Mungkin banyak orang belum begitu mengenal atau bahkan belum tahu sama sekali dengan salah satu komoditas pertanian yang sedang viral bernama Porang. Porang adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Porang ditemukan di Kepulauan Andaman India yang kemudian menyebar ke arah Timur melalui Myanmar yang kemudian masuk ke Thailand dan Indonesia. Produk utama dari tanaman porang yaitu umbi yang terbagi atas dua macam yaitu umbi batang yang berada di dalam tanah dan umbi tetas / bubil yang ada ditiap pangkal cabang atau tulang-tulang daun yang mengandung biji. Umbi terdiri atas bagian kulit dan daging Umbi. Nah, biasanya daging umbilah yang kemudian diolah menjadi tepung porang.
Filipina merupakan salah satu negara yang menggunakan tepung porang sebagai pengganti terigu dan bahan baku roti. Selain digunakan sebagai bahan baku dalam makanan, porang juga memiliki manfaat lain terutama di bidang industri dan kesehatan seperti bahan baku kosmetik, tekstil, penjernih air, pembuatan lem ramah lingkungan, jelly, cat, kain katun, pengilap kain, pembuatan komponen pesawat, hingga pembersih air. Dari berbagai wilayah di Indonesia, pulau Jawa khususnya Jawa Tengah hingga Jawa Timur menjadi kawasan yang paling fokus mengembangkan porang.
Budidaya porang tidak terlalu sulit karena pada dasarnya porang tumbuh dengan liar. Secara fisik tanaman porang dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 1,5 meter dengan batang bercorak belang-belang hijau putih. Porang ditanam pada ketinggian 0-700 mdpl dengan tingkat toleran naungan hingga 60%, sehingga sangat dimungkinkan untuk dibudidayakan di lahan hutan dibawah naungan tegakan tanaman lain seperti Jati dan Mahoni Sono.
sumber :instagram.com/porang_jaya
Penanaman porang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu vegetatif (umbi) dan generatif (biji, bulbil). Di awal, perbanyakan porang dapat dilakukan secara generatif yaitu dengan memilih bibit dari bupil untuk ditanam. Setelah itu, tanaman porang dapat dipanen untuk pertama kali setelah berumur 3 tahun, sebelum dapat dipanen tiap setahun sekali. Saat panen hanya umbi besar dengan berat diatas 1kg yang diambil, sedangkan umbi kecil ditinggalkan untuk dipanen ditahun berikutnya. Dalam melakukan pemanenan perlu kehati-hatian karena getah umbi dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit. (kls)