Login

Ciplukan, Sering Dianggap Gulma Tapi Memiliki Banyak Nutrisi

Dipublikasikan pada 12 Maret 2020 11:44:40

Berita & Artikel

Physalis Angulata atau biasa disebut juga ciplukan, merupakan tumbuhan yang berasal dari kawasan tropis Amerika Latin, yang kemudian tersebar luas ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Ciplukan adalah tumbuhan monokotil yang hidup satu musim. Di Indonesia tumbuhan ini dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda disetiap daerah. Di Sunda cilukan dikenal dengan nama cecenet, lelelep (Sumatra), keceplokan (bali), nyornyoran (Madura), dan masih banyak lagi sebutannya, tergantung di daerah mana tumbuhan ini tumbuh.

Di Indonesia, ciplukan kerap dijumpai di daerah persawahan, pinggir kebun hingga di tepi hutan. Tumbuhan ini memiliki batang yang berongga dan bercabang-cabang, serta memiliki tinggi maksimal 1 meter saja. Daunnya memiliki bentuk yang oval dengan ujung yang runcing. Tumbuhan ini juga memiliki bunga yang berada di bawah daun, memiliki 5 kelopak,  mahkota yang ber bentuk lonceng, kepala sari berwarna biru mudah, benang sari berwarna kuning dan memiliki buah. Adapun buah ciplikan terbungkus oleh kelopak bunga yang membesar dan menggelembung. Ciplukan mempunya buah yang berukururan 1,5 hingga 2 cm yang berbentuk bulat memanjang. Jika sudah masak, buahnya akan berwarna kuning, berserat lembut dan memiliki rasa  manis serta rasa asam.

Tumbuhan yang kerap dianggap sebagai gulma, ternyata memiliki kandungan nutrisi seperti asam malat Asam malat, alkaloid, kalori, karbohidrat, protein, lemak, riboflavin, niasin, zat besi, fosfor, vitamin A, dan vitamin C. Bahkan vitamin C dari buah ciplukan lebih tinggi dibandingankan anggur. Banyaknya kandungan nutrisi yang terdapat dalam ciplukan akan memberikan banyak manfaat bagi kesehatan seperti:

Selain kaya manfaat ciplukan ternyata mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi.  Menurut Jurnal yang dipublikasikan oleh Agricore UNPAD pada tahun 2009, Kolombia melakukan ekspor ciplukan ke beberapa negara di Eropa dan Amerika. Harga pasar ekspor ciplukan saat itu mencapai US$ 3805 per ton. Berikut adalah daftar negara-negara pengimpor.



Sementara di negara tetangga seperti Brunei Darussalam harga buah ciplukan  Rp9.250 per buah dan di Malaysia 10 buah seharga Rp110.000. ucap Ely Sofa Suparjo dalam trubus-online 2017.

Pada 3 Oktober 2018, Juwita Kuswara seorang pembudidaya sekalian pembisnis buah ciplukan di Sumedang Jawa Barat mengaku memasang harga RP 20.000 per 100 gramnya. Juwita memasarkan hasil budidayanya melalui media online, mini market, supermarket dan pasar swalayan ucap juwita dalam acara Live TransTv (bay).