupas dan memakan buah ini menjadi bagian penting saat menjajaki pasar ekspor.(ssi)