Login

Ranah Kopi Temanggung Standarisasi Kopi Sejak Pemetikan

Dipublikasikan pada 20 Desember 2019 00:00:00

Berita & Artikel

Koperasi Ranah Kopi Temanggung adalah salah satu koperasi petani kopi yang ada di Temanggung yang sudah berdiri selama setahun dan mencakup 3 kecamatan di Temangung yaitu kecamatan Kedu, Temawan dan Ngadirejo.

”Latar belakang berdirinya Koperasi Ranah Kopi Temanggung ini untuk standarisasi pengolahan pasca panen sehingga muncul harga yang pas bagi petani dan meningkatkan kesejahteraan petani” kata Nur Saud selaku salah satu penggagas Koperasi Ranah Kopi Temanggung di sela-sela acara Festival Desa Lestari pada 15 Desember 2019 di The Park Mall, Sukoharjo.

Proses standarisasi yang dilakukan Koperasi Ranah Kopi Temanggung ini dimulai dari proses pemetikan,dimana biji kopi yang dipetik harus yang berwarna merah saja kemudian biji kopi yang sudah dipetik segera diolah, maksimal 6 jam harus sudah diolah. Untuk proses penjemuran menggunakan tempat semacam greenhouse. Selain agar kualitas kopi terjaga proses standarisasi tersebut juga menambah harga jual. Menurut Nur Saud, harga biji kopi petik asalan hanya sekitar Rp21.000,- sampai Rp22.000,- sedangkan di koperasi harga mencapai Rp45.000,- karna sudah melewati proses standarisasi.

Selain melakukan proses standarisasi koperasi ini juga menampung hasil panen kopi dari anggotanya untuk kemudian didistribusikan. Untuk distribusi penjualan atau market koperasi sudah menjalin kerjasama dengan beberapa coffeeshop, untuk pemasaran yang lebih luas koperasi ini memanfaatkan media sosial dan beberapa pasar online. Selain itu Koperasi Ranah Kopi Temanggung juga memiliki outlet sendiri bernama Omah Kopi Waloeh dimana pembeli bisa langsung mencoba kopi yang diproduksi. Pengembangan produk dari Koperasi Ranah Kopi Temanggung dari sebelumnya hanya menjual greebean kini mulai menjual rosebean dan bubuk kopi. Salah satu produk terbarunya adalah kopi dengan kemasan drybag dimana kopi dalam kemasan tersebut memiliki saringan sehingga kopi tinggal diseduh. Nur Saud mengatakan omset perhari dari Koperasi Ranah Kopi Temanggung mencapai 1-2 juta rupiah perhari.

“Tantangan yang dihadapi Koperasi Ranah Kopi Temanggung itu di bagian permodalan dimana koperasi belum mampu membeli cherry dari petani untuk menghasilkan greenbean. Rata-rata harga cherry untuk robusta Rp7000,- perkilo, sedangkan untuk menghasilkan 1kg greenbean robusta membutuhkan 4kg cherry. Hitung aja kalo misal kita produksi 4 ton greenbean kita butuh sekitar 16 ton cherry kalo dikali 7ribu udah berapa ratus juta modal awal yang diperlukan.Untuk mengatasi tantangan itu ya  koperasi hanya mengolah kopi yang dibawa petani untuk diolah sesuai standar,petani tinggal menerima hasil olahan yang sudah kering dan siap jual” kata Nur Saud.

Nur Saud berharap dengan adanya Koperasi Ranah Kopi Temanggung ini petani dapat melakukan pengolahan kopi pasca panen dengan mandiri sehingga nilai jualnya akan bertambah dan meningkatkan kesejahteraan petani. (hps)