Ubi ungu sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, sedangkan taro merupakan salah satu bahan makanan yang umumnya digunakan dalam makanan Jepang. Ketika makanan Jepang menjamur di Indonesia, begitu pula dengan olahan taro. Karena hasil olahannya berwarna sama, ubi ungu seringkali diterjemahkan sebagai taro. Padahal keduanya sangat berbeda. Simak beberapa perbedaannya berikut ini.
Bentuk
Baik ubi ungu dan taro umumnya berbentuk lonjong. Bedanya, kedua ujung ubi ungu meruncing, sedangkan pada taro, bagian bawahnya cenderung lebih bulat. Pada bagian atas taro, tumbuh daun yang mirip daun talas. Saat dijual, daun ini biasanya sudah dipotong, menyisakan pangkal daun yang tebal pada taro.
Kulit
Ubi ungu memiliki kulit halus dan lunak, sedangkan kulit taro keras dan kasar. Permukaan taro memiliki semacam ruas-ruas.
Warna
Meskipun hasil olahannya sama-sama berwarna ungu, ternyata daging mentah berbeda. Daging ubi ungu berwarna ungu tua, sedangkan taro biasanya berwarna putih dengan titik-titik berwarna ungu.
Rasa
Dibandingkan taro, ubi ungu memiliki rasa yang lebih manis. Rasa manis ini menjadi alasan utama penggunaan ubi ungu sebagai bahan utama berbagai olahan pangan mulai dari kue, mochi, es krim, hingga dikonsumsi dalam bentuk ubi rebus. Sedangkan taro memiliki lebih hambar. Karena rasanya yang hambar, taro lebih fleksibel untuk dikombinasikan dengan bahan makanan lainnya.
Cara mengolah
Ubi ungu dapat diolah dengan cara yang sangat sederhana, misalnya dikukus atau direbus. Sebelum dikukus atau direbus pun, ubi ungu hanya perlu dicuci sehingga bebas dari tanah. Dibandingkan dengan ubi ungu, pengolahan taro harus lebih hati-hati, karena taro memiliki getah yang dapat menyebabkan gatal-gatal. Saat mengupas taro, sebaiknya gunakan sarung tangan. (vno)